close
Nuga Life

Mungkin Ia Sudah Kompol

Namanya Rezeki Revi Respati. Seorang anggota polri. Pangkatnya ketika saya terakhir bertemu masih ajun komisaris polisi.  Akp. Seperti tertera di amplop yang……

Kalau di ketentaraan akp itu setingkat kapten. Pangkat akp itulah yang disandangnya hari kedatangan saya. Entah kalau sekarang. Mungkin saja sudah komisaris polisi-kompol. Yang setara mayor diketentaraan.

Kalau dalam kestrukturan di kepolisian kepangkatannya itu berada di level jabatan kapolsek. .

Tapi Respati, begitu saya menyapanya, tidak dalam posisi struktural jenjang jabatan itu. Posisi penempatan kerjanya elitis.

Kalau digabung dalam satuan kalimat tempat kerjanya akan menuai kata ups…. : direktorat reserse dan kriminil kepolisian daerah metro jaya.

Anda tentu nggak perlu di kasih tahu elitisnya kerjaan reserse plus kriminil di kepolisian, Apalagi di ditreskrim polda metro jaya.

Kepolisian daerah yang wilayah kerjanya menarabas  provinsi tetangga. Tidak hanya lima wilayah di Jakarta : pusat, utara, selatan, timur dan barat plus kepulauan seribu.

Tapi juga menjangkau bekasi, tangerang dan depok. Non bogor. Makanya ia tidak bernama polda jabodetabek. Cukup metro jaya. Begitu pemahaman saya sejak dulu tentang polda yang satu ini.

Pemahaman tentang jakarta sebagai kota nomor satu, dua, tiga…. hingga ketujuh dalam banyak hal. Kota kedelapannya yang saya tahu adalah bekasi…  yang kesembilan milik Surabaya dan sepuluhnya Medan..

Yang saya sebut Jakarta kota nomor satu hingga ketujuh itu adalah dalam hal seluruhnya. Bukan hanya ekonomi dan keuangan. Tapi juga dalam putaran reserse dan kriminalnya. Kriminal semuanya.

Kriminal dalam arti kejahatan ruang lingkup pidana maupun ekonomi serta keuangan. Anda pasti tahulah bagaimana pergerakan angka-angkanya.

Dan Rezeki Revi Respati…. saya ulang…. Rezeki Revi Respati… ada disana sebagai bagian satuan kerjanya.

Kini ia menjabat kanit harda di rumah besar ditreskrim polda metro jaya. Saya nggak tahu besok ia akan melompat atau naik tangga untuk posisi lebih atas.

Di posisi kanit harda saja saya bisa mendehem. Mendeham setelah berbincang dengan seorang anak muda di sebuah kantor konsultam hukum.

“Wooww…,” katanya. sembari melanjutkan dengan sebuah senyum. Senyum yang nggak perlu saya todong jawabannya. Yang saya tahu apa arti senyumnya anak muda itu.

Maklum aja, jejak jurnalistik saya kan pernah bersinggungan dengan institusi itu. Institusi kepolisian. Kala masih jadi preman di sebuah media prestise Jakarta yang mengedepankan asas investigasi dengan progresnya report.

Namun begitu, untuk era kepolisian sekarang saya nggak tahu bagaimana jenjang jabatan di rumah besar yang Respati tinggali. Saya hanya dibisikinya dengan kalimat: “alhamdulillah….saya dipercaya mengisi job kompol.”

Yang ia lanjutkan: “ini amanah dan doanya ya om.” Dan saya mengangguk. Ada ketakziman bersemayam di kalimat dengan nada rendah itu. Kerendahan hati.

Bisikan itu di respon akar serabut otak kiri dan otak kanan saya. Akar serabut yang menyatu dan mengiyakan ocehannya.

Ocehan tentang naiknya banyak anggota kepolisian di sana tanpa dihambat Angkatan lulusannya.

Angkatan yang sering menjadi patokan untuk mengerek jamaah lulusan.

Termasuk juga Ferdy Sambo yang melejit sebagai kadiv propam dengan bintang dua dipundaknya melewati angkatannya. Hanya kecelakaan ambisius yang menyebabkan ia terjerembab.

Kalau nggak …. Entahlah. Jawab sendiri

Ketika membisiki kalimat tentang posisi kepangkatan di jabatan kanit itu saya terkejut ketika ia menukar sapaan untuk saya dengan sebutan om.

Padahal sebelumnya ia takzim menyapa dengan “bapak.” Apa mungkin karena face dan profil saya yang menyebabkan ia mengubah sapaan itu. Profil gaek yang masih tren dengan gaya now.

Entahlah juga… “hancuuurrr”  Itu gumam yang soraki terhadap diri sendiri. Sorak khas untuk tokoh asep dalam sinetron “dunia terbalik.”

