close
Nuga Life

Sehatkan Kulit dengan Puasa Kosmetik

Berpuasalah menyapukan kosmetik ke kulit!!

Itulah anjuran yang ditulis oleh laman situs “womens health,” dalam edisi terbarunya, Jumat, 11 Maret 2016.

Lantas, mengistirahatkan kulit dari menggunakan kosmetik ternyata memiliki banyak manfaat.
Salah satunya menurunkan kadar zat kimia berbahaya.

Berbagai zat kimia memang ditemukan dalam produk sehari-hari.

Produk perawatan kulit, termasuk make up, parfum, produk rambut, dan juga tabir surya, merupakan produk yang mengandung banyak zat kimia.

Termasuk di dalamnya platalet, paraben, triklosan, dan oxybenzon, yang bisa mengganggu sistem hormonal.

Gangguan pada hormonal itu bisa menyebabkan ketidakseimbangan dan juga masalah terkait dengan saraf, bahkan juga memicu berbagai penyakit.

Peneliti dari Universitas California, Berkeley, melakukan riset untuk mengetahui berapa lama zat kimia tersebut bertahan dalam tubuh.

Kemudian mereka meminta seratus responden untuk berhenti menggunakan kosmetik dan produk perawatan tubuh selama tiga hari.

Melakukan Puasa memakai produk perawatan tubuh ternyata bisa menurunkan level zat kimia pengganggu hormon.

Dalam contoh urine yang diambil sebelum dan setelah detoks tersebut diketahui ada penurunan propyl paraben.

“Penurunan level zat kimia setelah tidak memakai produk-produk itu setelah tiga hari merupakan cara mudah yang bisa kita lakukan untuk membuat perbedaan,” kata Maritza Cardenas, peneliti.

Padatnya aktivitas membuat tubuh mudah berkeringat, bahkan menghasilkan keringat berlebih setiap hari.

Tak dimungkiri, hal tersebut dapat menimbulkan bau badan tak sedap yang membuat seseorang tak percaya diri tampil di tengah-tengah publik.

Pasalnya, orang-orang di sekitar akan tak nyaman.

Untuk mengatasi kondisi tersebut mereka memilih memakai deodoran atau antiperspiran di ketiaknya.

Namun demikian, mungkinkah cara mudah tersebut mampu mengubah ekosistem di ketiak seseorang?

Penelitian terbaru menjawabnya dengan positif dan menunjukkan bahwa orang yang memakai antiperspiran akan memiliki perbedaan signifikan di ketiaknya dengan yang tidak memakai antiperspiran.

Julie Horvath, seorang genomisis evolusi yang telah melacak genom manusia dan primata membutuhkan waktu selama satu bulan untuk meneliti.

“Saya sangat tertarik mengetahu segala sesuatu tentang ketiak,” tuturnya seperti dikutip Sidney Morning Herald.

Pada tubuh manusia dan primata, ketiak merupakan bagian yang paling nyata berpotensi menjadi tempat evolusi bakteri.

Karena di situlah mereka akan terlindung dari unsur-unsur lainnya. Mereka berada di tempat yang mikroba dapat dengan bebas menyebar.

Dan di ketiaklah terdapat kelenjar yang mampu menghasilkan paling banyak bau.

Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Peer, Horvath dan rekannya menganalisis mikroba yang hidup di dalam ketiak dari kelompok yang terdiri dari tujuh belas ilmuwan.

Selama delapan hari mereka bekerja dengan tiga kelompok yang terdiri dari pengguna antiperspiran, pengguna deodoran, dan mereka yang tidak menggunakan produk apapun di ketiaknya.

Ketiak mereka pun masing-masing diusap sebanyak dua kali sehari.

Namun, pada hari ke-dua sampai ke-enam, peserta diminta untuk pergi tanpa menggunakan produk apapun di bawah lengan mereka. Dan pada hari ke-tujuh dan ke-delapan peserta diminta menggunakan antiperspiran.

Berbekal penyeka ketiak basah, peneliti kemudian menganalisis DNA para partisipan.

Mereka pun akhirnya menemukan bahwa koloni mikroba yang hidup di bawah lengan orang yang berhenti menggunakan deodoran dan antiperspiran meningkat secara dramatis.

Di samping itu, ditemukan pula bahwa antiperspiran bekerja lebih baik untuk membunuh bakteri di ketiak karena produk tersebut benar-benar menghalangi kelenjar keringat.

Walau demikian, peneliti kaget melihat hasil yang begitu berbeda setelah melihat ketiak seseorang yang telah berhenti memakai produk tersebut selama beberapa hari.

Ketiak dari kelompok kontrol tadi sendiri terdapat campuran sekitar enam puluh dua persen Corynebacteria.

Bakteri inilah yang paling bertanggung jawab atas bau badan seseorang.

Mereka memakan keringat manusia dan memetabolisme itu, kemudian menciptakan gas yang oleh hidung manusia cenderung ditafsirkan sebagai bau.

Dua puluh satu persen mikroba di ketiak subjek penelitian tadi berasal dari keluarga Staphylococcaceae dan sisanya adalah jenis bakteri lain.

Sebaliknya, ketiak pengguna antiperspiran justru mengandung lebih dari enam puluh persen Staphylococcaceae setelah mereka berhenti menggunakan produk tersebut.

Hanya terdapat empat belas persen Corynebacteria dan lebih dari dua puluh persen dari jenis bakteri lain.

Di samping itu, Horvath menganggap kebiasaan harian jugalah yang memengaruhi mikroba yang hidup di tubuh kita.

Hanya ada satu alasan seseorang suka berkeringat, yakni ketika berolah raga. Tapi kalau menghadapi presentasi besar, kencan pertama, atau wawancara kerja, itu bisa jadi masalah besar.

Tubuh berkeringat adalah hal yang normal.

“Kita berkeringat untuk membantu mengatur suhu tubuh,” ujar Debra Jaliman M.D., asisten profesor dermatologi di Icahn School of Medicine di Mount Sinai.

“Keringat memungkinkan tubuh mendingin melalui penguapan.”

Semuanya, dari stres hingga terik matahari dapat meningkatkan suhu inti Anda, sehingga tubuh bereaksi dengan cara berkeringat.

Jika keringat menyebabkan Anda stres dan malu, mulailah dengan menaikkan kelas deodoran dari yang Anda gunakan sekarang. “Pasien dapat mulai dengan deodoran yang punya ‘kekuatan klinis’,” demikian disarankan dokter kulit David E. Bank, M.D., asisten profesor dermatologi Columbia Presbyterian Medical Center, dan penulis Beautiful Skin: Every Woman’s Guide to Looking Her Best at Any Age.

“Deodoran yang dispesialisasikan untuk keringat berlebih dan deodoran yang sebelumnya harus dengan resep dokter sudah beberapa tahun beredar di pasar dan terbukti efektif digunakan sehari-hari bagi banyak orang dengan keringat berlebih.”

Tags : slide