close
Nugatama

Banyak Pulau

Saya tidak menyesal pulau-pulau di kepulauan banyak batal di kapling murban energy menjadi resort ciamik. Batal karena memorandum of understanding-nya gagal ditanda-tangani.

Tidak menyesal ketika pagi kemarin seorang teman menelepon dan menanyakan apakah saya menyesal dengan gagalnya investasi resort itu.

Investasi yang gagal karena sang investor kelewat nyinyir minta banyak fasilitas. Biasalah di dunia investasi. Minta lapangan terbang representative, kapal cepat penyeberangan super dari singkil dan entah apa lainnya.

Bahkan murban energy minta yang nggak-nggak. Minta kawasan zona ekonomi khusus untuk pariwisata terus tax holiday-penangguhan pajak, penghapusan pajak ppn terhadap material yang akan masuk.

Nah kalau selain dari penangguhan tax holiday dan penghapusan pajak ppn terhadap material yang akan masuk pemerintah sih oke.

Tapi kalau mengenai pajak jangan main-main. Ini menyebabkan menteri keuangan sri mulyani berang. Dan meradang dengan mengatakan: tidak.

Kalau disetujui kan sama saja menyetujui orang mengemplang pajak. Padahal Anda tahu dari pajaklah kegiatan negara ini dibiayai.

Kata tidak dari sri mulyani ini menyebabkan semua institusi diam. Soalnya yang ngomong pemegang brankas.

Lantas murban energy balik badan. Nggak mau melanjut rencana investasi. Investasi resort. Ya sudah..

Tentu kata tidak sri mulyani ini beda dengan kata tidak milik saya.

Kata tidak saya bukan masalah pendapatan negara. Apalah saya dibanding dengan bu sri yang bisa mencari utang dan menggelontorkan hepeng dalam jumlah yang antahlah…

Kata tidak saya ada ujung“ menyesal”nya, Tidak menyesal untuk gagal.

Tidak menyesal karena kepulauan banyak masih tetap menjadi pulau banyak. Pulau banyak yang menjadi bintang keindahan donya di otak saya. Bukan di otak para pejabat dan politisi.

Kalau pejabat dan politisi kepentingannya beda. Bedanya saya tidak mau memakai investasi itu sebagai kendaraan. Kenderaan bermuatan kata-kata yang dipunggah untuk popularitas dan hepeng perjalanan.

Seperti yang saya baca disebuah media tentang seorang ketua partai di daerah yang duduk di kursi empuk senayan menyesalkan dan mempertanyakan kegagalan rencana investasi tujuh triliun rupiah lebih itu.

Saya tak mau menyebut nama politisi itu. Hanya mau menulis tentang kemarahannya di sebuah rapat kerja dengan menteri investasi  karena katanya : rakyat aceh kecewa.

Saya tak tahu rakyat aceh mana yang kecewa itu. Saya juga rakyat aceh kok! Tapi nggak kecewa. Nggak kecewa karena pulau banyak itu “kampung” halaman saya di aceh “ketelatan” dan tak mau jadi kapling

Bahkan kepada seorang teman sail saya ketika ke pulau banyak pekan lalu kami ketawa ngakak tentang kata kecewa yang ia lontarkan. Ngakak karena tahu sang politisi tak pernah ke pulau banyak. Hahaha….

Ngakaknya kami juga karena pulau banyak nggak menjadi pulau abu dhabi atau pun link maldives yang telah duluan di kapling murban sebagai resort para emir-nya. Ya… ngakak senang.

Sejak awal mendengar  para emir dari uni emirate arab akan mengkapling pulau balai, pulau bangkaru, pulau panjang dan pulau-pulau lainnya saya terus menulis kata tidak. Tidak setuju. Semoga… tak jadi.

Kata tidak itu merupakan bagian dari ketakutan saya terusir untuk menikmati diving dan snorkeling yang menjadi agenda tahunan ke pulau itu.

Kalau pun tidak terusir so pasti saya harus membayar mahal sekali…..untuk dapat menjejak pulau-pulau itu kalau di kapling emir. Maklum cuan saya kan peeng picah yang nggak bisa menebus sewa resort.

Bahkan ketika memorandum of understanding tak jadi ditandatangani  beberapa bulan lalu bersamaan dengan kunjungan Jokowi ke Abu Dhabi saya menulis dengan gaya mengejek

Mengejek dengan kata “gelembung investasi murban energi akhirnya pecah.”

