Kaka, Gairahnya Belum Mati

Penulis: Darmansyah

Selasa, 16 Oktober 2012 | 12:05 WIB

Dibaca: 0 kali

Kaka mengirim sinyal ke El Real dan Selecao  tentang gairah sepakbolanya yang belum mati,  usai meletakkan  kembali fondasi  perannya  sebagai  playmaker  dalam tim Samba di pertandingan Malmo, Swedia, pekan lalu, ketika timnya mengalahkan Irak 6-0 di uji coba yang tak seimbang.

Kaka tidak hanya gairah seorang playmaker dalam peta jalan dream of brazil, tapi ia seorang paradoks dari antitese  sebuah dogma tentang kelahiran seorang bintang di negeri Samba itu yang biasanya mendaki  dari dasar batu cadas kemiskinan. Untuk itu jangan menyamakan Kaka  dengan  Roberto Carlos, Ronaldo atau pun Ronaldinho. Tidak juga  dengan Pele maupun Dunga dan Socrates. Atau pun Garinha yang mati memeluk botol wiski di jalanaan Rio de Janeiro karena tak tahan dengan penyakit post power syndrome.

Kaka, mungkin, lebih dekat dengan Zico, sang White Pele, yang kini melatih Irak dan pernah main di Liga Jepang. Mereka  datang dari keluarga kelas menengah atas di Sao Paolo, dan kemudian meneguhkan eksistensi yang berbeda ketika hadir di tengah “serigala” yang datang dari cheto-cheto kumuh di tim Samba.

Mereka tidak ingin seperti  Ronaldo,  Dinho, maupun Lenoardo, yang melumatkan dendam kemiskinan mereka di emperan dunia gemerlap (dugem)  di Milan, Madrid, Barcelona mau pun London. “Ricardo Kaka bukan berangkat dari sana. Dan tidak pernah punya dendam dengan kemiskinan. Ia adalah sempalan dari serpihan  penyakit kemiskinan di lingkungan pesepakbolaan Brazil,” tulis O’Globo, surat kabar dengan tiras terbesar di kota Sao Paolo.

O’Globo seperti mengingatkan kembali tentang sosok Kaka yang lurus di tim junior dan di usia belum genap 18 tahun menggetarkan lawan ketika ia masuk skuad senior dengan dua gol untuk memenangkan Sao Paolo ketika melawan Bremia dalam debut awalnya.

Kenangan ini sengaja ditulis kembali oleh Javier Pedrosa, managing editor olahraga O‘Globo,  dengan gaya essay atas peran yang dimainkan Kaka di pertandingan Malmo. “Inilah pertandingan Sao Paolo. Pertandingan 12 tahun lalu ketika ia mencetak satu gol  dan memberikan  assist  bagi lahirnya sebuah gol lainnya,” kutip ‘Globo.

Bahkan surat kabar Rio de Janeiro, Sporta menurunkan tajuk dengan judul “Saluta” untuk Kaka usai membawa Neymar, Oscar  dan Hulk pada kemenangan di Malmo. ”Ia membawa kebahagiaan bagi selecao. Tak secuil pun dendam kejiwaan yang menyertai permainannya sepanjang pertandingan paling menggairahkan itu. Padahal sejak dua tahun lalu  ia dicampakkan dari skuad.”

Di Malmo, Kaka mempertontonkan kesejatian seorang playmaker. Jangan artikan dalan pengertian sempit gelandang serang. Ia pengatur ritme. Ia tahu kapan menggerakkan serangan dan kapan menghentikan pergerakan lawan di blok tengah. Kaka terkadang mengambil peran libero dan pada kesempatan lain ia berfungsi sebagai second striker.

Tak banyak pemain yang bisa memerankan fungsi playmaker di sebuah pertandingan. Kaka memang memenuhi syarat untuk itu. Posturnya. Langkahnya dan yang pokok determinasi akselerasinya yang mengandalkan kepping  ketika melakukan pembalikan serangan.

Maka ketika di El Real peran Kaka sebagai playmaker di bagi oleh Mourinho di antara Oezil dengan Benzema. Mou punya alasan, kalau fungsi itu dimainkan oleh satu orang akan sulit melakukan pendobrakan ke garis gawang. Lawan akan fokus membayangi  satu pemain dan melabraknya dikesempatan pertama.

Memang ada plus minus fungsi playmaker yang dimainkan  Kaka untuk didebat. Apalagi perkembangan sepakbola moderen dengan  pola baku permainan sudah direaktualisasikan dengan sangat luar biasa lewat kegeniuasan para pelatih.

Tapi, khusus untuk peran playmaker Kaka di Malmo, tesis Mourinho teranulir. Di sana ada Neymar, Oscar dan Hulk, anak muda yang dengan gairah  yang luar biasa mampu menaburkan benih antagonis untuk memberi ruang protogonisnya permainan Kaka. Untuk itulah, mungkin, hampir seluruh pengamat setuju untuk mengamini kecemerlangan penampilan Kaka.

Penampilan atas masih bakunya fungsi playmaker dalam sebuah permainan yang menuntut teknik tinggi. Kaka terakhir masuk skuad Brazil dua tahun lalu di Piala Dunia Afrika Selatan, dan kemudian ia “dihajar” cedera yang silih berganti yang membuat performanya surut jauh ke belakang.

