Perang Berita Hoax? Sulitnya, Ya Ampun

Penulis: Darmansyah

Senin, 9 Januari 2017 | 14:33 WIB

Dibaca: 1 kali

‘Perang” terhadap “hoax” di negeri ini usai banyak pejabat “dimakan” oleh berita-berita “miring” di media sosial ditanggapi skeptis oleh banyak ahli teknologi informasi.

Sikap skeptis ini didasarkan atas berbagai kasus global yang mendapat hasil hampa dari upaya mereka memerangi berita hoax ini.

Sebut saja kasus pemilihan presiden di Amerika serikat yang memenangkan Donald Trumph lewat bantuan berita hoax yang dilancarkan Rusia.

Layanan jejaring sosial itu memang tak dituduh punya kerja sama khusus dengan tim kampanye Trump.

Hanya saja, algoritma pada News Feed Facebook dikatakan secara tak langsung membantu menaikkan pamor Trump.

Pasalnya, algoritma News Feed berusaha menemukan artikel yang memiliki interaksi tinggi, menyodorkannya, tanpa peduli berita itu benar atau keliru.

Menanggapi ramainya tuduhan ke Facebook, CEO Mark Zuckerberg menegaskan berita pada News Feed sembilan puluh sembilan persen memaparkan fakta.

Cuma satu persen yang bersifat hoax. Ia pun berjanji akan terus memperbaiki performa News Feed dan memerangi berita hoax.

“Kami tak mau ada berita hoax di Facebook. Tujuan kami adalah memberikan konten berita yang bermakna dan akurat,” kata dia, sebagaimana dilaporkan

Masalahnya, sebuah hasil studi menunjukkan berita hoax lebih cepat menyebar di internet.

Ketika ada klarifikasi atau follow up bahwa berita itu tak benar, warga maya sudah terlanjur percaya pada berita awal.

Gaung beritanya pun tak segencar berita hoax yang lebih dahulu viral.

Sebab, rata-rata berita klarifikasi tak se-viral berita pertama yang akurasinya kurang. Hal ini disadari Zuckerberg.

Ia sesumbar Facebook telah berupaya mengikis berita hoax dengan fitur flag dan berjanji akan meningkatkan kinerja layanan.

“Kami telah merilis fitur flag yang memungkinkan pengguna melaporkan berita palsu atau hoax. Masih banyak upaya kami ke depan. Setidaknya kami terus berprogres dan akan selalu meningkatkan layanan,” ia menuturkan.

“Saya yakin kami akan menemukan banyak cara untuk memberikan konten kredibel. Tapi saya juga percaya yang terpenting kita semua harus berhati-hati menyaring informasi untuk diri kita sendiri,” ia menjelaskan.

Associate profesor di University of North Carolina, Zeynep Tufekci mengatakan, ada berita hoax tentang Trump yang jadi viral di News Feed.

Berita tersebut menguntungkan Trump sebagai kandidat yang kala itu sedang berkampanye.

“Ada sebuah cerita fiktif yang mengklaim Paus Fransiskus mendukung Trump. Cerita itu dibagikan lebih dari sejuta kali, dan diprediksi dilihat oleh lebih dari 10 juta orang,” kata Zeynep.

Berita hoax yang kerap menyebar kebencian makin mewabah di internet. Google sebagai wadah pencarian informasi pun sedikit banyak berkontribusi terhadap maraknya tren tersebut.

Hal ini disadari Managing Director Google Indonesia, Tony Keusgen.

Menurut dia, Google sebagai platform selama ini cuma berperan sebagai penghimpun sehingga tak bisa mengontrol berbagai informasi yang diunggah netizen ke internet.

“Ada pihak-pihak tertentu yang memasukkan informasi palsu di internet dan terhimpun di Google. Kami belum bisa mengontrol itu,” kata

Meski demikian, ia mengatakan Google sebisa mungkin merekomendasikan informasi yang akurat di hasil pencarian teratas.

Di Google News kami bekerja sama dengan teman-teman media yang kredibel.

