Karir Dani Pedrosa di MotoGP Telah Usang

Penulis: Darmansyah

Kamis, 29 Januari 2015 | 11:24 WIB

Dibaca: 2 kali

Karir Dani Pedrosa di MotoGP mulai usang dan makin menguatkan spekulai selama ini bahwa ia kemungkinan akan didepak Repsol Honda di musim mendatang bersamaan dengan datangnya “rookie” belia seperti Miller di musim 2015.

“Pedrosa dianggap sudah mulai “usang” karena momentum dalam puncak kariernya sudah berlalu,” tulis “crash” memberi analisa tentang lomba MotoGP 2015 yang akan banyak diisi oleh pebalap muda dari Moto2 dan Moto3.

“Kini Dani semakin tua dan dia mulai kehabisan kesempatan untuk mengalahkan Márquez. Pedrosa mengingatkan saya pada Luca Cadalora. Di hari yang positif, dia bisa tak terkalahkan. Tapi masalahnya, kembali lagi pada soal konsistensi,” ujar Mike Doohan yang senada dengan analisa “crash.”.

Bahkan, Mick Doohan, legenda MotoGP itu, mengungkapkan situasi Dani Pedrosa sebagai rekan setim Marc Márquez di tim pabrikan utama, Repsol Honda, makin terpojok bersamaan dengan hadirnya Jack Miller, yang dianggap partner pantas berduet dengan Márquez.

Sebelumnya, Doohan mendorong pembalap muda Australia itu untuk ditarik Honda ke tim utama untuk menggusur Pedrosa.

Buat Schwantz, sudah saatnya Honda melepas Pedrosa yang dianggap mulai usang.

“Penampilan Pedrosa lumayan bagus, tapi persaingan juga membuktikan sesuatu di mana dia tak mampu menang,” ungkap mantan pebalap MotoGP lainnya, Schwantz kepada MCN, Kamis, 29 Januari 2015.

“Coba, pembalap mana yang bisa bertahan delapan atau sembilan tahun di Honda dan gagal menang tapi masih membalap?”

“Kecuali Anda memberikan cek kosong buat Honda, saya pikir hal itu tak pernah terjadi,” lanjut jawara MotoGP musim dua puluh dua tahun lalu itu.

Sementara soal Miller, meski turut mendukung seperti halnya Doohan, Schwantz merasa rider yang digadang-gadang sebagai “the Next Casey Stoner” itu, juga perlu membuktikan diri terlebih dulu.

Miller loncat kelas dari Moto3 langsung ke MotoGP bersama Honda dengan kontrak tiga tahun. Kontrak yang menurut Schwantz merupakan “jackpot” buat Miller, kendati musim ini masih disekolahkan ke tim satelit, LCR.

“Kontrak itu memberinya keamanan karier yang luar biasa. Dia bisa mendongrak level LCR dan mungkin setelah itu dia bisa mengklaim motornya Dani di tim Repsol Honda,” ujarnya Schwantz.

“Jika dia tak mampu berada di sepuluh besar, dia bisa mengusap bokongnya dengan lembaran kontrak yang ditandatanganinya. Tapi kesepakatan tiga tahun dengan HRC di saat pertama merupakan hal spesial yang tak pernah didapat Mick dan Casey,” tutupnya.

Tentang Marc Marquez, Wayne Rainey turut umbar pujian. Tapi berbeda dari kebanyakan orang, Rainey lebih tertarik membongkar sisi lain dari gairah joki muda Repsol Honda itu.

Buat mantan rider MotoGP asal Amerika Serikat itu, Márquez dinilai pribadi bukan melulu mengutamakan kemenangan. Kemenangan memang penting, tapi bukan yang utama buat Márquez

Márquez dianggap Rainey justru punya hasrat yang lebih menggebu untuk melakoni battle atau bertarung di lintasan dengan rival-rivalnya macam Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo.

“Saya pikir sudah jelas buat saya tentang dia, bahwa dia punya gairah besar saat balapan. Dia senang bertarung dan ingin para pembalap lain memberi perlawanan. Karena ketika Anda menjalani pertarungan besar dengan saingan, entah menang atau kalah Anda akan tetap bahagia,” papar Rainey.

“Anda akan mengalami banyak emosi dan salah satu yang terbaik adalah ketika bisa menyaingi kompetitor Anda. Ketika Anda berkalan ke paddock dan selalu berpikir bahwa dengan menjadi yang terbaik adalah melihat dari hasil. Saat ini, Márquez-lah yang masih punya hasil terbaik,” tambahnya
.
Tiga kali juara dunia MotoGP itu juga angkat bicara soal rekan setim Márquez, Dani Pedrosa. Satu hal yang masih kurang dari pembalap mungil asal Spanyol itu adalah konsistensi.

“Saya pikir di masa lalu, Dani bisa tampil sangat tangguh dan kemudian di beberapa race, dia malah gagal. Saya pikir titik kelemahan Dani adalah konsistensi di keseluruhan musim,” sambung Rainey seperti dikutip MotoGP.com.

“Di mana ketika dia harusnya finis kedua, dia malah berakhir di tempat keempat. Dia selalu dibandingkan dengan Márquez dan saya rasa, terdapat gap yang besar di antara mereka,” imbuhnya lagi.

Komentar