Harga Emas “Terbang” dan Dollar Tertekan

Penulis: Darmansyah

Kamis, 22 Maret 2018 | 08:02 WIB

Dibaca: 1 kali

Harga emas hari ini, Kamis, 22 Maret, “terbang” ke level tertingginya dalam dua minggu terakhir.

Penguatan harga emas tersebut didorong sentimen dolar Amerika Serikat tertekan usa the Fed prediksi hanya menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun ini.

Hal itu menunjukkan the Federal Reserve tidak terburu-buru menaikkan suku bunga dari yang diharapkan.

Harga emas pun ditransaksikan di kisaran naik untuk tiap ounce-nya. Harga emas naik hampir dua persen, pasnya satu koma lima puluh sembilan persen.

Sementara itu, indeks dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang. Itu penurunan terbesar sejak akhir Januari lalu.

Senior Ekonom CIBC World Markets, Andrew Grantham menuturkan, pergerakan harga emas mendapatkan keuntungan dari dolar AS melemah.

Halini karena investor bertaruh kalau the Federal Reserve akan member sinyal kenaikan suku bunga sebanyak empat kali pada tahun ini.

“Saya melihat the Federal Reserve optimistis tetapi mereka tidak agresif. Ini mengecewakan buat dolar AS. Lewat pertemuan ini sulit prediksi suku bunga naik sebanyak empat kali,’ ujar Grantham, seperti dikutip dari laman Kitco, Kamis pagi WIB.

Sementara itu, Colin Cieszynski, Chief Market Strategist SIA Wealth Management menuturkan, bank sentral tidak agresif itu membuat pelaku pasar fokus terhadap risiko utang pemerintah.Ini mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

“Jika stimulus tidak mendorong pertumbuhan di atas tiga persen maka tidak ada alasan the Federal Reserve mengakselarasi kenaikan suku bunga. Itu dapat sakiti dolar AS,” kata dia.

Pada konferensi pers, Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell mengatakan, pemangkasan pajak pada Desember dapat mendorong ekonomi tumbuh di atas tiga persen.

Ia menambahkan, ekonomi AS perlu kenaikan produktivitas untuk mendorong ekonomi tumbuh tiga persen. Bank sentral AS prediksi ekonomi AS tumbuh  dua koma tujuh persen pada berjalan.

Cieszynski menuturkan, harga emas dapat menguat dalam jangka pendek. Akan tetapi belum ada momentum untuk mendorong harga emas.

Ia menekankan bank sentral belum ada lunak soal menaikkan suku bunga. Harga emas berpotensi ke posisi USD 1.360 per ounce.

“Jika harga emas sentuh USD 1.360 maka kita punya level baru. Hingga itu terjadi pasar akan coba level tersebut. The Federal Reserve tidak terlalu agresif akan dorong harga emas turun tetapi saya rasa tidak akan di luar jangkauan harga emas,” jelas dia.

Sebelumnya, dalam dua pekan terakhir, harga emas melemah ke posisi terendah

Pergerakan dolar Amerika Serikat yang didukung ketegangan politik telah menekan harga emas.

Analis SIA Wealth management, Clon Cieszynski menuturkan, perdagangan menjelang akhir pekan menunjukkan dampak gejolak politik mereda. Investor fokus terhadap ekonomi dan kebijakan moneter the Federal Reserve.

“Penutupan harga emas lebih rendah pada pekan ini menunjukkan tren pelemahan. Ini bisa melihat level support emas,” ujar Mark O’Byrne, Direktur Goldcore, seperti dikutip dari laman Marketwatch.

Namun, dia menuturkan, level tersebut juga perlu didukung seiring ada faktor penguatan mendukung harga emas.

Sentimen mulai dari gejolak pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, risiko perang dagang, dan meningkatnya ketegangan antara AS, Inggris, NATO dan Rusia.

Pelaku pasar mempertimbangkan potensi gejolak pemerintahan Trump. Hal ini mengingat kabar Trump berencana memberhentikan penasihat keamanan nasional HR.McMaster.

Sebelumnya Trump memberhentikan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson.

Kekhawatiran perang dagang juga bayangi harga emas. Investor cemas kemungkinan perang dagang antara AS dan mitra dagang utama.

Apalagi Gedung Putih menyatakan akan memangkas defisit perdagangan dengan China sebesar US$ 100 miliar dengan penerapan tarif.

Komentar