Rasa Marah Bisa Datangkan Kebahagiaan?

Penulis:: Darmansyah

Senin, 21 Agustus 2017 | 08:25 WIB

Dibaca: 0 kali

Rasa marah bisa mendatangkan kebahagiaan?

“Ya,” tulis laman “health.com, hari ini, Senin, 21 Agustus.

Dan ada alasan mengapa menunjukkan rasa marah secara positif, bisa menjadi salah satu kunci kebahagiaan.

Ternyata, orang yang paling bahagia ternyata bukanlah orang yang tak pernah menunjukkan rasa marahnya

Itu karena kebahagiaan lebih dari sekadar merasa senang sepanjang waktu, kata penulis studi. Kebahagiaan juga tentang merasakan emosi lain, seperti kecewa atau marah, yang sama-sama berharga bagi kesehatan mental.

Tak bisa dipungkiri, dalam beberapa budaya, ada banyak tekanan untuk merasa baik sepanjang waktu.

Tetapi bagi beberapa orang, terus memendam perasaan yang tidak menyenangkan, dapat menjadi “bom waktu” dan menciptakan perasaan kurang bahagia dalam jangka panjang.

Walau ada juga, beberapa orang yang memang tak bisa marah.

Untuk mempelajari dampak berbagai emosi terhadap keseluruhan kebahagiaan, peneliti Maya Tamir PhD dan rekan-rekannya di Hebrew University of Jerusalem, melakukan wawancara dengan dua ribuan  mahasiswa di delapan negara, termasuk Amerika Serikat.

Para peserta disurvei tentang perasaan yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari, serta perasaan apa yang paling ingin mereka tunjukkan.

Peserta juga menjawab pertanyaan tentang gejala depresi dan kepuasan hidup.

Tak heran, temuan yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology tersebut mendapati, sebagian besar peserta berharap untuk bisa menunjukkan emosi yang lebih menyenangkan dalam hidup mereka.

Tetapi terlepas dari jenis emosi yang paling ingin ditunjukkan dan terlepas dari negara atau budaya, peserta yang menunjukkan emosi paling sesuai dengan kondisi emosi yang mereka alami, melaporkan kepuasan hidup lebih besar dan lebih sedikit gejala depresi.

Walau begitu, penelitian ini menekankan bahwa bukan berarti Anda bebas menjadi orang yang pemarah bagi orang lain, seperti mengutarakan kata-kata buruk yang menyakiti hati orang lain.

Semisal, saat Anda merasa kesal, Anda boleh berbicara dengan nada kesal, namun jika ternyata kekesalan itu sudah berlalu, tidak perlu dibuat-buat.

Sebab untuk bisa menjadi kunci kebahagiaan, tujuan dari kemarahan adalah untuk “mengingatkan”, bukannya memuaskan emosi, kata Tamir.

“Apa yang ditunjukkan oleh penelitian ini adalah bahwa orang yang lebih bahagia adalah mereka yang menjalani emosi secara alami dan positif. “

“Saat marah disalurkan dengan baik, maka pemulihannya akan menjadi lebih cepat, tak ada dendam, tak ada penyesalan, dan itu menyehatkan mental, yang akhirnya membuat hidup lebih bahagia secara keseluruhan,” kata Tamir.

Selanjutnya, penelitian masa depan diperlukan untuk melihat apakah jenis emosi tidak menyenangkan lainnya, seperti rasa bersalah, ketakutan, kesedihan, atau rasa malu, juga merupakan bagian penting dari pengalaman hidup, kata Tamir.

Untuk itu juga  Anda harus tahu bangaimana cara yang tepat untuk mengatasi marah agar dapat mengekpresikannya dengan cara yang positif.

Jika Anda merasa marah, tetapi tidak mengatakan apa-apa dan tidak menunjukkan amarah, artinya Anda dibesarkan di lingkungan yang terbiasa menghindari terjadinya konflik, atau mungkin bagi Anda mengungkapkan amarah merupakan hal yang tidak wajar.

Seorang psikiater, Peter Andrew Sacco, PhD, berkata bahwa hal ini dapat membuat Anda depresi.

Sebaiknya Anda mencari sumber permasalahan yang ada dan mencoba mengatasinya agar bisa segera move on.

Kalau Anda tidak bisa melepaskan amarah, hal ini bisa berakibat negatif ke hal lainnya.

Bahkan, Anda bisa jadi menyimpan dendam karena amarah yang terpendam, terutama bagi orang yang menyalahkan Anda, kata Sacco.

Untuk menghindarinya, coba tanyakan kembali ke diri Anda, apa yang Anda dapat dari menyimpan dendam? Coba untuk belajar memaafkan orang lain dan lakukan hal ini untuk diri sendiri.

Sebab, memaafkan orang lain bisa memberikan kedamaian untuk diri sendiri.

Di era digital seperti sekarang ini, tidak sedikit orang-orang yang merasa lega untuk mengungkapkan amarahnya di media sosial agar mendapatkan banyak dukungan dari teman-teman melalui status yang ditulis.

Interaksi lewat media sosial yang tidak langsung menyebabkan orang-orang lebih mudah untuk mengungkapkan perasaannya secara online.

Namun, tahukah Anda bahwa hal ini bisa membangun image negatif untuk kepribadian Anda?

Bayangkan, Anda membagi kehidupan pribadi ke khalayak umum yang belum tentu benar-benar peduli dengan Anda, bahkan sebagian dari mereka bisa mentertawakan tindakan Anda.

Sebaiknya pikir berkali-kali sebelum Anda meluapkan amarah di media sosial.

Komentar