close
Nuga Tekno

Tombol Android Kini Bisa Jadi Security

Google dilaporkan akan makin memudahkan pengguna Android untuk melakukan verifikasi dua langkah (two-step verification).

Jadi, pengguna Android tujuh Nougat dan versi ke atas dapat memakai tombol fisik di perangkatnya untuk melakukan verifikasi saat masuk akun Google.

Dikutip dari Engadget, fungsi ini dapat digunakan, saat pengguna Android ingin masuk ke akun Google dari peramban Chrome.

Dengan fitur ini, Google memungkinkan pengguna menekan tombol volume di perangkat Android miliknya untuk melakukan verifikasi proses log-in.

Namun sebelum memakainya, pengguna harus mengaktifkan fitur ini terlebih dulu. Fitur ini kompatibel dengan peramban Chrome di perangkat Chrome OS, macOS, dan Windows 10.

Setelah itu, pengguna harus memastikan bahwa perangkat yang menjalankan peramban Chrome sudah mendukung Bluetooth. Lalu, pengguna tinggal mengaktifkan two-step verification.

Nantinya, fitur ini akan bekerja untuk akun Google standar dan bisnis. Meski bukan satu-satunya metode baru, tapi cara ini jelas membantu pengguna untuk log-in lebih cepat di akun Google miliknya.

Sebelumnya, Google baru saja merilis laporan tahunan keamanan dan privasi dari platform-nya. Dalam laporan ini, perusahaan raksasa mesin pencari itu menyebut secara keseluruhan kesehatan ekosistem Android telah meningkat.

Meski meningkat, persentase unduhan aplikasi yang berpotensi berbahaya ternyata naik. Data menunjukkan, jumlah unduhan aplikasi itu naik menjadi nol koma nol empat persen pada tahun lalu, dari sebelumnya nol koma dua koma nol persen pada dua tahun silam.

Namun, Google menyebut jumlah aplikasi berpotensi berbahaya secara keseluruhan naik ini disebabkan fraud sekarang dimasukkan dalam PHA.

“Jika kami menyingkirkan jumlah klik fraud dari statistik ini, data menunjukkan PHA di Google Play turun tiga puluh satu persen dari tahun ke tahun,” tulis laporan seperti dikutip dari Engadget

Laporan itu juga menyebut, pemasangan PHA di perangkat Android sudah menurun. Pada tahun lalu, jumlah PHA yang terpasang di perangkat Android hanya nol koma empat puluh lima, empat puluh lima persen, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai nol koma lima puluh enam persen.

Program Google Play Protect juga diklaim berhasil mencegah  satu koma enam  juta PHA yang berasal di luar Google Play. Namun, Google tidak mengungkap detail jumlah pemasangan PHA dari Google Play.

Perlu diingat, upaya Google untuk melindung ekosistem di Android memang tidak mudah. Oleh sebab itu, perusahaan merilis program Google Play Protect pada tahun lalu untuk memindai lebih dari lima puluh juta juta miliar aplikasi per hari.

Raksasa internet juga sempat melakukan sejumlah peningkatan kemampuan program Google Play Protect pada ahun lalu Ketika itu, Google meningkatkan kemampuan machine-learning dari sistem tersebut.

Terlepas dari hal itu, berdasarkan laporan yang dilakukan oleh perusahaan pengujian antivirus, AV-Comparative via ZDNet, dua pertiga dari  dua ratus lima puluh  aplikasi antivirus Android yang diuji ternyata abal-abal atau palsu.

Untuk membuktikan kemampuan antivirus tersebut, perusahaan mengujinya dengan memasukkan malware ke dalam perangkat untuk melihat apakah aplikasi dapat mendeteksi dan mengatasinya.

Dari dua ratus lima pulu aplikasi yang diuji dengan malware tersebut, hanya delapan puluh yang mampu mendeteksi dan mengatasinya.

Namun demikian, kedelapan puluh aplikasi itu hanya dapat mendeteksi lebih dari tiga puluh persen dari malware, yang berarti hal tersebut sedikit berhasil.

Perusahaan juga menemukan, beberapa aplikasi ini tidak mampu menandai malware. Alih-alih, aplikasi hanya mengandalkan informasi malware yang sudah terdaftar.

Ini berarti, beberapa malware hanya terdeteksi berbahaya jika namanya muncul di dalam daftar program berbahaya yang tersimpan di dalam aplikasi antivirus abal-abal tersebut.

Tak hanya itu, mereka juga menemukan fakta sejumlah aplikasi yang tidak berfungsi ini dibuat oleh programmer yang sama.