close
Nuganomics

Dolar Ambruk dan Harga Emas Terus Naik

Harga emas terus melonjak pada penutupan  perdagangan Kamis kemarin di Comex Exchange, New York, bersamaan dengan ambruknya kembali dolar dan menandai kenaikan beruntun terlama dalam dua bulan terakhir.

Kenaikan harga emas ditopang melemahnya dolar paska euro emnguat karena ada pertemuan Bank Sentral Eropa.

Bank Sentral Eropa atau Europeran Central Bank, seperti yang diperkirakan, tidak mengubah kebijakan suku bunga dan kebijakan stimulatif lainnya.

Tapi euro melompat karena investor melihat lebih jauh pada pidato dari President ECB, Mario Draghi yang melanjutkan harapan bahwa ECB akan bergerak memulai tapering pada program pembelian surat utang.

Euro naik 1 persen, membantu penurunan dolar pada indeks ICE. Dibandingkan dengan setengah lusin mata uang lain, dolar turun nol koma lima persen.

Euro paling berkontribusi membebani dolar pada kali ini.

Pelemahan dolar tentu berpengaruh pada pergerakan harga emas. Dolar yang melemah akan mengangkat harga emas.

Dilansir dari Marketwatch, Jumat pagi WIB, emas untuk kontrak Agustus naik nol koma tiga atau  menetap di level tertingginya sepanjang dua bulan terakhir.

Sehari sebelumnya, harga emas juga naik bersamaan dengan ambruknya  dolar Amerika Serikat  ke level terendah dalam sepuluh bulan terakhir.

Ambruknya dollar ini  mengingat prospek suku bunga bank sentral AS naik melemah pada tahun ini.

Harga emas untuk pengiriman Agustus naik tipis ke level US$ 1.242 usai ditransaksikan di kisaran harga US$ 1.235-US$ 1.243.

Indeks dolar AS turun nol koma empat persen secara mingguan.

Namun pergerakanya sedikit berubah terhadap mata uang asing pada perdagangan Rabu waktu setempat.

“Sentimen utama pengaruhi harga emas yaitu pergerakan indeks dolar AS. Penurunan dolar secara teknikal ada keuntungan,” ujar Analis Kitco, Jim Wyckoff seperti dikutip dari laman Marketwatch, Kamis, 19 Juli.

Penurunan dolar AS mendukung pergerakan harga komoditas seperti emas.

Selain itu, rilis sejumlah data ekonomi AS juga akan pengaruhi dolar AS dan kemungkinan kenaikan suku bunga bank sentral AS pada semester II tahun ini

Saat ini pasar menghadapi data ekonomi AS yang beragam.

“Dengan inflasi rendah, kami harap the Federal Reserve dapat menunda kenaikan suku bunga hingga Desember,” tulis Analis Capital Economics dalam catatannya.

Lebih lanjut ia menuturkan, berdasarkan pernyataan pejabat the Federal Reserve dan pertemuan FOMC pada pekan depan juga akan diumumkan dimulainya normalisasi neraca.

“Kami harapkan juga tidak ada kenaikan suku bunga,” tulis analis Capital Economics.

Melemahnya dollar dan kenaikan harga emas membuat pelaku pasar ragu akan rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau the Federal Reserve .

Selain masalah ambruknya dollar, pendorong lain  kenaikan harga emas adalah adanya data-data ekonomi AS yang tidak sesuai dengan harapan pelaku pasar.

Harga konsumen AS untuk Juni tidak berubah jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sedangkan untuk angka penjualan ritel juga mengalami penurunan dalam dua bulan terakhir.

Pelemahan data ekonomi AS ini memperkuat harapan bahwa Bank Sentral AS cenderung bergerak perlahan untuk menaikkan suku buga karena pelemahan data tersebut belum mampu mendorong angka inflasi yang menjadi salah satu patokan untuk menaikkan suku bunga.

Komentar Gubernur Bank Sentral AS Janet Yellen di depan Kongres AS juga membuat harga emas naik.

“Lebih banyak sentimen yang membuat the Fed memilih untuk berpikir ulang untuk menaikkan suku bunga daripada sebelumnya,” jelas Direktur High Ridge Futures, Chicago, AS, David Meger

Pedagang berharap para bank sentral kembali memperketat kebijakan moneternya.

Alasan kenaikan mulai dari data pekerjaan AS yang lebih baik dan angka ekspor Jerman yang kuat.

Pedagang masih menanti keputusan Bank Sentral AS, di mana Gubernur Janet Yellen akan membahasnya di kongres.

“Kami mengulur-ulur tepat setelah penjualan sedikit berkurang pada hari Jumat. Banyak orang yang menunggu kesaksian Janet Yellen pada minggu ini,” kata Phillip Streible, broker komoditas senior RJO Futures di Chicago.

Keyakinan tentang Global Growth Outlook juga berdampak ke harga emas.