close
Nuga Sehat

Lemak Itu Tak Selalu Buruk Bagi Kesehatan

Lemak?

“Ya,” tulis majalah “time,” edisi terbarunya, Selasa, 11 Juli 2016, “tidak selalu buruk bagi kesehatan, asalkan kita memilih jenis yang tepat.

bahkan, menurut tulisan itu, ada beberapai jenis lemak yang  bermanfaat positif.

Studi terbaru telah menunjukkan bahwa nasihat standar untuk menghindari lemak mungkin tidak tepat.

Dalam sebuah penelitian terbaru yang mengamati pola makan seratusan ribu  orang dan diikuti selama dua puluh tiga tahun, tim peneliti mencatat jenis lemak yang dikonsumsi seseorang pada awal studi dan setiap dua tahun sekali, sampai akhir masa penelitian.

Konsumsi asam lemak tidak jenuh ganda dan lemak tidak jenuh terkait dengan penurunan risiko kematian.

Sebaliknya, lemak yang perlu dihindari adalah lemak jenuh dan lemak trans.

Bila dibandingkan dengan konsumsi karbohidrat, makan lebih banyak lemak jenuh terkait dengan peningkatan angka kematian.

Contoh makanan yang mengandung lemak tidak jenuh dan lemak tak jenuh ganda ganda misalnya minyak zaitun, minyak kedelai, minyak biji bunga matahari, atau ikan laut dalam seperti salmon, makarel, atau ikan herring.

Sumber lainnya antara lain kacang-kacangan, tahu, dan kedelai.

Manfaat dari lemak tak jenuh ini antara lain menurunkan kadar Kolesterol jahat sehingga dapat menekan risiko penyakit jantung dan stroke.

Jenis lemak ini juga mengandung nutrisi yang menjaga fungsi sel.

Minyak yang mengandung lemak tidak jenuh juga mengandung vitamin E dan antioksidan.

Sementara itu, jenis lemak yang perlu dibatasi antara lain lemak trans yang bisa kita dapatkan dari berbagai jenis makanan yang diproses, gorengan, daging merah, mentega, susu, dan sebagainya.

Walau demikian, studi terbaru menyebutkan bahwa konsumsi butter yang sebenarnya mengandung lemak jenuh tinggi ternyata tidak terlalu berbahaya, bahkan bagi orang yang menderita diabetes tipe 2.

Selain itu, sebuah studi terbaru yang kontroversial menantang gagasan yang selama ini mengatakan, bahwa kesehatan jantung akan membaik jika kita mengurangi konsumsi lemak jenuh-terutama yang berasal dari hewan dan mengutamakan sayur dan buah.

Penelitian tersebut menemukan, bahwa orang-orang yang terpaksa mengubah pola makan mereka dengan mengonsumsi minyak jagung untuk menggantikan lemak jenuh, memang benar dapat menurunkan kadar Kolesterol, namun juga risiko kematian dininya meningkat.

Namun, setidaknya ada tiga peneliti ahli gizi menyatakan keprihatinan tentang penelitian itu dan mengatakan, bahwa temuan tersebut salah arah dalam banyak hal.

Mereka menyarankan kita untuk tetap berpegangan pada pedoman gizi saat ini, yaitu konsumsi rendah lemak jenuh.

“Penelitian ini tidak dapat digunakan untuk menarik kesimpulan tentang pola makan yang sehat,” kata Maryam Farvid, seorang ilmuwan Harvard T.H. Chan School of Public Health.

 

“Dari sejumlah besar informasi dari penelitian lain, kita tahu bahwa risiko penyakit jantung akan lebih rendah jika lemak jenuh-terutama dari daging merah dan susu diganti dengan lemak tak jenuh dari minyak nabati cair seperti kedelai, jagung, zaitun, dan minyak canola.”

Dr Frank Hu, seorang profesor nutrisi dan epidemiologi Harvard, setuju dengan Farvid.

“Penelitian ini cacat, dan hasilnya tidak mengubah pedoman diet saat ini yang menekankan sumber sehat lemak tak jenuh ganda seperti minyak zaitun dan sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian dan alpukat.”

Jagung, bunga matahari, dan minyak kedelai memiliki asam linoleat berkadar tinggi, kata para penulis studi.

Minyak ini termasuk kelompok lemak yang disebut lemak tak jenuh ganda, menurut American Heart Association  atau AHA.

Diet rendah lemak jenuh, termasuk lemak tak jenuh ganda, dalam jumlah sedang dapat menurunkan Kolesterol, yang diduga kemudian mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke, menurut AHA.

“Kadar Kolesterol darah berhubungan dengan risiko penyakit jantung dan kematian dini. Minyak nabati dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan kematian,” kata pemimpin penulis studi Dr Christopher Ramsden, penyelidik medis dengan AS National Institute on Alcohol Abuse dan Alcoholism.

Para ilmuwan yang terlibat penelitian mengevaluasi sebuah penelitian di sebuah panti jompo atau salah satu dari enam rumah perawatan lansia di Minnesota.

Para peserta secara acak ditugaskan untuk mengonsimsi pola makan yang normal atau pola makan di mana lemak jenuh diganti dengan makanan yang dibuat dengan minyak jagung.

Para peneliti melacak kesehatan peserta selama sekitar tiga tahun, dan mereka tidak menemukan manfaat dalam hal panjangnya umur.

Anehnya, mereka menemukan bukti, bahwa kadar Kolesterol ternyata terkait dengan risiko kematian yang lebih tinggi.