Harga Emas Kembali Mengalami Tekanan

Penulis: Darmansyah

Rabu, 9 Januari 2019 | 08:55 WIB

Dibaca: 1 kali

Harga emas dalam pembukaan perdagangan pekan ini, Rabu, 09 Januari, mengalami tekanan menyusul pembicaraan perdagangan global antara Amerika Serikat dan Cina.

Sehari, Selasa, 08 Januari, sebelumnya harga emas sempat berkibar di posisi tertingginya selama enam bulan terakhir.

Seperti ditulis laman keuangan “bloomberg,” Rabu pagi WIB,  harga emas turun pada perdagangana Selasa karena nilai tukar dolar AS sedikit pulih dari posisi terendah.

Selain itu, sentimen lain penekan harga emas adalah kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dengan China yang membuat instrumen emas kurang menarik.

Harga emas di pasar spot tergelincir setengah  persen per punce pada tengah hari waktu New York. Sedangkan harga emas berjangka AS juga  terjun dalam posisi yang sama.

Indeks dolar naik nol koma dua persen terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya, setelah jatuh ke level terendah sejak  Oktober di sesi sebelumnya.

“Saat ini dolar AS tengah pulih, yang merupakan salah satu alasan harga emas lebih rendah,” kata analis ABN AMRO Georgette Boele.

“Pada saat yang sama, pasar gelisah menjelang diskusi yang terjadi antara AS dan China.” lanjut dia.

Pasar saham juga diperdagangkan lebih tinggi karena investor mengantisipasi pembiaraan perdagangan antara China dengan AS.

Faktor lain yang mendoronng pelemahan harga emas adalah rencana Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) akan menghentikan pengetatan kebijakan moneternya jika pertumbuhan ekonomi melambat juga mendorong penguatan harga emas.

Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh angka USD 1.300 per ounce pada pekan lalu.

Sayangnya, pada Jumat lalu harga emas kembali melemah yang salah satu penyebabnya adalah aksi jual investor.

Mengutip Kitco,, harga emas mengalami tekanan di akhir pekan lalu karena aksi jual investor setelah membaiknya data-data ekonomi Amerika Serikat (AS).

“Sebenarnya harga emas telah menjalani laju yang sangat baik pada pekan lalu dengan menuju USD 1.300 per ounce. Namun laporan tenaga kerja membuat komoditas tersebut langsung tertekan,” jelas analis Mitsubishi Jonathan Butler mengatakan kepada Kitco.

Laporan tenaga kerja AS yang terbaru menunjukkan bahwa terdapat lapangan kerja baru pada Desember . Angka tersebut jauh di atas konsensus analis dan ekonomi .

Sedangkan untuk pendapatan rata-rata per jam juga mengalami peningkatan sebesar  sebelas sen atau kurang lebih nol koma empat persen.

“Dengan sinyal-sinyal ekonomi yang kuat tersebut membuat banyak orang yakin bahwa Bank Sentral AS atau the Federa Reserve tidak akan mengubah rencana kenaikan suku bunga,” kepala strategi global TD Securities, Bart Melek.

Untuk pekan ini para analis memperkirakan bahwa masih ada kemungkinan harga emas akan kembali ke level  terbaiknya per ounce. Ada banyak alasan yang mendasarinya.

Direktur RBC Wealth Management George Gero mengatakan, volatilitas yanag cukup besar di saham, kekhawatiran akan Brexit, politik di AS dan kekhawatiran perlambatan global semua berkontribusi pada kinerja emas yang lebih baik.

“Meskipun ada kemungkinan kenaikan suku bunga akan sedikit ditahan sepertinya tidak akan membuat investor menghindari emas,” kata Gero.

Komentar