close
Nuga Life

Awas, Disfungsi Ereksi Sinyal dari Penyakit

Disfungsi ereksi?

Ya. Kasus ini merupakan ketidakmampuan pria untuk memulai atau mempertahankan ereksi saat berhubungan seksual.

Dampaknya, tidak hanya munculnya rasa kurang percaya diri pada tapi juga bisa menandai mereka menderita penyakit jantung dan lainnya.

Apa Anda tahu disfungsi ereksi itu bisa dibagi menjadi dua kategori?

Bisa organik dan psikogenik.

Lantas, apa bedanya?

Menurut para ahli, disfungsi ereksi organik disebabkan oleh adanya gangguan penyakit pada saraf hingga hormonal.

“Disfungsi ereksi organik bisa disebabkan karena ada gangguan arteri, hipertensi, diabetes, hiperlipidemia atau Kolesterol tinggi, dan pada orang yang pernah operasi prostat.

Penyakit tersebut berkaitan dengan terganggunya pembuluh darah, termasuk pembuluh darah di penis.

Kekurangan hormon testoteron dan peningkatan hormon prolaktin juga dapat menyebabkan ereksi yang keras sulit dicapai.

Disfungsi ereksi organik terjadi secara perlahan yang lama-kelamaan dapat merusak jaringan erektil di penis.

Sementara itu, disfungsi ereksi psikogenik disebabkan oleh faktor psikis dan emosional seseorang.

Tipe disfungsi ereksi ini tidak permanen dan jaringan erektil tetap sehat karena hanya terjadi pada saat-saat tertentu, misalnya depresi, stres, dan kurang percaya diri.

Misalnya seorang pria baru dipecat dari kerjaannya, mood jelek, dia akan sulit ereksi saat berhubungan karena pikirannya kacau.

Kebanyakan kasus disfungsi ereksi yang ditemukan adalah gabungan antara organik dan psikogenik.

Kedua tipe disfungsi ereksi ini harus diketahui terlebih dahulu untuk mendapat pengobatan yang tepat.

Kebanyakan disfungsi ereksi enggak murni organik, biasanya juga psikogenik. Awalnya dia disfungsi organik, tetapi hal itu membuat tidak percaya diri. Akhirnya malah memperburuk disfungsi ereksi.

Disfungsi ereksi merupakan ketidakmampuan pria untuk memulai atau mempertahankan ereksi saat berhubungan seksual.

Banyak pria akhirnya merasa kurang percaya diri karena mengalami disfungsi ereksi.
Padahal, disfungsi ereksi bisa diobati.

Kebanyakan pria memilih minum obat-obatan seperti pil biru untuk mengatasi disfungsi ereksi.
Tapi, obat-obatan itu sifatnya hanya sementara.

Jika jaringan erektil, yaitu jaringan dalam penis telah rusak, obat-obatan tak ampuh lagi mengatasi disfungai ereksi

Dalam dunia medis, cara terkini mengatasi disfungsi ereksi adalah dengan metode Extracorporeal Shock Waves for Sexual Therapy.

ESST merupakan metode pengobatan disfungsi ereksi tanpa bedah dan obat-obatan.

ESST melakukan pemulihan jaringan erektil. Kalau obat, hanya bisa bekerja pada jaringan erektil yang sehat.

ESST merupakan metode pengobatan yang menggunakan gelombang kejut. Dokter urologi akan menggunakan alat ESST di lima titik pada penis. Setiap kali kita tempelkan alat, energi yang kita berikan sudah terukur kurang lebih tiga ratus sontakan.

ESST hanya untuk tipe disfungsi ereksi organik, yaitu terjadi masalah pada pembuluh darah maupun jaringan erektil.

Tipe ini bisa terjadi karena faktor usia atau karena memiliki riwayat penyakit seperti diabetes dan hipertensi.

ESST akan memperbaiki peredaran darah di penis.

Dengan begitu, pria akan kembali bisa ereksi.

Dan Anda jangan anggap sepele jika mengalami disfungsi ereksi.

Disfungsi ereksi ternyata menjadi sinyal kemungkinan seseorang terkena penyakit jantung koroner.

Disfungsi ereksi ternyata bisa menjadi preditor atau bisa meramalkan gangguan yang akan timbul setelahnya, yaitu sakit jantung

Sebuah penelitian mengungkapkan pria dengan disfungsi ereksi kemungkinan mengalami sakit jantung pada tiga tahun berikutnya.

Apa hubungannya?

Seorang yang mengalami disfungsi ereksi bisa terjadi karena gangguan pembuluh darah di penis.

Pembuluh darah yang terganggu, menyebabkan darah tidak mengalir dengan baik di penis, sehingga sulit ereksi.

Begitu juga yang bisa terjadi dengan pembuluh di jantung. Aliran darah ke jantung pun menjadi tidak lancar.

Disfungsi ereksi merupakan ketidakmampuan pria untuk ereksi atau mempertahankan ereksi saat berhubungan seksual.

Untuk itu, pria yang mengalami disfungsi ereksi sebaiknya mewaspadai penyakit kardiovaskuler dan juga memeriksakan kesehatan jantung.

Tak hanya penyakit jantung, disfungsi ereksi pun perlu ditangani untuk meningkatkan kualitas hidup.