Daging Kambing Hipertensi? Ya, Siapa Takut

Penulis: Darmansyah

Kamis, 9 Agustus 2018 | 11:05 WIB

Dibaca: 1 kali

Makan daging kambing?

Berakibat hperyensi?

Ya, itulah pertanyaan yang mengusik dan menjadi klasik dipelataran kesehatan.

Akibatnya banyak orang yang menghindari mengkonsumsi daging kambing, karena mitos yang beredar di masyarakat mengatakan makan daging kambing bisa menyebabkan hipertensi atau darah tinggi.

Sebenarfnya tidak ada hubungan memakan daging kabing dengan hipertensi. Ia juga menjelaskan pernyataan itu hanyalah karangan orang saja.

Itu juga harus diluruskan, engga ada di buku mana pun dikatakan makan kambing bikin hipertensi, enggak ada. dikarang orang saja itu

Jika hipertensi disebabkan oleh konsumsi garam yang berlebihan yang membuat metabolisme memicu hipertensi.

Enggak betul itu, faktor hipetensi jelas, itu adalah garam, ya metabolisme garam, ada yang memang sensitif, ada yang tidak, jadi nggak ada itu kambing

Jadi kamu tidak perlu khawatir untuk tetap mengkonsumsi kambing saat lebaran haji nanti tiba, tetapi makan dengan porsi wajar ya.

Padahal daging kambing tetap lebih baik daripada daging sapi dan daging ayam, sehingga bahkan dinyatakan aman untuk dikonsumsi oleh penderita darah tinggi sekalipun.

Lalu, dari mana asalnya mitos makan daging kambing bikin tekanan darah naik?

Setiap seratus gram daging kambing kurang lebih mengandung sekitar seratus sembilan kalori.

Total kalori ini jauh lebih rendah dibanding daging sapi yang punya dua ratus lima puluh kalori dan daging ayam dengan total seratus sembilan puluh lima

Kadar kolesterol daging kambing juga lebih rendah daripada dua jenis daging ini,.

Jika ditotal, per seratus gram daging kambing hanya mengandung total lemak  dua koma tiga gram

Akan tetapi, daging kambing merupakan sumber protein hewani yang sama baiknya dengan daging ayam dan sapi.

Daging merah sudah sepatutnya dihindari untuk dikonsumsi terlalu banyak, mengingat jumlah kandungan lemak jenuhnya yang cukup tinggi.

Lemak jenuh telah lama dikenal dapat meningkatkan kolesterol dan memicu penyakit jantung. Oleh karena itu, asupan lemak jenuh dari makanan tidak boleh melebihi dari dua puluh gram setiap hari.

Namun daging kambing sebenarnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena kenaikan tekanan darah setelah mengonsumsinya tetap tergolong lebih kecil daripada daging sapi atau ayam. Ini karena kandungan lemak jenuh daging kambing yang jauh lebih rendah dari keduanya.

Lemak jenuh daging sapi pada umumnya berkisar sekitar enam gram, dan ayam mengandung hampir dua koma lima  gram lemak jenuh per porsinya.

Daging kambing justru diperkaya oleh lemak tak jenuh, sekitar sagtu gram per porsi, dibanding daging sapi atau ayam.

Lemak tak jenuh adalah jenis lemak baik yang membantu menyeimbangkan kadar kolesterol darah, mengurangi peradangan dalam tubuh, dan menstabilkan detak jantung.

Makan daging kambing tidak menyebabkan hipertensi. Namun demikian, ada beberapa faktor yang secara tidak langsung menyumbang kenaikan tekanan darah setelah mengonsumsinya.

Tekanan darah tinggi setelah makan daging kambing cenderung disebabkan oleh teknik memasak yang salah.

Olahan daging kambing di Indonesia seringnya digoreng dulu sebelum diolah lebih lanjut, atau dipanggang dan dibakar untuk sate dan kambing guling.

Memasak dengan cara digoreng, dibakar, atau dipanggang akan meningkatkan kalori makanan daripada versi mentahnya.

Ditambah lagi, mengolah daging dengan cara-cara ini seringnya membutuhkan banyak minyak goreng, mentega, atau margarin yang akan berubah jadi lemak dan diserap cukup banyak oleh daging.

Suhu panas ketika menggoreng atau memanggang membuat kandungan air di dalam makanan menguap hilang, dan digantikan posisinya dengan lemak yang berasal dari minyak.

Lemak yang terserap ke dalam daging kemudian menyebabkan makanan yang tadinya rendah kalori menjadi berkalori tinggi.

Di samping itu, penggunaan beragam bumbu penyedap selama memasak juga secara tidak langsung menjadi faktor pemicu tekanan darah tinggi setelah makan daging kambing.

Terlebih jika dimasukkan berulang kali untuk menyesuaikan rasanya. Bumbu penyedap masakan seperti kecap, garam, hingga mecin mengandung sodium tinggi dan pengawet yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi jika dikonsumsi berlebihan.

Daging kambing juga sering diolah menjadi makanan bersantan, entah itu digulai atau dijadikan kari. Meski santan secara alami tidak mengandung kolesterol, tetapi kandungan lemak jenuhnya cukup tinggi.

Jadi, bila Anda ingin tetap makan daging kambing tanpa mengkhawatirkan risikonya bagi kesehatan, sebaiknya hindari olahan daging kambing yang disebutkan di atas. Anda bisa mengolah daging kambing dengan cara dimasak jadi sop atau ditumis.

Pastikan Anda juga menyeimbangkan nutrisi saat makan daging kambing. Jangan cuma makan daging dan nasi saja, misalnya. Perbanyak sayuran yang kaya serat, vitamin, dan mineral untuk menemani Anda makan daging kambing.

Makan daging kambing bukanlah penyebab utama dari melonjaknya tekanan darah tinggi Anda. Oleh karena itu, sah-sah saja untuk tetap makan daging kambing.

Tapi Anda harus tetap membatasi porsinya. Karena apapun jenis dagingnya, jika tinggi lemak dan dikonsumsi secara berlebihan, semua daging sebenarnya sama-sama berisiko meningkatkan tekanan darah dari penumpukan lemak jenuh dalam tubuh.

Terlebih lagi, risiko tensi darah naik dari bumbu dan cara pengolahan daging terutama bisa meningkat pada orang-orang yang sudah memiliki kolesterol tinggi sebelumnya atau penyakit lainnya.

Komentar