close
Nuga Sehat

Awas!! Deodoran Bisa Picu Kanker

Anda pemakai setia deodorant?

Kalau iya, mulai sekarang berhati-hatilah.

Si pengharum pangkal lengan itu, seperti ditulis laman situs “daily mail,” Sabtu, 01 Oktober 2016, bisa memicu kanker.

Sejak lama, memang, sudah  beredar rumor tentang efek samping pemakaian deodoran.

Namun tim peneliti Swiss mengklaim menemukan bukti ilmiah kandungan mineral aluminium pada deodoran dapat menyebabkan kanker.

Melansir Daily Mail, tim peneliti dari University of Geneva tersebut menemukan bahwa kandungan aluminium dalam deodoran dan antiperspirant meningkatkan risiko pembentukan jaringan kanker, terutama payudara.

Deodoran dan antiperspiran sama-sama mengharumkan badan. Hanya bedanya, antiperspiran juga menahan keringat.

Peneliti yang ikut bergabung dalam penelitian tersebut, Andre-Pascal Sappino, menemukan senyawa alumunium dalam antiperspiran memang berfungsi menutup jaringan keringat.

Namun bila terpapar dalam waktu lama, senyawa tersebut membangun jaringan baru di bagian tubuh lain dan menghasilkan efek mirip estrogen.

Sappino dan tim melakukan penelitian dengan mengambil sel payudara manusia dan mengisolasinya pada tikus.

Kemudian mereka memberikan paparan alumunium yang biasa terdapat dalam antiperspiran di bahan percobaan tersebut.

Hasil yang didapat, pemberian alumunium pada tikus tersebut menyebabkan tumor yang agresif.

Meski belum ada keterkaitan langsung antara senyawa alumunium dengan kanker pada manusia, atas temuan ini Sappino menyarankan kepada wanita maupun pria untuk tidak menggunakan antiperspiran yang mengandung garam aluminium tersebut.

Namun ia menyadari ada pandangan skeptis mengenai ini.

Ia menyadari, ini mirip apa yang terjadi pada senyawa asbestos di industri dan berpotensi menyebabkan kanker.

“Asbestos itu murah, dan sangat menarik bagi kalangan industri serta butuh 50 tahun untuk melarang penggunaan tersebut. Kami berharap tidak butuh waktu lama untuk melarang penggunaan senyawa alumunium,” kata Sappino.

Penemuan Sappino bertentangan dengan beberapa temuan sebelumnya yang tidak menemukan risiko atas penggunaan senyawa alumunium, sehingga penggunaannya dianggap aman.

Beberapa ahli pun menganggap temuan Sappino belum sepenuhnya dapat dianggap kesimpulan dan harus ditinjau dengan hati-hati.

“Studi ini melihat secara khusus pada sel tikus yang ditumbuhkan di lab dan pada tubuh tikus sendiri.”

“Dan kami perlu menempatkan temuan ini sebagai langkah menuju penelitian kanker lebih lanjut pada manusia,” kata Baroness Delyth Morgan, kepala eksekutif Breast Cancer Now.

“Banyak penelitian yang mengkaji penggunaan antiperspirant atau deodoran pada wanita secara konsisten tidak menunjukkan bukti apa pun yang terkait dengan kanker payudara.”

“ Maka tidak ada alasan apa pun mengkhawatirkan hal tersebut.”

Letak ketiak yang dekat dengan payudara menimbulkan dugaan bahwa apa pun yang digunakan di sekitar bagian ini akan berdampak kepada perubahan sel pada organ payudara.

Ditemukannya unsur tertentu dari deodoran pada jaringan payudara memunculkan kekhawatiran bahwa deodoran menjadi pemicu kanker payudara.

Ada berita yang mengemukakan bahwa deodoran mengandung bahan tertentu yang dapat diserap kulit dan memasuki tubuh melalui goresan terbuka yang mungkin timbul akibat mencukur bulu ketiak.

Disebutkan pula bahwa pengolesan di area ini dapat berisiko menyebabkan kanker payudara karena lokasinya yang berdekatan dengan organ tersebut.

Bahan yang dimaksud adalah senyawa berbasis aluminium yang terkandung di dalam beberapa produk deodoran.

Bahan ini membentuk sumbatan sementara pada kelenjar keringat, sehingga menghentikan aliran keringat pada permukaan kulit.

Penyerapan bahan ini oleh kulit disebut-sebut dapat menyebabkan efek yang serupa dengan yang diakibatkan oleh efek estrogen yang mampu mendukung pertumbuhan sel-sel kanker payudara.

Selain aluminium, unsur lain yang bernama parabens juga dicurigai dapat menimbulkan efek serupa di atas.

Kamu dapat menemukannya di dalam label dengan nama seperti methylparaben, propylparaben, butylparaben, atau benzylparaben.

Rumor yang beredar adalah zat-zat kimia di dalam deodoran menghalangi tubuh membuang racun, sehingga kemudian mencapai kelenjar getah bening dan berperan menyebabkan perubahan sel menjadi sel kanker.

Beberapa penelitian juga mengklaim zat-zat kimia tersebut dapat berinteraksi dengan DNA dalam beberapa sel atau menyebabkan perubahan sel payudara sehingga menyebabkan berkembangnya potensi kanker payudara.