Asma Itu Lebih Sering “Menyerang” Wanita

Penulis: Darmansyah

Senin, 4 Desember 2017 | 15:21 WIB

Dibaca: 0 kali

Asma?

Ya, penaykit sesak nafas ini ternyata lebih sering diidap oleh perempuan dibanding lelaki

Lantas muncul pertanyaan..

Mengapa hal itu terjadi?

Belum lama ini, sebuah penelitian mengungkap mengapa asma dua kali lebih umum terjadi pada perempuan.

Para peneliti menyebutkan hal ini mungkin disebabkan oleh hormon testosteron.

Para ilmuwan tersebut juga mengatakan mengapa kecenderungan asma berubah saat remaja adalah karena hormon seksual berada di baliknya.

Tim peneliti dari Amerika Serikat memusatkan perhatian pada sel darah putih yang disebut sel ILC2. Sel ini berasal dari sumsum tulang belakang dan menjadi “unggulan” pada jaringan tubuh tertentu, termasuk paru-paru di awal kehidupan.

Ketika ada alergen yang masuk ke paru-paru, sel-sel yang melapisi saluran udara mengeluarkan protein yang memicu ILC2 untuk memperluas dan memproduksi banyak protein. Tujuannya adalah memulai serangkaian respon inflamasi.

“Kami tertarik untuk menentukan apakah hormon seks mengatur sel-sel ini, karena ini penting untuk memulai respon inflamasi dan sangat sedikit yang mengetahui tentang mereka, kata Dr Dawn Newcomb, co-author penelitian dari Vanderbilt University seperti ditulis kembali pada laman The Guardian.

Newcomb dan koleganya mulai dengan melihat kadar ILC2 dalam darah dari empat kelompok pria sehat dan empat wanita sehat, serta enam wanita dan tujuh pria dengan asma.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Report, mengungkapkan bahwa penderita asma memiliki tingkat sel ILC2 lebih tinggi daripada mereka yang tanpa asma. Selain itu, ada sedikit perbedaan pada tingkat sel untuk peserta sehat.

Wanita dengan asma memiliki sekitar dua kali tingkat sel ILC2 dibandingkan pria dengan asma.

Tim ini kemudian beralih ke tikus,dan menemukan betina dewasa memiliki lebih banyak sel ILC2 di jaring paru-paru mereka daripada jantan atau tikus muda dari kedua jenis kelamin.

Mereka kemudian melakukan serangkaian percobaan untuk memanipulasi kadar hormon pada tikus dan menyelidiki dampak pada sel ILC2.

Mereka membandingkan situasi antara tikus dengan hormon seks yang ada dalam tubuh mereka, dan tikus yang telah menggunakan testis atau ovarium mereka.

“Apa yang kami temukan adalah bahwa tikus yang kekurangan tertosteron memiliki ekspansi dan fungsi ILC2 yang lebih signifikan dibanding tikus jantan yang memiliki testosteron,” kata Newcomb.

Hasil temuan ini menunjukkan, testosteron penting dalam meredam ekspansi dan produksi dari sel ILC2 di paru-paru, menjada agar respon kekebalan tubuh tetap terkendali.

Dr Dominick Shaw, ahli asma dari University of Nottingham yang tidak terlibat penelitian ini menyambut baik temuan terbaru itu.

“Tampaknya testosteron dan esterogen mengubah jalur inflamasi ini dengan berbagai cara di dalam paru-paru tikus. Sekarang tikus jauh dari pasien… tapi masuk akal,” kata Shaw.

Shaw juga mencatat bahwa lebih banyak wanita yang menderita asma berat. Perubahan gejala asma juga sering dikaitkan dengan siklus menstruasi.

“Apa yang menarik dari data ini adalah mulai meneliti apa yang mungkin dilakukan hormon seks dalam mekanisme asma,” imbuhnya.

Shaw mengatakan bahwa penelitian ini menambah bobot usaha baru-baru ini oleh perusahaan farmasi untuk menargetkan protein tertentu yang terlibat dalam asma.

“Selama bertahun-tahun asma telah dilihat sebagai diagnosis sederhana, dan Anda hanya memberi steroid. Apa yang telah kami sadari selema lima atausepuluh tahun terakhir adalah diagnosis yang sangat kompleks dan beda orang, beda pula jenis asmanya. Kami mencoba mempersonalisasi perawatan untuk penderita asma,” kata Shaw.

“Apa yang disarankan dalam temuan ini adalah bahwa mungkin ada tanggapan deferensial berdasarkan jenis kelamin terhadap beberapa obat tersebut di kemudian hari,” tutupnya.

Selain itu asma  dapatmendatangkan berbagai macam komplikasi kesehatan jika gejalanya tidak ditangani dengan baik.

Hal ini dapat menyebabkan gangguan pada gaya hidup Anda hingga harus tinggal di rumah sakit atau bahkan kematian.

Beberapa pasien asma mengalami gejala penyakit mereka pada malam hari. Jika ini berlanjut maka akan berujung pada gangguan tidur yang serius.

Gangguan tidur kronis dapat mengganggu kemampuan anda dalam beraktivitas secara benar saat kerja maupun sekolah.

Gangguan ini bisa jadi sangat berbahaya ketika mengemudi atau bekerja dengan mesin.

Asma dapat menghalangi beberapa orang dari kegiatan latihan cardiovascular atau olahraga.

Kekurangan olahraga dapat berakibat pada munculnya resiko gangguan kesehatan lain dan penambahan berat badan.

Kekurangan kegiatan fisik juga dapat mengakibatkan depresi dan stress psikologis lainnya.

Gejala asma yang parah dan timbul terus menerus dapat mengakibatkan banyaknya absen di kantor atau sekolah.

Menurut Asthma and Allergy Foundation of America asma adalah alasan utama anak-anak untuk izin tidak masuk sekolah.

Untuk beberapa orang, asma dapat menyebabkan peradangan kronis pada saluran pernapasan. Hal ini dapat menyebabkan perubahan permanen pada struktur saluran pernapasan jika tidak diatasi dengan benar.

Hal ini biasa disebut remodeling saluran pernapasan. Perubahan ini akan terjadi pada semua struktur sel dan jaringan pada saluran asma. Perubahan ini dapat berakibat pada kehilangan fungsi paru-paru dan batuk kronis.

Menurut AAFA, asma turut berkontribusi sekitar seperempat dari keseluruhan jumlah pasien yang memenuhi ruang emergency rumah sakit di U.S.

Untungnya, hampir semua orang dapat selamat bahkan dari serangan asma yang akut dengan perawatan darurat.

Di rumah sakit, Anda akan diberikan oksigen melalui masker atau selang. Anda pasti memerlukan tanggapan yang cepat atau dosis steroid. Anda akan dipantau selama beberapa jam hingga stabil.

Dalam beberapa kasus, selang pernapasan mungkin akan dimasukkan kedalam saluran pernapasan anda untuk mengatur aliran udara kedalam paru-paru hingga gejala asma Anda dapat dikontrol.

Beberapa serangan asma dapat menyumbat aliran udara. Hal ini dapat berujung pada kegagalan sistem pernapasan bahkan kematian jika tidak ditangani dengan segera.

Bagaimanapun, AAFA juga mengindikasi bahwa banyak dari kematian ini yang dapat dicegah dengan penanganan darurat yang benar sesuai gejalanya.

Komentar