close
Nuga Life

Disfungsi Ereksi Itu Momok Bagi Pria

Siapa yang bisa membantah kegagalan seorang pria mendapatkan “permainan” yang bernama ereksi bukan momok menakutkan.

Kegagalan ereksi ini bisa menurunkan rasa percaya diri, bahkan gangguan psikologis.

Disfungsi ereksi pada pria bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari adanya gangguan pada pembuluh darah akibat penyakit kronik, stres, kadar testosteron yang rendah, hingga masalah yang belum terselesaikan dengan pasangan.

Psikolog terkenal di Inggris, seperti ditulis “daily mail,” Selasa, 29 Maret 2016, Tara de Thouars, menungkapkan pria yang mengalami disfungsi ereksi atau penurunan libido rentan mengalami masalah psikologi seperti depresi, kecemasan, dan stres, yang bisa berujung pada permasalahan dengan pasangannya.

“Saat mengalami masalah dengan ereksinya, pria bisa merasa insecure tentang diri sendiri, merasa tidak kompeten sebagai pria, dan merasa diri kurang jika dibandingkan dengan pria lain,” kata Tara.

Di lain pihak, seorang pria juga akhirnya cenderung menghindari melakukan kontak fisik atau berhubungan intim dengan pasangannya atau merasa bersalah dengan pasangannya.

Sementara pasangan atau istrinya akan merasa tidak menarik, merasa tidak dicintai, dan juga merasa bersalah karena tidak bisa membuat pasangan terangsang.

Tara mengatakan, sebenarnya kondisi itu bisa dicegah jika kedua belah pihak mau saling terbuka membicarakannya.

“Cari waktu yang betul-betul tepat, jangan pada saat itu juga dibahas di tempat tidur karena suaminya juga pasti stres. Tunggu saat suasananya enak dan mood-nya lagi baik,” ujar sang psikolog.

Selain itu, pihak istri juga sebaiknya tidak memulai pembicaraan dengan menuduh suaminya.

“Jangan memakai kata-kata yang menuduh, misalnya curiga jika suaminya tidak terangsang karena selingkuh dan sebagainya,” katanya.

Pria pun harus memahami bahwa disfungsi ereksi bisa dialami setiap pria.

“Disfungsi ereksi atau libido rendah adalah sesuatu yang wajar. Jangan sekali saja tidak bisa langsung merasa tidak berguna,” saran Tara.

Dengan membahas masalah ini, suami istri bisa saling mendukung untuk mencari solusi.

“Sebelum bertambah parah harus segera mencari solusi sehingga lebih cepat happy,” katanya.

Apakah gangguan ereksi a bisa diatasi?

Jawabnya, “bisa.”

Cobalah konsultasikan dengan dokter karena saat ini ada banyak obat yang telah terbukti menolong banyak pria.

Meski begitu, setiap pria yang mengalami ereksi ini tidak boleh mengambil jalan pintas dengan mengonsumsi obat kuat.

Kita harus tahu akar permasalahannya agar pengobatan lebih efektif dan kualitas hidup bisa diperbaiki. Waspadai obat-obatan kuat dari herbal, apalagi kalau hasilnya instan.

Obat kuat kerap dipandang sebagai jalan keluar paling mujarab dalam menangani disfungsi ereksi .

Padahal, obat-obatan hanya sebagian dari terapi untuk menangani DE.
Sebut saja Viagra

Cara kerja sildenafil sebut saja Viagra sangat bergantung dari nitric oxide.

Nah, nitric oxide ini baru muncul jika ada rangsangan seksual.

Jadi, Viagra, berapa pun jumlah yang dikonsumsi, tak akan bekerja tanpa rangsangan seksual.

Terapi seks untuk disfungsi ereksi tak sekedar menenggak obat. Terapi tersebut dilakukan secara menyeluruh.

DE itu kan akibat dari sesuatu. Nah, sesuatu itu yang harus ditelusuri dan ditangani.

Proses pencarian penyebab itu dimulai dari bertemu pasien untuk mengetahui keluhan, pemeriksaan fisik, sampai pemeriksaan laboratorium seandainya diperlukan.

Sisi psikis pun turut ditelusuri karena banyak kasus DE berasal dari beban pikiran.

Kalau masalahnya ada di pikiran, mau diberi Viagra terus juga percuma. Selama beban pikiran itu masih ada, DE tak akan hilang.

Malah, ada kasus DE yang bisa ditangani tanpa keterlibatan obat.

Misalnya, dengan merubah gaya hidup seperti berhenti merokok, istirahat cukup, dan makan dengan gizi seimbang.

Bila Anda tak bisa mendapatkan ereksi yang kuat untuk penetrasi seksual atau mempertahankannya, maka Anda disebut mengalami disfungsi ereksi.

Walau disfungsi ereksi terjadi di tempat tidur, bukan berarti masalahnya harus ditutupi.

Pada kebanyakan kasus, disfungsi ereksi bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan serius. Karena itulah penting untuk menyampaikannya saat sesi konsultasi dengan dokter.

Ada berbagai macam penyebab DE, mulai dari gangguan sirkulasi darah, cedera, atau penyakit yang memengaruhi saraf bisa menyebabkan seorang pria kesulitan mendapatkan ereksi.

Kebanyakan disfungsi ereksi terjadi karena adanya penyakit tertentu, misalnya diabetes, aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah), penyakit jantung, atau hipertensi.

Untuk mendapatkan penis yang tegang, Anda membutuhkan aliran darah yang cukup ke organ ini.

Karena itu setiap kerusakan pada pembuluh darah bisa mengganggu sirkulasi darah ke bagian penis.

Kabar baiknya, jika kondisi medis tersebut diatasi, maka gangguan ereksi bisa hilang.

Operasi prostat atau kandung kemih karena adanya kanker berpontesi merusak saraf dan arteri yang berlokasi dekat penis sehingga menyebabkan DE.

Penelitian menunjukkan, obat-obatan oral seperti sildenafil atau levitra, suntikan dan alat vakum bisa memperbaiki ereksi pasca operasi.

Biang keladi gangguan ereksi Anda bisa jadi berasal dari lemari obat.

DE bisa terjadi sebagai efek samping obat-obatan yang dikonsumsi, misalnya antidepresan, antihistamin, obat penurun tekanan darah, serta penekan nafsu makan.

Pikiran berperan penting dalam fungsi seksual. Stres, kecemasan, dan depresi bisa menyebabkan organ vital Anda menjadi loyo.

Tags : slide