Runtuhnya “Kerajaan” Banten Ratu Atut

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 5 Oktober 2013 | 09:07 WIB

Dibaca: 0 kali

Kasus pilkada Lebak yang menyeret Chaeri Wardhana, atau akrab disapa Wawan, adik kandung Gubernur Banten, Ratu Atut Choisyah, akan menjadi awal keruntuhan kekuasaan “dinasti” Banten yang dibangun lewat “jawara” oleh “clan” Atut dalam lima belas tahun terakhir.

Kekuasaan “kerajaan” dinasti Atut ini menebarkan genggaman atas jabatan empat bupati-walikota, puluhan anggota DPRK dan limpahan uang dari rente dan” fee” berbagai proyek dan alih fungsi lahan.

Tidak hanya itu, genggaman kekuasaan ini diperkuat pula oleh pembentukan barisan “jawara” yang mengamankan kelanggengan kekuasaannya. Ratu Atut Choisiyah sebagai loko kekuasaan telah berkuasa selama “dua setengah” periode di Banten dalam jabatan pejabat gubernur dan gubernur definitf.

Selain itu ia juga menebar keluarganya dalam lingkar jabatan bupati dan walikota serta menguasai kursi perwakilan DPR dari daerah pemilihan Banten.

Dampak dari ditangkapnya Wawan sudah menjalar ke posisi Atut, dengan dicekalnya sang gubernur bepergian ke luar negeri selama enam bulan. Atut akan diperiksa oleh KPK sebagai saksi dan kemungkinan bisa juga sebagai tersangka.

Atut, menurut sahabatnya sangat terpukul dengan penangkapan Wawan, dan selama dua hari terakhir ini menghilang dari ruang publik. Ia tak menghadiri peringatan ulang tahun provinsi Banten. Dan tak diketahui pula dimana keberadaannya. Bahkan dengan pencekalan ini, rencana Atut untuk berhaji bisa batal.

Oleh banyak pengamat, termasuk Ray Rangkuti, kasus pilkada Lebak, Banten, ini akan menjadi pembalikan dari kejayaan dinasti Atut.”Ini akan melumpuhkan sekaligus meruntuhkan dinasti Banten yang telah di bangun keluarga Atut,” katanya.

Wawan, kata Ray, selama ini berperan besar dalam membangun kekuasaan di Banten. Ibarat tubuh manusia, Ray menganalogikan, Wawan adalah kepala sekaligus otak dalam mengendalikan kekuasaan di Banten.
“Meski yang berkuasa adalah kakaknya, ibunya , istri hingga ipar-iparnya, tapi semua kendali ada di Wawan,” katanya. Kendali, ia melanjutkan, bisa berupa sumber dana, pengumpulan dana hingga pembangunan sistem dinasti kekuasaan.

Ditangkapnya Wawan, menurut Ray, sama saja melumpuhkan kekuatan keluarga Atut karena hal tersebut telah meruntuhkan secara kekuatan ekonomi dan kekuatan politik keluarga Atut di Banten. “Karena kalau kepalanya sudah tidak ada, otomatis bagian-bagian lainnya akan lumpuh,” kata Ray.

Secara politik, kata Ray, penangkapan Wawan, sangat tidak menguntungkan keluarga Atut yang saat ini ikut pencalegan anggota DPR, DPRK hingga anggota DPD. Karena, dengan ditangkapnya Wawan, secara tidak langsung telah mematahkan citra keluarga Atut.

Mereka akan sulit mengkampanyekan pemerintahan yang bersih tanpa korupsi dan ini sulit dan ini juga sulit mengangkat elektabilitas. “Mau tidak mau hal ini berdampak negative terhadap citra dan elektabilitas mereka,” katanya.

KPK menangkap Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan yang juga adik kandung Gubernur Banten Ratu Atut Chosiah dikediamannya di Jalan Denpasar, Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu malam 2 Oktober 2013 sekitar pukul 23.00 WIB. Penangkapan Tubagus ini merupakan kelanjutan dari penangkapan Akil Mochtar.

Wawan selain memiliki “kekuasaan” atas Banten juga menyenangi kemewahan. Ia sering menunggang mobil sejenis Lamborghini. Parade mobil mewahnya mencengangkan banyak orang.

Wawan adalah suami dari Airin Rachmi Diany, Walikota Tangerang Selatan. Kenaikan Airin ke kekuasaan adalah atas kehendak dan dukungan Wawan. Tentu saja keberhasilannya membangun kekuasaan tidak gratis.
Harga yang dibayarkan dalam bentuk proyek mengalir deras ke wawan untuk membiayai dinastinya.

Kediaman Tubagus Chaery Werdana alias Wawan, usai penangkapannya, terlihat sepi. Bangunan dengan luas sekitar 60×30 meter itu nampak paling panjang di antara bangunan lain di sekitarnya. Terletak di Jalan Denpasar IV no 35, Kuningan, Jakarta Selatan, bangunan dua lantai tersebut kini hanya dijaga oleh empat orang.)

Nampak dalam pagar rumah Wawan terdapat empat mobil yang terpantau, yakni: Toyota Land Cruiser Prado bernopol B 1978 RFR, Toyota Land Cruiser V8 bernopol B 888 TCW, Bentley bernopol B 888 GIF dan Innova bernopol B 1558 RFY.

Sedangkan di dalam garasi, terdapat motor Harley Davidson bernopol B 3484 NWW. Ada juga mobil Ferrari dan Lamborghini. Namun berbagai mobil mewah tersebut tidak kelihatan dari luar berapa jumlah dan plat nomornya.

Deretan mobil mewah terlihat di rumah adik Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Tubagus Chaery Werdana alias Wawan, saat digerebek penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Rabu malam lalu, 2 Oktober 2013. Setidaknya ada 11 mobil yang berada di rumah tersebut. Salah satunya adalah Lamborghini Aventandor seharga Rp 12,2 miliar. Lainnya Nissan GTR yang dibandrol Rp 2,2 miliar.

Wawan yang tersangkut kasus dugaan suap Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar merupakan suami Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany. KPK menggeledah rumah Airin dan Wawan di Jalan Denpasar Raya, Jakarta Selatan. Di rumah ini, KPK menemukan koleksi mobil mewah di dua garasi.

Komentar