close
Nuga Sehat

“Eja” dan “kulasi” Persoalan Rumit Lelaki

Tulisan terbaru dari situs “mnsbc” hari ini, Rabu 05 Februari 2014, kembali mengangkat tema ejakulasi, baik dini maupun mampat, karena banyaknya lelaki yang “terserang” tak mampu memuaskan pasangannya akibat “loyo” sebelum sampai ke “puncak.” Bahkan, menurut artikel “mnsbc” itu, wabah diabet yang menyerang penduduk bumi juga berakibat pada ketidakmampuan lelaki dalam memberi kenikmatan dalam hubungannya dengan pasangannya.

Bagi “mnsbc” membicarakan ejakulasi berarti terjadinya gangguan seksual pada pria. Inilah yang biasanya muncul; dalam benak setiap orang benak ketika mengeluhkan disfungsi ereksi alias impotensi. Baru, setelah itu, susul ejakulasi dini. Padahal, tak sedikit pria yang menderita sulit mencapai ejakulasi.

Pria yang mengalami kesulitan ejakulasi sebenarnya tidak ada masalah dengan ereksinya, tetapi mereka sulit mencapai klimaks. Berbeda dengan disfungsi ereksi, gangguan sulit ejakulasi ini belum memiliki obat yang sudah disetujui lembaga berwenang.

Kebanyakan pria mencapai ejakulasi empat sampai sepuluh menit dari dimulainya intercourse. Bila melebihi waktu tersebut Anda belum juga bisa mencapai klimaks dan kelelahan, besar kemungkinan Anda menderita gangguan ejakulasi.

Kebanyakan pasien dan dokter juga jarang mendiskusikan gangguan seksual tersebut sehingga sulit memastikan berapa banyak pria yang mengalaminya.

Menurut Dr Michael O’Leary, profesor bedah dan ahli urologi dari Harvard Medical School, kesulitan ejakulasi bisa dipicu oleh berbagai hal, misalnya efek samping obat atau problem psikologi dengan pasangan.

“Semua hal yang mengganggu fungsi saraf di area pelvis berpotensi mengganggu ejakulasi dan aspek lain dalam fungsi seksual pria,” kata O’Leary.

Penyebab yang paling sederhana adalah efek dari kecanduan alkohol. Faktor penuaan juga berdampak pada kelambatan mencapai klimaks akibat ereksi tidak sekuat sebelumnya.

Sementara itu, obat-obatan seperti obat hipertensi atau antidepresan golongan SRI atau “serotonin reuptake inhibitor” juga bisa mengganggu ejakulasi. Namun, beberapa pria cukup terbantu ejakulasinya setelah mengonsumsi obat anti-impotensi.

“Penyebab gangguan ejakulasi yang paling sering adalah masalah psikologi dengan pasangan,” kata David L Rowland, profesor psikologi dan penulis buku Sexual Dysfunction in Men.

Menurut Rowland, cukup banyak pria yang merasa komunikasinya dengan pasangan memburuk, terutama seputar kebutuhan seksualnya. Sebagian pasien juga merasa sulit terangsang atau tidak bisa mendapatkan yang diharapkan.

“Untuk para pria ini, berdiskusi dengan konselor profesional bersama dengan pasangan sangat membantu,” katanya.

Kehamilan yang tak kunjung datang kerap membuat pasangan berasumsi mengenai kemungkinan penyebabnya dan kekhawatiran pun mulai muncul. Seperti rasa khawatir ketika suami sering ejakulasi dini saat berhubungan seks, yang kemudian dikaitkan dengan gangguan kesuburan pria dan kecilnya kemungkinan hamil karenanya.

Dokter ahli seksologi dan andrologi, Wimpie Pangkahila, menjelaskan ejakulasi dini tidak mencerminkan ada tidaknya gangguan kesuburan. Tidak ada hubungan antara ejakulasi dini dengan keadaan kesuburan seorang pria. Artinya, seorang pria yang mengalami ejakulasi dini, kesuburannya mungkin saja normal. Sebaliknya, pria yang tidak mengalami ejakulasi dini, mungkin saja kesuburannya terganggu, bahkan mandul, sehingga tidak dapat menghasilkan kehamilan.

Kehamilan hanya mungkin terjadi kalau berlangsung pembuahan sel telur wanita oleh sel spermatozoa pria. Pembuahan hanya mungkin terjadi kalau hubungan seksual dilakukan pada masa subur wanita. Hubungan seksual di luar masa subur wanita tidak akan menghasilkan pembuahan dan kehamilan.

Pembuahan lebih mudah terjadi kalau keadaan kesuburan pihak suami dan istri baik, dan tidak mengalami gangguan pada sistem reproduksinya. Sebaliknya, kalau kesuburan terganggu dan sistem reproduksi mengalami gangguan, kehamilan mengalami hambatan, bahkan mungkin tidak dapat terjadi.

Ejakulasi dini yang dialami suami bukanlah penyebab seorang istri tidak hamil, walaupun telah lama menikah. Kecuali bila ejakulasi dini yang terjadi tergolong berat, sehingga tidak ada sperma yang masuk melalui vagina.

Pria yang menderita ejakulasi dini berat, mengalami ejakulasi sebelum penis masuk ke vagina. Jadi, selama ejakulasi terjadi di dalam vagina kemungkinan dapat menghamili tetap ada, asal kesuburannya baik dan di pihak wanita tidak ada gangguan.

Yang perlu dipertanyakan adalah adakah gangguan kesuburan atau hambatan pada sistem reproduksi pasangan suami istri? Pemeriksaan yang lengkap dapat menyimpulkan apakah ada gangguan atau kelainan pada suami dan istri. Jika sudah ada kesimpulan, barulah dapat dilakukan langkah pengobatan atau tindakan yang tepat.

Namun, memang ada keadaan tertentu yang tidak dapat diatasi lagi. Misalnya kerusakan pada buah pelir sehingga spermatozoa tidak dapat diproduksi sama sekali atau kerusakan pada indung telur sehingga sel telur tidak dapat diproduksi.

Jika terjadi kerusakan, apakah masih dapat hamil atau tidak? Jawabnya tergantung sejauh mana gangguan yang terjadi, baik pada istri maupun suami. Kalau tidak ada gangguan kesuburan pada istri atau suami, tak mungkin kehamilan tidak terjadi dalam waktu lama.