Wanita Yang Bangun Pagi Dijauhi Depresi

Penulis: Darmansyah

Kamis, 12 Juli 2018 | 08:54 WIB

Dibaca: 1 kali

Sebuah riset terbaru mengungkapkan bahwa wanita yang bangun pagi berisiko rendah terkena depresi. Studi ini dimuat dalam Journal of Psychiatric Research.

Periset menemukan bahwa mereka yang secara alami bangun lebih awal memiliki risiko lebih rendah terkena depresi sebab mereka dapat terpapar sinar matahari lebih lama daripada mereka yang bangun siang.

Studi yang dilakukan oleh University of Colorado dan Women’s Hospital Boston ini melibatkan sebanyak tiga puluh dua ribu wanita.

Mereka memeriksa hubungan antara gangguan perasaan atau mood dan chronotype yaitu seberapa awal atau seberapa terlambat seseorang melakukan sinkronisasi dalam dua puluh empat jam sehari.

Gejala-gejala ini umumnya terwujud dalam skala mulai dari ‘morning larks‘ (mereka yang suka bangun pagi dan tidur awal) dan ‘night owl’ (mereka yang memilih rutinitas sebaliknya).

Peneliti menyimpulkan mereka yang berada pada skala ‘morning larks‘ memiliki peluang dua belas hingga dua puluh tujuh persen lebih sedikit untuk terkena depresi.

Analisis dimulai pada Sembilan tahun lalu dengan melibatkan tiga puluh dua ribu lebih perawat wanita.

Para responden rata-rata berusia lima puluh lima tahun. Setelah tes, sebanyak tiga puluh tujuh persen memiliki kebiasaan bangun pagi, sebanyak lima puluh tiga persen mereka tipe di tengah-tengah, dan sebanyak sepuluh persen adalah ‘night owl‘.

Setelah studi selesai, tim periset menemukan lebih dari dua ribu kasus depresi yang berkembang dan sebanyak  dua ratus Sembilan puluh kasus dialami mereka yang berasal dari kategori ‘night owl’.

Berdasar riset, mereka yang bangun siang lebih cenderung terkena depresi. Bahkan situasi ini bakal lebih buruk saat mereka juga ‘terikat’ dengan faktor-faktor lain seperti, hidup sendiri, merokok, dan masih single.

“Ini memberitahu kita bahwa mungkin ada efek chronotype pada risiko depresi yang tidak didorong oleh faktor lingkungan dan gaya hidup,” kata ketua tim penulis, Celine Vetter dikutip dari The Independent.

“Kapan dan berapa banyak cahaya matahari yang Anda dapatkan juga akan memengaruhi chronotype, dan paparan cahaya juga akan memengaruhi risiko depresi,” katanya.

Meski temuan mengarah pada pola tidur adalah faktor independen dari depresi, Vetter mengklarifikasi bahwa tidak serta merta mereka yang suka tidur larut dengan mudah terkena depresi.

Menurutnya, chronotype merupakan hal yang relevan dihubungkan dengan depresi tetapi ini hanya efek kecil.

Untuk mencegah tingginya risiko depresi pada wanita yang lebih suka tidur larut dan bangun siang, Vetter memberi beberapa saran.

“Coba untuk tidur cukup, olah raga, menghabiskan waktu di luar ruangan, matikan lampu saat malam, dan coba peroleh sebanyak mungkin sinar matahari seharian jika memungkinkan,” ucapnya.

Selain menyehatkan jantung, wanita yang rajin bangun pagi bisa terhindar dari depresi.

Sebuah peneitian terbaru mengungkapkan wanita yang rajin bangun lebih pagi cenderung lebih terhindar dari depresi ketimbang mereka yang sering telat bangun.

Para ilmuwan mengatakan, paparan sinar matahari mempengaruhi risiko seseorang menjadi depresi, dan wanita yang bangun lebih awal memiliki peluang dua belas hingga dua puluh tujuh persen lebih rendah.

Sebuah penelitian terhadap lebih dari tiga puluh bdua ribu wanita dengan usia rata-rata lima puluh lima tahun menemukan, mereka yang menggambarkan diri mereka sebagai tipe malam atau menengah lebih mungkin berakhir dengan penyakit mental.

Para ilmuwan mengatakan orang-orang yang suka tidur larut dapat membantu mengurangi risiko, adalah dengan bangun lebih awal.

Penelitian juga menemukan bahwa para penyuka begadang cenderung tidak menikah, dan lebih mungkin untuk hidup sendiri.

Kemudian menjadi perokok, dan memiliki pola tidur yang tidak menentu, semuanya dapat meningkatkan risiko depresi.

Penelitian ini dilakukan oleh para ilmuwan di University of Colorado Boulder, dan Brigham and Women’s Hospital di Boston.

Ini adalah penelitian terbesar yang pernah dilakukan tentang jenisnya dan mempelajari pengaruh chronotype seorang wanita, seberapa kali seseorang lebih suka tidur dan bangun, pada risiko depresi.

Peneliti mengklaim chronotype mempengaruhi risiko depresi, bahkan ketika paparan siang hari dan jadwal kerja diambil dari persamaan.

Depresi dianggap mempengaruhi satu dari sepuluh orang

“Mungkin ada efek chronotype pada risiko depresi yang tidak didorong oleh faktor lingkungan dan gaya hidup,” kata penulis studi utama dan direktur laboratorium tidur universitas, Celine Vetter, dilansir dari laman Daily Mail,.

Adapun depresi merupakan masalah kesehatan mental yang cukup umum yang dapat mempengaruhi siapa pun pada usia berapa pun.

Sekitar satu dari sepuluh orang diperkirakan mengalaminya pada suatu saat dalam kehidupan mereka, dan itu dapat menyebabkan orang merasa kesal, dan kehilangan minat pada hal-hal yang biasa mereka sukai.

Komentar