Isinya?

Ups. Ingin tahu aja.  Uap angin.

So pasti bukan agrement atau persisnya kesepakatan. Jalan kesana, seperti di sampaikan seorang rekan, pada waktu itu,  yang namanya nggak usah di sebut. takut dibreidel, masih terapung.

Masih akan ada studi ulang dan perbaikan persyaratan. Yang nyatanya kemudian  hang…diterbang angin. Bukan lagi uap angin.

Sang rekan, yang sudah puluhan tahun bermukim  di Abu Dhabi, dan menjadi supervisor di perusahaan capital investment, hanya tertawa ketika saya interogasi tentang bubarnya rencana resort itu..

“Ah… nggak usahlah saya ditanyai macam pesakitan. Anda kan seorang jurnalis beken. Bukan wartawan odong-odong,” katanya dalam nada canda diiringi tawa lepas ketika saya bertanya secara depth.

“Pepesan kosong ya?” tanya saya mengejar jawabannya sebelum ia tertawa lagi. “Entahlah?” jawabnya mengalihkan pembicaraan tentang bagaimana dengan kondisi Pulau Banyak hari-hari ini.

Pembahasan tentang keindahan Pulau Banyak akhirnya menjadi topik utama kami hari itu.

Maaf, sekali lagi saya tak ingin menyebut dan menulis namanya dalam tulisan ini.

Untuk Anda tahu, sang rekan  yang saya interogasi itu adalah anak “ketelatan” yang sukses menapak karir sebagai prefesional di bidang investasi.

Anak “ketelatan” ini merupakan sebutan heboh kami sejak remaja bagi mereka yang “keluar” dari Aceh Selatan di akhir tahun enam puluhan

Ia memang anak “ketelatan” yang  berasal dari sebuah desa terpencil di ujung Bakongan. Melewati jenjang pendidikan sekolah menengah  di Tapaktuan untuk kemudian  beringsut melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di salah satu universitas di Jawa.

Sejak mula ia memang senang dengan hitung-hitungan dan menyelesaikan pendidikan akutansinya dengan cumlaude dan bekerja di Jakarta, Singapura, Taiwan serta ke Abu Dhabi.

“Saya concern dengan investasi resort di Pulau Banyak Namun tidak terlalu senang dengan investor luar. Kenapa nggak di bangun lewat kreatifitas anggaran daerah atau pusat. Kok dikit-dikit asing,” katanya dengan nada tinggi.

Masih dengan suara baritonnya, sang rekan, memberitahu bahwa Murban Energi itu ada adukan Cinanya. Kelak mereka akan menyerahkan manajemenya dengan Cina dan ujungnya akan masuk tenaga kerja Tiongkok.

“Aneuk aso lhok i pe tak. Alasannya sepele, nggak bisa kerja. Kita akan dapat remeh temehnya.”

Saya mengamini celotehan sang rekan.  Ia banyak benarnya. “Investor asing itu nyinyir lho bang. Mereka ingin safety saja. Mereka selalu mengecilkan faktor resiko. Yang digimbalnyakan kita,” tambahnya.

Saya hanya bisa menyahut di ujung pembicaraan, Wallahualam…

Terlepas dari ocehan ala meunasah berbasis intelektual sang rekan, terbangnya  gelembung investasi Murban Energi di Pulau Banyak, yang isinya hanya angin surga itu,  memang sudah saya prediksi dan analis dalam dua tulisan terdahulu.

Sebagai jurnalis yang dibesarkan oleh media berjargon investigasi reporting dan beriklan “enak di baca dan perlu,” saya menangkap ada keluguan dari ekspose pejabat lokal dan pusat tentang investasi ini.

Nggak percaya?

Bacalah isi media, baik cetak maupun medsos, yang mengutip keterangan banyak pejabat saat itu. Pejabat kabupaten, provinsi hingga pusat. Termasuk ngomong Luhut Binsar Panjaitan.

Semua isinya kutipan yang dari judul hingga isinya hanya kalimat tanya.

Tak ada jawaban di sana.

Ya … sudah.

Kenyataannya?

Sama-sama tahulah. Tahu juga Anda dan saya tentang harga selembar kertas bernama draft mou yang disiapkan tidak dengan makan gratis.

Memang tak ada makan siang gratis.

Tags : slide