close
Nuga Sehat

Ditemukan Vaksin Anyar Mencegah TBC

Berbahagilah mereka yang terkena tubercolisis atau “tbc.”

Lantas?

Harapan memberantas penyakit tuberkulosis  mulai menunjukkan titik terang.

Sebuan peneliti baru saja menemukan vaksin yang dapat mencegah perkembangan basil bakteri berbentuk batang tuberkulosis.

Selama ini, bakteri “tbc” masih menjadi infeksi pembunuh terbesar di dunia. Penyakit ini membunuh lebih banyak orang dibandingkan HIV setiap tahunnya.

Meski dapat disembuhkan, “tbc” terus menyerang jutaan orang di dunia. Pada tahun lalu, WHO memperkirakan sebanyak satu koma enam juta kematian dari sepuluh juta orang yang menderita tuberkulosis di seluruh dunia.

Untuk menghentikan perkembangan bakteri itu, para ilmuwan terus berupaya mengembangkan vaksin sejak bertahun-tahun lalu.

Terbaru, sekelompok peneliti dari perusahaan farmasi GlaxoSmithKline berhasil mengembangkan vaksin anyar dengan nama M72/AS01E dengan proteksi mencapai lima puluh empat persen.

Vaksin ini menjadi vaksin pertama yang memberikan proteksi dari bakteri tuberkulosis lebih dari lima puluh persen. Selama ini, tak ada satu pun vaksin yang berhasil memberikan perlindungan lebih dari lima puluh persen.

Meski tak mencapai 100 persen, dalam studi yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine itu, peneliti percaya vaksin ini cukup efektif memberikan dampak yang signifikan menangkal bakteri “tbc”

Untuk meningkatkan efektivitas, peneliti menyebut vaksin dapat dikombinasikan dengan pencegahan lain seperti pemakaian masker.

Vaksin ini diperkirakan dapat menyelamatkan jutaan nyawa dan mencegah sepuluh juta kasus TBC baru.

“Saya tak bisa mengungkapkan kegembiraan saya. Ini penuh harapan. Ini benar-benar dapat membantu jutaan orang,” kata direktur ilmiah di International Union Against Tuberculosis and Lung Disease, Paula Fujiwara.

Sebagai catatan, vaksin baru ini hanya melindungi orang yang sebelumnya pernah terinfeksi “tbc”

Kendati demikian, peneliti menyebut bahwa hal ini tetap berdampak besar karena virus tuberkulosis dapat datang kembali dan menyerang siapa saja.

Lantas, apakah setiap vaksin “tbc” itu aman?

Sebenarnya  vaksin “tbc” telah lama ditemukan, namun hingga kini masih banyak pihak yang ragu memberikan vaksin kepada anaknya.

Mereka masih meragukan keamanan vaksin, karena banyak kesalahpahaman yang beredar di masyarakat.

Ada yang menganggap bahwa meskipun sudah diberikan vaksin, anak tetap bisa sakit. Atau, ada juga yang menganggap bahwa vaksin justru membahayakan si kecil.

Tapi, apa iya?

Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit. Pemberian vaksin dimaksudkan untuk mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi penyebab penyakit.

Vaksin bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan memerangi patogen, baik virus atau bakteri.

Untuk melakukan ini, molekul tertentu dari patogen harus dimasukkan ke dalam tubuh untuk memicu respon kekebalan, yang disebut dengan antigen.

Dengan menyuntikkan antigen ke dalam tubuh melalui vaksinasi, maka sistem kekebalan tubuh dapat mengenali patogen penyebab penyakit dengan menghasilkan antibodi.

Antibodi tersebutlah yang akan melawan patogen sebelum menyebar dan menyebabkan penyakit. Antibodi tersebut juga yang nantinya akan mengenali patogen penyakit tersebut, jika di kemudian hari muncul kembali.

Studi yang diterbitkan dalam BioMed Central lima tahun lalu menemukan beberapa alasan mengapa beberapa orang tua menolak memberikan vaksin untuk anak mereka.

Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada beberapa faktor, seperti gaya hidup orang tua, persepsi tentang tubuh dan sistem kekebalan tubuh anak, persepsi risiko penyakit dan efek samping vaksinasi, efektivitas vaksin yang dirasakan, keuntungan dari vaksinasi, pengalaman negatif setelah vaksinasi, dan lingkungan sosial orang tua.

Vaksinasi memang tidak dapat 100 persen melindungi anak Anda dari penyakit.

Namun, anak yang telah diberikan vaksin memiliki kekebalan yang lebih optimal terhadap suatu penyakit.

Sebenarnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan pemberian vaksin kurang efektif dalam mencegah sakit, yaitu kelengkapan status imunisasi, gaya hidup, asupan nutrisi, dan kondisi vaksin yang diberikan.

Anak yang sudah diberikan vaksin memang tetap dapat terinfeksi suatu penyakit, tetapi gejala yang dialami cenderung jauh lebih ringan dibandingkan dengan anak yang tidak diberikan vaksin.

Vaksin tidak mengandung babi. Informasi ini didapatkan melalui situs idai.or.id. Melalui situs tersebut juga diketahui bahwa meskipun pada pembuatan vaksin polio, enzim tripsin babi digunakan; namun tidak semua vaksin membutuhkannya.

Enzim tersebut nantinya juga akan dibersihkan atau dihilangkan agar tidak mengganggu tahapan proses produksi vaksin selanjutnya.

Enzim tripsin babi hanya diperlukan sebagai katalisator untuk memecah protein menjadi peptida dan asam amino yang menjadi bahan makanan kuman.

Namun pada hasil akhir proses pembuatan vaksin, sama sekali tidak terdapat bahan-bahan yang mengandung enzim tersebut.

Bahkan, antigen vaksin ini sama sekali tidak bersinggungan dengan enzim tripsin babi baik secara langsung maupun tidak.

Sebuah studi menyebutkan bahwa untuk setiap vaksin yang disetujui, manfaat penggunaannya lebih besar daripada risikonya.

Biasanya, efek samping yang terjadi berupa demam beberapa hari setelah vaksin, dan dapat hilang setelah diobati.