Mencoba Yogurt Untuk “Diabetasi”

Penulis: Darmansyah

Minggu, 9 Februari 2014 | 14:26 WIB

Dibaca: 4 kali

Yogurt. Asupan ini menjadi pilihan bagi para “diabetes,” para penderita diabet, yang dianjurkan. Apakah betul?

Situs kesehatan “healthday.com,” dalam sebuah artikel terbarunya tidak secara pasti menganjurkan asupan yogurt sebagai “makanan” yang harus dikonsumsi para penderita diabet, terutama diabet tipe dua.
Barangkali, tulis “healthday.com, para penderita bisa menambah konsumsi yogurt rendah lemak untuk “makanan.”

Situs kesehatan itu merilis sebuah studi baru asal Inggris yang menganjurkan konsumsi yogurt dapat mengurangi risiko perkembangan diabetes sebesar dua puluh delapan atau persen lebih banyak daripada pada mereka yang tidak makan yogurt.

Tak hanya itu, konsumsi produk susu fermentasi lainnya misalnya keju rendah lemak juga dapat mengurangi risiko diabetes hingga dua puluh empat persen. “Yogurt harus jadi bagian dari pola makan sehat,” ujar Nuta Forouhi, ketua program epidemiologi nutrisi di Medical Research Council, University of Cambridge.

Forouhi mengatakan, meski studi tidak secara langsung menyatakan nutrisi dalam yogurt ataupun produk susu rendah lemak lainnya paling bermanfaat, namun kebenarannya mungkin begitu. Yogurt, kata dia, mengandung kalsium, magnesium, vitamin D, dan asam lemak yang bermanfaat, begitu juga produk susu lainnya secara umum.

“Selain itu yogurt dan produk susu lainnya juga mengandung vitamin K tipe spesifik dan bakteri probiotik,” tambahnya.

Dalam studi yang dipublikasi pada jurnal Diabetologia tersebut, Forouhi dan timnya melakukan analisa data dari 4.255 pria dan wanita. Di antara mereka, 753 orang orang mengembangkan diabetes tipe 2 setelah 11 tahun diikuti.

Kemudian, mereka pun mengevaluasi pola makan dari peserta dan menemukan, tidak ada kaitannya antara konsumsi produk susu tinggi lemak maupun rendah lemak pada risiko diabetes. Faktor yang paling berperan dalam menentukan risiko diabetes adalah gaya hidup sehat, edukasi, obesitas, kebiasaan makan, dan asupan kalori total.

Namun hasil yang berbeda ditunjukkan oleh produk susu rendah lemak dengan fermentasi seperti yogurt dan keju. Para peneliti menyatakan, peserta yang tidak mengembangkan diabetes tipe dua termasuk dalam kelompok yang paling banyak mengonsumsi yogurt dan keju rendah lemak.

Kendati demikian, bagaimanapun yogurt rendah lemak adalah makanan yang berkalori sehingga konsumsinya secara berlebihan juga berpotensi membuat orang kelebihan asupan kalori yang memicu obesitas, faktor risiko utama dari diabetes tipe 2. Maka olahraga teratur, perbanyak makan sayur dan buah, menjaga berat badan ideal adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mencegah diabetes tipe 2.

Yogurt yang merupakan sumber bakteri baik ini bukan cuma baik untuk kesehatan pencernaan tapi juga tekanan darah. Menurut studi terbaru mereka yang rutin mengonsumsi yogurt beberapa kali dalam semingu lebih terhindar dari risiko tekanan darah tinggi.

Studi ini menganalisis data dari sekitar 2.100 orang dewasa dari Framingham Heart Study Offspring Cohort. Data tersebut diperoleh dalam kurun waktu lebih dari 14 tahun. Pada awal penelitian, tidak ada peserta yang memiliki tekanan darah tinggi, tetapi pada akhir penelitian sebanyak 913 orang dari mereka tercatat memiliki tekanan darah tinggi.

Peneliti Huifen Wang, seorang peneliti di Laboratorium Epidemiologi Gizi di Tufts University menemukan bahwa peserta yang makan yogurt dalam porsi yang cukup besar atau setidaknya enam ons yogurt rendah lemak setiap tiga hari, memiliki kemungkinan 31 persen lebih kecil untuk menderita hipertensi dibandingkan dengan mereka yang makan yogurt kurang dari sekali dalam sebulan.

Selanjutnya, para peneliti menemukan bahwa kelompok yang rutin mengonsumsi yogurt itu pun memiliki kenaikan tekanan darah sistolik yang lebih kecil.

Para peneliti mengatakan bahwa sementara penelitian ini hanya observasional, dan tidak menunjukkan bahwa makan yogurt menyebabkan penurunan tekanan darah. Meskipun demikian, peneliti mengatakan yogurt tetap baik untuk kesehatan. Yogurt kaya kalsium, kalium dan magnesium, yang berperan dalam mengatur tekanan darah.

Tekanan darah adalah kekuatan darah dalam mendorong ke dinding arteri saat jantung memompa darah. Jika kekuatan darah dalam mendorong dinding arteri meningkat dan tetap tinggi dari waktu ke waktu, ini dapat membahayakan tubuh.

Bahaya yang mungkin ditimbulkan dari tekanan darah tinggi antara lain kerusakan jantung, pembuluh darah, ginjal, dan bagian tubuh lainnya. Para ahli mengatakan bahwa tekanan darah tinggi tidak memiliki gejala khusus, sehingga biasanya orang tidak sadar saat menderitanya.

Komentar