Tokyo Tuan Rumah Olimpiade 2020

Penulis: Darmansyah

Minggu, 8 September 2013 | 19:42 WIB

Dibaca: 0 kali

Tokyo mengalahkan Istanbul dalam pertarungan meraih tuan rumah Olimpiade 2020. Ibu Kota Jepang tersebut menang dalam pemungutan suara yang dilakukan oleh Komite Olimpiade Buenos Aires, Argentina, Minggu dini hari WIB.

Tokyo bersaing bersama Istanbul dan Madrid dalam perebutan tuan rumah Olimpiade ini, dan di putaran terakhir berhasil mengalahkan Turki. IOC menilai Tokyo memiliki kemampuan yang lebih untuk menjadi tuan rumah dalam ajang Olimpiade. Sedangkan Turki, IOC menilai memiliki masalah dalam keamanan dan Madrid terbelit masalah perekonomian.

Presentasi yang dilakukan Princess Takamado mampu meyakinkan banyak anggota IOC, bahwa Jepang dalam kondisi aman dan stabil perekonomiannya mampu menjadi tuan rumah pesta olahraga terbesar di dunia tersebut.

Seperti dilaporkan BBC, presentasi dalam pemilihan terakhir ini berhasil meraih simpati para peserta. Madrid yang telah mencalonkan diri sebanyak tiga kali langsung tersingkir di putaran pertama, sedangkan Istanbul yang telah lima kali mencalonkan diri tersingkir di putaran terakhir.

Jepang menjadi tuan rumah Olimpiade setelah terakhir kalinya menyelenggarakan pesta “akbar” ini pada 1964. Tokyo mencalonkan diri untuk kali keempat, dengan dua kali gagal pada 1960 dan 2016

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe tengah berbunga-bunga, setelah mendengar kabar bahwa Tokyo terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade 2020. Event itu menurutnya bakal membawa harapan positif bagi rakyat Jepang.

Abe pun mengaku punya momen istimewa saat Olimpiade digelar di Jepang pada 1964. Menurutnya, momen itu sangat baik ia kenang. “Saya hadir saat upacara pembukaan di Tokyo pada 1964 dan melihat ribuan merpati dilepas ke udara dan membuat formasi cincin Olimpiade. Itu sungguh menakjubkan bagi saya yang masih berumur 10 tahun,” cerita Abe, seperti dikutip Arabtimesonline.

Jepang sempat mengalami krisis kepercayaan internasional, ketika tsunami dan gempa membuat reaktor nuklir di Fukushima meledak Maret 2011. Imbasnya, dunia internasional meragukan keamanan Jepang. Event MotoGP di Motegi pada 2011 pun nyaris berantakan, karena sejumlah pembalap khawatir terkena radiasi nuklir.

Beruntung, situasi ini cepat teratasi. Jepang pun fokus untuk menolong para korban yang masih selamat dari tragedi itu. Selain bantuan obat-obatan dan finansial, olahraga menjadi faktor penting bagi pemulihan mental korban, terutama anak-anak. Adanya event-event olahraga di Jepang, bisa membuat program rehabilitasi pasca gempa semakin baik.

“Saya berjumpa dengan seorang anak di area yang terkena dampak, dia memegang bola berwarna-warni yang diberikan seorang pesepakbola dari luar negeri saat datang mengunjungi area itu,” ujar Abe.

“Bola itu bukan hanya sekadar bola baginya. Itu melambangkan harapan di masa depan. Hari ini di bawah langit biru Fukushima di sana ada anak-anak bermain sepakbola dan melihat masa depan bukan masa lalu,” urainya lagi.

Kekalahan Istanbul membuat rakyat Turki kecewa berat. Mereka telah berkumpul di alun-alun seluruh kota di Turki untuk merayakan kalau kemenangan itu datang. Tapi mereka kecewa. Lewat televise layar lebar yang di pasang di hampir seluruh sudut Istanbul memberitakan kegagalan kota di Selat Bosporus itu untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2020. Namun demikian Turki tetap komitmen mendukung penuh Olimpiade.

“Kami tentu sangat kecewa tidak terpilih, tapi kami berterima kasih kepada IOC memberikan kesempatan kepada kami. Ini pembelajaran yang bagus bagi Turki. Tapi kami tetap partner loyal dan pendukung yang bergairah seperti yang telah kami tunjukkan selama lebih dari 100 tahun,” kata ketua tim Turki, Hasan Arat, seperti dikutip, Japantimes.

Kegagalan Turki dinilai berkaitan dengan situasi terakhir dalam olahraga di negara tersebut dan suhu politik lokal maupun kawasan di mana pemerintah sempat bentrok dengan demonstran. Kasus doping di antara atlet Turki dan ketidakpastian situasi di Syria yang merupakan negara tetangga, memperburuk keadaan.

Kekecewaan juga disuarakan warga Istanbul. Rafet Pacali, misalnya, mengatakan kegagalan Turki yang kelima selama mengikuti lelang tuan rumah Olimpiade, sulit diterima. “Mereka hanya tidak ingin memberikannya kepada kami. Mudah-mudahan yang akan datang tidak,” ujarnya.

Kabar pemenang tender tuan rumah Olimpiade 2020 diumumkan tadi malam. Turki sudah cukup percaya diri bakal ditunjuk oleh IOC, sampai-sampai sebuah layar besar dipasang di depan gereja tua di Haghia Sophia, agar masyarakat bisa menyaksikan pemilihan dan merayakannya. Di lokasi atmosfernya cukup meriah di mana musik diputar meriah, dan bendera Turki yang dipasang di pinggir jalan berkibar-kibar.

Antusiasme semakin besar ketika sejam sebelum pengumuman final, IOC mengumumkan Istanbul mengalahkan Madrid, maju ke fase final untuk diadu dengan Tokyo.

Tapi pengumuman final pada pukul 23.00 waktu Istanbul membuat publik yang memenuhi halaman di depan layar lebar itu terdiam. Tokyo Mengalahkan Istanbul dengan hasil pemilihan suara tertutup, 60-36.

Padahal bila terpilih, Turki bisa menjadi negara berpenduduk mayoritas muslim pertama di daerah yang menghubungkan Eropa dan Asia yang menggelar Olimpiade. “Bukan takdir,” kata Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, seperti dikutip Turkish. Erdogan cukup kecewa karena kegagalan itu bisa berimbas kepada nasibnya dalam pemilihan mendatang.

Komentar