Emosi Berperan Menciptakan Kenangan

Penulis: Darmansyah

Rabu, 28 Februari 2018 | 09:30 WIB

Dibaca: 0 kali

Temuan baru mengungkap bahwa kecemasan berperan penting dalam pembentukan kenangan jangka panjang. Jika cemasnya berlebihan juga memiliki efek buruk.

Kita memiliki kenangan yang sulit dilupakan meski sudah bertahun-tahun. Sebut saja seperti perpisahan dengan seseorang yang sangat dicintai atau ciuman pertama.

Saat kejadian itu terjadi di masa lalu, ternyata otak sedang menciptakan sinapsis yang menghubungkan neuron.

Semakin kuat sinapsis yang dibuat, maka akan semakin mudah untuk kita mengakses kenangan yang pernah terjadi di masa lalu.

Menariknya, para ilmuwan dari University of Waterloo, Kanada, yang melakukan penelitian ini menemukan bahwa terciptanya sinapsis bergantung pada keadaan pikiran kita saat kejadian itu terjadi.

Salah satu hal yang memengaruhi proses pembentukan ingatan adalah kecemasan.

Temuan yang dipublikasikan dalam Brain Sciences, , menyebut bahwa kecemasan dapat memengaruhi penyimpanan ingatan secara positif.

Namun jika tidak dikelola dengan baik, maka akan menimbulkan bias kenangan sampai titik kritis.

“Orang dengan kecemasan tinggi harus berhati-hati. Pada tingkat tertentu kecemasan memang akan menguntungkan ingatan, tapi penelitian lain menemukan bahwa tingkat kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan orang mencapai titik kritis, yang memengaruhi ingatan dan perilaku,” kata rekan penulis Myra Fernandes, Ph.D.

Ketika kita mulai mengenang sesuatu, otomatis kita akan mencoba mengingat proses asli saat kejadian terjadi.

Pembentukan memori sebenarnya dipengaruhi cara otak menyandikan memori yang masuk. Ada beberapa pembagian kenangan.

Proses dangkal adalah saat kita hanya mengingat detail permukaan dan mengaitkannya dengan benda lain.

Misalnya saja Anda ingat bahwa warna cokelat adalah warna favorit ibu Anda. Satu lagi proses dalam adalah saat kita ingat benar akan detail secara keseluruhan.

Untuk mempelajari bagaimana kecemasan terlibat dalam penciptaan kenangan, peneliti menugaskan delapan puluh mahasiswa yang dipilih secara acak ke kelompok pengkodean dangkal dan dalam.

Peneliti ingin menilai tingkat kecemasan masing-masing orang dengan menggunakan skala kecemasan stres depresi, dengan nilai dari rendah ke tinggi.

Mereka diminta melihat tujuh puluh dua kata yang diletakkan pada gambar mengerikan atau netral, seperti kecelakan mobil atau kapal.

Pada kelompok pengkodean dangkal, mereka hanya diinstruksikan mencari huruf a.

Sementara kelompok pengkodean dalam diminta untuk memikirkan kata yang tepat untuk mewakili gambar.

Hasilnya, orang-orang pada kelompok dangkal yang tidak memiliki kecemasan tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik.

Hal ini jauh berbeda dengan kelompok pengkodean dalam yang memiliki tingkat kecemasan tinggi, mereka dapat mengingat kata-kata yang diletakkan di atas gambar negatif.

Dalam kedua kelompok pengkodean, peserta dengan tingkat kecemasan yang dapat diatur disebut sebagai yang terbaik dalam mengingat detail di semua kata dan gambar.

Periset juga memerhatikan bahwa individu dengan kegelisahan tinggi cenderung mengingat gambar netral sebagai kejadian negatif.

Menurut tim peneliti, ini merupakan bukti penting yang mengungkap bahwa kecemasan dapat meningkatkan memori.

Meski kecemasan yang dapat diatur terbukti menjadi keuntungan saat mengingat detail, kegelisahan yang tinggi juga mampu membuat informasi netral menjadi bias karena emosi negatif yang dirasakan selama proses pengkodean memori.

Psikolog sekaligus rekan penelitian, Christopher Lee, menjelaskan bahwa saat seseorang berada dalam pola pikir negatif, ia dapat mengubah keakuratan ingatan seseorang.

“Misalnya, sandwich makan siang Anda sebenarnya sangat lezat, tapi karena Anda teringat pertengkaran dengan atasan sebelum makan siang, sandwich itu tak jadi nikmat,” jelasnya memberi contoh.

Lee mengatakan penting untuk menyadarai bias yang mungkin terbawa ke dalam pola pikir karena hal ini dapat berpengaruh pada ingatan yang akan kita lalui.

Komentar