Tujuannya supaya ketika netizen mencari berita tertentu, yang muncul paling atas adalah berita-berita faktual dan terpercaya

Untuk pencarian mobile, Google juga menyematkan teknologi Accelerated Mobile Pages (AMP) khusus bagi orgnanisasi media yang kompeten. Fungsinya untuk meringankan artikel ketika dibuka netizen.

“Kalau website media kredibel dibuat ringan, netizen juga akan cenderung memilih membuka artikel-artikel itu,” kata dia.

Beberapa saat lalu, muncul pembeberan  bahwa berita hoax

Ada oknum-oknum yang sengaja membuat situs berita hoax untuk meraup pendapatan.

Isu penyebaran berita hoax akan menjadi perhatian Google ke depannya. Sebab, pada dasarnya raksasa mesin pencari tersebut bertujuan mempermudah masyarakat mencari informasi benar tentan apa saja.

Soal filter itu bisa kami pikirkan ke depan. Yang sudah pasti kami lakukan adalah semakin erat kerja sama dengan teman-teman media.

Lebih lanjut, ia mengimbau masyarakat umum juga berperan aktif untuk memberantas berita hoax, apalagi yang mencari duit dari situ.

Situs-situs yang menyematkan AdSense bisa dilaporkan dengan mencantumkan flag agar dikaji lebih jauh oleh Google.

Berita-berita palsu ini muncul utamanya di Facebook, Google, dan Twitter – yang masing-masing platform memiliki sistem tersendiri yang memungkinkan pengguna melaporkan berita palsu. Satu platform lebih bagus dibanding yang lain, sementara beberapa bahkan tak memiliki sistem itu.

Sebelum Anda melaporkan berita palsu itu, Anda harus terlebih dahulu bertanya pada diri Anda: apakah saya yakin berita ini palsu atau hoax? Apakah berita itu sudah dilaporkan juga oleh sumber berita yang lain? Apakah bukti-buktinya meyakinkan?

Jika Anda yakin, inilah bagaimana cara melaporkan berita palsu itu di media sosial. Kita ambil contoh sebuah unggahan tentang pemilu Amerika Serikat.

“Tim kampanye Hillary Clinton membayar ‘aktor profesional’ untuk melakukan protes dalam aksi unjuk rasa Trump,” begitu tulisnya. Tampak meyakinkan, apalagi jika diunggah oleh kerabat atau teman Anda.

Jika Anda tidak yakin dengan berita ini, klik tanda panah ke bawah yang ada di sebelah kanan atas dan pilih “report post” atau jika Anda dalam pengaturan berbahasa Indonesia, Anda bisa pilih ‘laporkan kiriman’.

Setelah itu Anda akan ditanya, “Apa yang terjadi?” Di sini, Anda diminta memilih alasan mengapa Anda melaporkan unggahan itu. Jawaban terbaik, adalah yang kedua yaitu, “menurut saya ini tidak seharusnya ada di Facebook.”

Satu hal lagi, kami merekomendasikan Anda melakukan semua opsi ini. Blokir, sembunyikan semua unggahan dari akun tersebut, dan berbagai opsi lainnya.

Jika Anda melihat berita yang mencurigakan di Facebook dan WhatsApp, ke mana biasanya Anda melakukan pengecekan?

Ya, kebanyakan orang menjawab Google!

Kepala eksekutif Google Sundar Pichai mengatakan ‘berita palsu’ tidak boleh didistribusikan, dan kami setuju.

Bayangkan apa yang kami rasakan ketika mencari berita tentang ‘pengunjuk rasa bayaran’ atau ‘paid protesters’ di Google… dan menemukan salah satu tautannya.

Ini adalah situs yang sama yang berpura-pura menjadi ABC News, yang kami tampilkan di atas.

Jika Anda ingin memberi tahu Google, Anda harus pergi ke paling bawah laman dan mengklik ‘feedback’.

Beri keterangan yang jelas dan masukan tautan yang Anda laporkan.

Misalnya, tulis bahwa, “Hasil pencarian paling atas adalah situs berita palsu dan isinya tidak benar.”

Jangan lupa melakukan ‘screenshot’ dan mereka bahkan meminta Anda menunjukan mana kalimat-kalimat yang tidak benar.

Komentar