close
Nuga Sehat

Buang Air Kecil Terlalu Sering Itu Penyakit

Umumnya, frekuensi berkemih atau buang air kecil dilakukan seseorang sebanyak satu kali dalam kurun waktu tiga hingga empat jam.

Namun, apabila Anda berkemih dalam frekuensi yang berlebihan, maka bisa jadi terjadi sesuatu dengan tubuh Anda.

Gejala tersebut disebut sebagai inkontinensia urine.

Inkontinensia urine adalah salah satu gangguan dalam sistim urine, yang mana seseorang tidak dapat mengontrol proses buang air kecilnya.

Lebih dari dua ratus juta orang pernah atau sedang mengalami masalah ini.

Dan umumnya, gejala ini diderita wanita empat hingga lima kali lebih banyak dibandingkan pria.

Dia memaparkan bahwa di kalangan wanita, gangguan sulit menahan buang air kecil ini lebih banyak diderita wanita lanjut usia dengan presentase dua puluh dua persen.

Itu karena pada wanita lanjut usia, produksi hormon estrogen yang berfungsi untuk mempertahankan kekuatan otot dasar panggul menurun.

Hormon itu memiliki fungsi untuk mempertahankan kekuatan otot dasar panggul, dibutuhkan untuk memodifikasi organ saluran kencing dan genitalia.

Hormon itu dibutuhkan untuk mempertahankan agar bisa berkemih secara normal. Pada saat estrogen turun, otot dasar panggulnya melemah

Tak hanya orang lanjut usia saja, inkontinensia pun diketahui menyerang anak-anak dan dewasa serta pria.

Beberapa faktor risiko penyebabnya antara lain obesitas, diabetes, banyak anak, prostat, merokok dan cara melahirkan.

Dilansir laman Times of India, sebuah studi baru menemukan bahwa menurunkan asupan garam secara signifikan dapat mengurangi keluarnya urine berlebihan saat malam hari.

Kondisi ini, juga dikenal dengan istilah nokturia yakni keinginan untuk sering buang air kecil  di malam hari, sehingga membuat orang yang mengalaminya sampai terbangun beberapa kali saat tidur di malam hari.

Studi ini melibatkan dua ratus relawan.

Mereka diminta untuk mengurangi konsumsi garam

Dari kegiatan ini, rata-rata aktivitas buang air kecil di malam hari berkurang

Sebaliknya, ketika asupan garam ditingkatkan,  terjadi peningkatan aktivitas buang air kecil

“Ini adalah studi pertama untuk mengukur seberapa asupan garam mempengaruhi frekuensi pergi ke kamar mandi,” kata Matsuo Tomohiro dari Universitas Nagasaki di Jepang.

“Waktu buang air kecil di malam hari adalah masalah bagi banyak orang, terutama karena untuk mereka yang sudah usia lanjut,” kata Tomohiro.

“Studi ini memegang kemungkinan bahwa modifikasi diet mungkin secara signifikan bisa meningkatkan kualitas hidup bagi banyak orang,” katanya.

Penurunan aktivitas buang air kecil ini juga disebabkan peningkatan yang nyata dalam kualitas hidup dari para peserta.

Seperti diketahui, garam yang berlebih hanya dapat dibuang dari tubuh ketika dilarutkan, sehingga semakin banyak orang makan garam maka semakin banyak garam yang harus dikeluarkan lewat urine.

Makanan asin atau makanan tinggi garam juga membuat orang lebih mudah haus.

Sehingga ada dampak ganda dari garam, yakni semakin sering menghasilkan cairan dan meningkatkan aktivitas buang air kecil, terutama pada malam hari.

Frekuensi buang air kecil yang dirasa melebihi batas normal, bisa menjadi indikasi tubuh yang mengalami masalah kesehatan.

Menurut Calm Clinic, ada dua jenis buang air kecil karena cemas. Pertama, urine yang spontan keluar saat adanya momen menakutkan.

Kedua, adanya sensasi keinginan untuk buang air kecil secara sering tanpa adanya kelebihan cairan.

Cemas berkaitan dengan frekuensi kencing  karena kekuatan otot saat cemas, menjadi tegang.

Hal itu yang membuat penekanan pada kandung kemih.

Kondisi diabetes memungkinkan pengidapnya memiliki rasa haus terus menerus.

Dengan konsumsi air yang banyak, berdampak pula pada frekuensi urine yang berlebihan dan sering.

Beberapa jenis infeksi yang berkaitan dengan saluran urine, dapat membuat tubuh kencing lebih sering.

Biasanya, infeksi pada saluran urine tersebut, memberikan sensasi terbakar saat kencing disertai adanya darah pada urine dan berbau kurang sedap.

Sebagian kelompok memiliki kandung kemih yang sensitif terhadap makanan asam atau pedas.

Hal tersebut sebabkan iritasi pada kandung kemih. Dampaknya, membuat frekuensi berkemih semakin sering.