Saya hanya mengangguk terhadap perubahaan panggilan itu.

Mengangguk di sebuah ruang gedung ditreskrim. Anggukan untuk perjalanan karir menanjak seorang anak muda usia pertengahan. Usia tiga puluh lima tahun. Anak muda dengan pangkat akp.

Yang ia timpali dengan kata gayung bersambut bahwa usianya itu belum mencukupi setengah  dari tahun perjalanan kefanaan saya.

Dalam ruang itu Respati banyak membuka tabir tentang dirinya. Jenjang pendidikannya. Jenjang pendidikan seorang akp dengan gelar sarjana ilmu kepolisian, sarjana hukum dan master of sains dari universitas Indonesia. Sik, sh dan M Si.

Saya berupaya menyimak takzim apa yang dia rangkai di pertukaran pembicaraan itu. Menyimak tentang ke-alumnian-nya di perguruan tinggi  prestiseus.

Takzim terhadap prestasi cumlaude ber ipk nyaris sempurna, Tiga koma sembilan untuk angkatan dua puluh empat. Dan tidak mudah bagi mereka yang membagi waktu dengan tugas menggapai nilai ipk itu

Yang kemudiannya kami masuk ke wilayah perbincangan abu-abu. Perbincangan privacy. Yang saya tahu batasannya: untuk tidak di tulis.

Batasan yang dulu menjai bagian dari pendulum lewat kata-kata “off the record.” Batasan kata-kata yang nggak berlaku di era sekarang. Era digital. Era media sosial yang telah mencampakkan etika ke tong sampah

Ya….  saya tak tahu apakah di suatu hari kelak, entah kapan,  kalau masih ketemu lagi predikat kesarjanaannya sudah tuntas pada strata tiga.

Seorang Respati di kepolisian dengan gelar doktor ilmu hukum.. Dan ketemu lagi dengan semaian pecahan melati dalam bentuk bintang beralaskan tatahan berwarna kuning dipundaknya. Insya Allah……

Ya… jalan itu masih panjang.

Sepertinya panjangnya saya mencari trahnya dengan meminjam ucapan orang lain. Trah sebuah rumah panjang. Rumah panjang benaran. Di negeri saya.

Rumah panjang yang diceritakan anak turunannya kepada saya dengan taklimat sederhana. Anak turunan yang menjadi “orang.” Yang Respati termasuk buyut dari rumah panjang itu sendiri,

Rumah panjang yang tatahannya mengejakan kepada saya banyak nama. Nama patih Mak Syam, pak Amat guru, ustaz Manap dan banyak lagi kalau menyebut anak turunannya.

Anak turunan tombo Respati yang menyebar hingga ke ujung donya. Seperti yang dikatakan seorang “adun” kepada saya.  Menyebar hingga ke Toronto di Kanada.

Bahkan sebuah postingan whatsapp yang hinggap handphone saya dua pekan lalu memberitahu tentang telah berpulang seorang anak “rumah panjang” di Semarang. Anak rumah panjang dengan nama Hasbi.

Hasbi Ahmad. Hasbi yang pernah saya sambangi di dua kesempatan saat ia menaklukkan bumi Boyolali sebagai seorang bupati, Saya sambangi sebagai jurnalis.

Jurnalis yang menulis profilnya secara round up. Round up karena ada seorang anak dari “nagari batuah” sana menjadi bupati di tanah jawa,

Yang kasus Hasbi sebagai penakluk hampir tidak mungkin terulang di hari-hari ini. Hari ini yang banyak mulut bersinyinyir menjadikan identitas sebagai barang dagangan.

Untuk melengkapi tentang trah  Respati ini saya meminjam mulut seorang adik. Yang dengan gontai mengatakan,”umak inyo kawan ambo. Kami kan samo-sami bini pejabat.”

Saya hanya tergelak celoteh sang adik. Celoteh tentang trah ibu Respati. Hajah Efrida Soetan. Yang disapa dengan si Ef dan berumah di Jambo Apha. Rumah panjang yang terkenal itu.Terkenal karena melahirkan banyak tokoh.

Dari sana juga saya tahu tentang sahihnya ia sebagai anak tunggal. Anak tunggal dari perkawinan Riswan Ns dengan Efrida. Riswan dari Awe Kecil di Teupah Barat, Simeulue.

Riswan yang merintis karir sebagai aparatur sipil negara di Aceh Barat sebelum Simeule menjadi belahan kabupatennya hingga menjadikannya sebagai bupati di sebuah periode sepuluh tahun silam.

Ya… Riswan yang sudah berpulang dimasa negeri ini diamuk pandemi dua tahun silam…. Semoga khusnul khatimah….Amin…