close
Nuga Bola

“The Saint” v MU, Laganya Koeman-van Gaal

Laga paling krusial di Premier League, Selasa dinihari WIB, 09 Desember 2014, di St Mary’ Stadium antara Southampton melawan Manchester United bukan hanya sekadar “reuni” Louis van Gaal dengan mantan asistennya di Barcelona dan Ayax, tapi juga pertaruhan kedua untuk bisa bertahan di posisi elit Premier League, empat besar.

Baik Southampton maupun Manchester United, hingga Senin dinihari WIB, 08 Desember 2014, mengalami pergeseran posisi usai West Ham menyodok ke posisi tiga klasemen dan membuat deret hitung poin dengan “Soton” dan “The Red Devils,” di posisi empat dan lima.

Laga “Soton” dan MU di prediksi oleh pengamat dan analis sepakbola Premier League dikatakan sangat krusial karena akan kembali mengubah klasemen. Bila MU yang memenangkan pertandingan, klub Old Trafford itu akan mengganti posisi West Ham dan mencampakkan “Soton” ke posisi lima. West Ham akan berada di empat besar.

Tapi kalau MU yang kalah, Soton bakal mengudeta kembali West Ham untuk turun ke posisi empat dan MU akan tetap di lima besar

Untuk itulah, laga pekan kelima belas Premier League ini ditulis sebagai laga emosional dan “krusial” oleh media Inggris.

Emosional, karena faktor hubungan kedua pelatih. Ronald Koeman, seperti halnya Jose Mourinho, bukanlah sosok yang asing di mata Louis van Gaal.

Ketika ditunjuk untuk menggantikan Bobby Robson untuk menangani Barcelona, van Gaal dikenalkan pada seorang pria yang lebih muda yang tadinya hanya berstatus sebagai penerjemah. Pria itu adalah Mourinho. Robson meyakinkan bahwa Mourinho punya bakat yang luar biasa dan cocok untuk dijadikan asisten pelatih. Van Gaal pun menuruti permintaan Robson tersebut.

Semusim berselang, Van Gaal menggaet Koeman untuk menjadi asistennya juga. Maka, pada suatu masa di Barcelona, terdapat tim di mana Van Gaal jadi pelatihnya dengan Koeman dan Mourinho sebagai asistennya, serta Pep Guardiola dan Luis Enrique sebagai pemain di dalam skuat.

Waktu berjalan, kini asisten-asisten dan pemain-pemain yang pernah berada di bawah arahan Van Gaal itu menjalani karier masing-masing sebagai manajer.

Musim ini, Van Gaal sudah berjumpa dengan Mourinho. Tidak ada pemenang ketika itu karena United dan Chelsea di Old Trafford. Kini, Van Gaal akan menghadapi Koeman yang menangani Southampton.

Hubungan Van Gaal dan Koeman terbilang unik. Keduanya terbilang dekat, tetapi ketika Koeman menjadi manajer Ajax dan Van Gaal menjadi direktur teknik-nya pada 2004, hubungan keduanya menjadi buruk.

Keduanya dikabarkan terlibat konflik internal yang menyebabkan Van Gaal mengundurkan diri pada awal 2005 –untuk kemudian menangani AZ Alkmaar.

Bagaimana hubungan keduanya sekarang? Van Gaal enggan mendiskusikannya. Dalam konferensi pers sebelum laga, Van Gaal memilih untuk sedikit mengelak dari pertanyaan.

“Saya tidak harus menjelaskan hubungan saya dengan manajer dari tim lawan. Saya pikir, itu urusan pribadi. Kami akan bermain melawan Southampton, jadi seharusnya kita membicarakan Southampton, bukan manajernya,” ujar Van Gaal.

Namun, ketika ditanya apakah dirinya berpikir Koeman telah melakukan pekerjaan yang bagus di Southampton, mengingat banyaknya pemain yang hengkang, Van Gaal memberikan sedikit pujian. Hanya saja, dia juga mengingatkan bahwa United juga kehilangan banyak pemain musim ini –akibat cedera.

“Saya sudah membaca itu juga di media. Tapi, tahukah kalian berapa banyak kami kehilangan pemain? Kalian tidak pernah membahasnya. Saya tidak pernah membacanya di media.”

“Maaf saja, kami kehilangan lebih banyak pemain.”

“Tapi… Ronald Koeman adalah pelatih yang bagus dan saya tahu dia bisa berhasil. Mengejutkan memang klub seperti Southampton bisa berada di posisi tersebut (posisi ketiga klasemen, red). Tapi, ingatlah bahwa itu selalu hasil dari pekerjaan manajer, pemain, dan staf.”

“Jika mereka bisa melakukannya, itu adalah pekerjaan yang amat bagus,” kata Van Gaal.

Ketika ditanya tentang performa Pelle yang moncreng sebagai striker Soton, van Gaal tidak terkejut. Apalagi van Gaal adalah sosok yang membawa Pelle mencicipi atmosfer liga Belanda bersama AZ Alkmaar.

“Saya tidak terkejut atas kesuksesan Pelle karena saya membelinya di AZ karena memiliki poin sebagai penyerang. Saya akan berkata tentang Van Persie sebagai penyerang yang memiliki tipikal permainan yang serupa, tidak hanya penyerang yang dapat mencetak gol,” papar Van Gaal.

“Pelle juga sangat kreatif, ia selalu melihat orang ketiga. Van Persie juga demikian, para penyerang seperti itulah yang saya suka. Jadi saya tak terkejut, kejutan mungkin karena ia telah mencetak sembilan gol -itu cukup banyak- tapi ia dapat melakukannya, saya tahu itu,” sambungnya.

Lantas, siapa penyerang favorit Van Gaal? Dari banyak klub dan pemain yang pernah ia tangani, pelatih berjuluk Si Tulip Besi itu memilih Shota Arveladze. Penyerang yang berasal dari Georgia.

“Saya memiliki Shota Arveladze, satu dari penyerang terbaik yang pernah saya latih sepanjang karier. Saya banyak melatih penyerang, tapi ia merupakan salah satu yang terbaik dan Pelle harus bersaing dengannya,” pungkas mantan pelatih Timnas Belanda itu.