Tidak hanya disingkirkan  dalam tim Samba, Kaka  juga menjadi pemain line kedua  dan menempati  daftar pemain  cadangan  Jose Mourinho, si pelatih genius, special one, dari Madrid itu. Walau pun dalam sebulan terakhir Kaka sudah dimainkan di paruh pertandingan menggantikan Oezil.

Ricardo Kaka atau lengkapnya, Ricardo Izecson dos Santos Leite, adalah anak ibukota, Brassilia, dan dimasukkan ke  Akademi Sepakbola Sao Paolo di usia kanak-kanak oleh Bosco Izecson, sang ayah, seorang insinyur sipil yang mapan karena bakat dan gairahnya yang menyala untuk menapak jalan ke  impian scuada Selecao

Di Brazil sepakbola nyaris dianggap “agama” bagi warganegaranya. Karena sepakbola menjadi jalan memintas untuk jadi kaya, terkenal dan tangga untuk karir politik. Bukankah Pele dan Zico pernah menjadi menteri olahraga?

Sepanjang masa resesnya dari lapangan Kaka tak pernah mengumpatkan  nasibnya. Ia berusaha memulihkan kondisinya. Tetap berlatih di El Real walaupun ia di terpa isu akan  kembali ke Milan atau akan di jual ke MU dan Chelsea Bahkan sebulan lalu ia digosipkan akan mudik bermain dengan Sao Paolo.

“Kaka memang seorang clean gentlement.”  Ia tidak hanya seorang relegius tulen, tapi tahu menempatklan perannya dengan pas di lingkungan spekulan media yang tidak pernah menghargai kehidupan pribadi.

Ketika spekulasi kepindahan dan harga transfernya berseliweran di hampir semua media,  dua bulan lalu, Kaka, anak sepakbola yang menyeimbangkan peran lapangan dengan kehidupan pribadinya,  tak pernah meluruskannya pemberitaan compang yang camping itu.

Ia menyerahkan urusan gosip sepakbola itu ke pemilik Real, pelatih Mou dan juga ke manajer tim Brazil, Mano Menezes.

Untuk itulah Reuters Sport  menulis dengan pujian  atas kekukuhannya tak mencampuri urusan pelatih, pemilik dan dirinya. “Ia seorang profesional tulen di komunitas sepakbola,  dan ia bisa dipadankan dengan Gary Lineker.”

Gary Lineker adalah striker tim The Three Lions, Inggris, yang berperangai santun di lapangan dan di luar lapangan. Gary  bisa dihitung dengan jari berapa kali ia kena kartu selama karir sepakbolanya yang panjang. Dan juga ia membuat media frustrasi karena tak pernah bereaksi terhadap sebuah gosip.

Kaka, sejak memilih berkarir di sepakbola, sebagai pemain junior Sao Paolo,  memang telah  membuat perencanaan untuk memisahkan kehidupan profesional dan personalnya.  Ia menyadari banyak di antara pesepakbola menderita penyakit “ayan” atas ketidakmampuan mereka memisahkan dua  kutub itu  diaduk dengan prestasi mencorong maka olenglah keseimbangan mereka..

“Saya tidak ingin terjerembab ke dalam dunia yang tak pernah saya cita-citakan,” kata Kaka, ketika ia diwawancarai  usai menandatangani transfernya dari Sao Paolo ke Milan sepuluh tahun lalu. Ia sadar, Milan bukan Sao Paolo, walau pun sama  sarang “mesum.”  Bagi Kaka, Sao Paolo adalah rumahnya. “Saya tahu letak jalan kehidupan kumuh hingga lorong-lorongnya.”

Milan? “Sebuah kampung mode yang semua orang datang ke sana mencari sensasi. Dan saya hanya bagian kecil dari San Siro dan berupaya menjauh dengan susah payah dari dunia gemerlap,” katanya tentang Milan dan stadion megah milik klub AC Milan yang sahamnya kepunyaan Silvio Berlusccoini, si gaek flamboyan, politisi dan seorang petualang sex itu.

Kaka sempat menjadi anak kesayangan Galliani, Presiden AC Milan ketika merumput di San Siro. Semula Milan enggan menjual Kaka. Tapi akhirnya, jadi juga  ditransfer ke El Real karena dua faktor yang saling berkepentingan.

Milan membutuhkan dana segar karena harga tawaran Madrid yang merangsang. Dan lainnya karena Kaka lebih nikmat tinggal di Madrid, selain dekat secara kultural, kakek moyangnya adalah turunan campuran Portugal dan Spanyol asal Sevilla,  juga karena dukungan sang istri, Caroline Celico yang sumpek dengan suasana Milan yang tarikan kehidupan pestanya terkadang sulit ditampik.

Padahal Caroline adalah anak pemilik outlet rumah mode Dior, Rosangela Lyra, yang butiknya bertebaran di Brazil dan Argentina.

Kaka dan Caroline memang kasus lain, yang tak biasa dari penujum sepakbola. Lihatlah wags di Premier League yang menenggelamkan gosip lain dari aksi selebritas mereka. Tak banyak pesepakbola yang bisa keluar dari jebakan entertainment.

Tidak hanya di kehidupan keluarga Kaka dan Caroline sangat spritual, tapi di lapangan sang playmaker juga mengumbar keregeliusannya. T-shirtnya bertuliskan, I Belong to…. Dan kaus kakinya bertuliskan pujian… Bahkan, setipa ia mencetak gol, usai selebrasi mempertontonkan tulisan di t-shirtnya, Kaka menudingkan telunjuknnya ke langit tanda terima kasih. []

Komentar