Dominasi Pria Bikin Wanita Stres

Penulis: Darmansyah

Rabu, 10 Agustus 2016 | 10:52 WIB

Dibaca: 0 kali

Keseteraan jender dan emansipasi wanita yang  memberikan pengaruh positif  dalam kesempatan bekerja belum seluruhnya bisa ditaklukkan perempuan di tempat kerja  yang didominasi lelaki.

Sebuah  studi yang dipresentasikan di American Sociological Association, bekerja di lingkungan dominasi pria, secara perlahan merusak emosional wanita.

Studi ini hasil observasi ratusan responden wanita yang bekerja dalam sebuah lingkungan yang delapan puluh lima persen adalah karywan pria.

Studi menemukan wanita yang bekerja dalam lingkungan dengan presentasi karyawan wanita sangat sedikit, menderita stres berkepanjangan.

Peneliti memperlihatkan adanya pertumbuhan kortisol dalam level berlebihan sepanjang hari.

Kortisol merupakan hormon yang diproduksi tubuh ketika sedang stres.

“Wanita yang bekerja di lingkungan dengan mayoritas karyawan pria menghadapi sejumlah tantangan. Mereka menghadapai isolasi sosial, tekanan bekerja, pelecehan seksual, dan hambatan untuk lebih produktif.”

“ Banyak pihak pun meragukan kompetensi si karyawan wanita. Kondisi ini tidak sehat secara emosional. Berada dalam lingkungan yang memicu stres setiap hari bisa berakibat sangat buruk,” tulis hasil studi Indiana University.

Situasi kerja yang dipengaruhi mayoritas gender membutuhkan kecerdasan Anda dalam membawakan diri.

Seringkali wanita yang bekerja di perusahaan yang didominasi pekerja wanita akan lebih mempertimbangkan kenyamanan emosional, adaptasi sosial, serta hal-hal yang bersifat interpersonal lainnya.

Sebab karakteristik wanita lembut, sensitif, dan kerap dikalahkan mood atau perasaan. Sedangkan jika wanita bekerja di lingkungan yang dominan pria, lebih mengedepankan hasil kerja dan upaya keras yang dilakukan.

Aspek interpersonal bukan hal pokok yang dilihat berkaitan dengan pekerjaan seseorang.

Lingkungan kerja wanita memang lebih banyak intriknya dibandingkan pria, yang cenderung lebih obyektif dalam memandang seseorang di lingkungan kerjanya

Suasana kerja di lingkungan kerja yang dominan wanita, yang mengedepankan aspek psikis, mengharuskan para pekerja wanita untuk bisa mengatur strategi agar diterima di lingkaran zona nyaman rekan kerja.

Tanpa taktik ini, sebaik apapun prestasi kerja seseorang, tak akan membuat ia mudah diterima dan benar-benar dilihat prestasinya.

Lingkungan kerja yang dominan wanita sangat mementingkan penerimaan oleh lingkungan dibandingkan hasil kerja yang dilakukan.

Wanita butuh kenyamanan dengan lingkungan yang lebih besar, karena dorongan emosinya lebih besar. Mereka suka mencari chemistry-nya terlebih dulu ketika harus bekerja sama dengan seseorang, terutama orang baru.

Nah, untuk menemukan reaksi kimia ini, harus ada beberapa upaya yang perlu dikembangkan di dunia kerja. Pertama, pelajari perilaku dan kebiasaan rekan-rekan di kantor.

Bagaimana mereka mengelola konflik, berbicara, berpakaian, apa yang menjadi minat dari mayoritas mereka, dan lainnya. Ini merupakan beberapa referensi yang harus Anda ketahui sebelum masuk ke dalam sebuah pergaulan di lingkungan kerja baru.

Kepiawaian memanfaatkan peluang untuk memikat hati atasan juga penting dilakukan. Apalagi dengan atasan yang juga wanita.

Biar bagaimanapun, bos wanita perlu di-touch.

Memanfaatkan peluang ini dapat dilakukan dengan cara-cara sederhana, yang dapat menjalin intensitas berkualitas dengan atasan.

Di sepanjang perjalanan, Anda bisa mencoba membangun chemistry melalui sejumlah dialog. Meski singkat, Anda tak pernah tahu manfaat dari beberapa menit yang dihabiskan bersama atasan.

Atau, Anda juga bisa menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada atasan. Anda juga bisa memberi sedikit cinderamata setelah tugas keluar kota.

Atau sekadar bersikap antusias ketika diajak ngobrol dengan atasan. Intinya, lakukan tanpa mengundang kesan menjilat, namun sudah dapat memberi impresi positif kepada atasan.

Ketika Anda mulai menunjukkan prestasi yang diharapkan perusahaan, atasan banyak memuji, dan mengakui keunggulan Anda, jangan lupa untuk membagi perhatian ke lingkungan sekitar. Ingat, di lingkungan kerja mayoritas wanita, intrik akan amat mudah muncul.

Tetaplah bersikat bersahaja dan merendah. Meskipun komunikasi sudah nyaman dengan atasan, jangan lantas berlebihan pula mendekatinya.

Tetap dekati rekan kerja yang lain setiap kali ada kesempatan. Di lain kesempatan, Anda pasti akan membutuhkan mereka.

Misalnya, ketika kantor menuntut Anda untuk bekerja dalam sebuah tim. Namun, tak perlu berusaha terlalu keras mendekati rekan, jika itu justru akan membuat Anda terlihat tak natural.
Cukup bersikap netral dan kooperatif. Bila masih dipandang negatif, mungkin memang begitu tipikal orang yang tidak terlalu menyukai diri Anda.

Sejauh tidak mengganggu proses kerja atau tim, tak perlu membawa masalah sepele ini sampai ke atasan, ya!

Bila sedang bete dengan seorang rekan kerja, terkadang hasil pekerjaan jadi tak maksimal. Untuk itu, mulailah mengatasi stres dengan menghadapi rekan-rekan kerja yang berseberangan dan berpikiran negatif tentang Anda. Salah satu caranya, dengan berusaha merangkul mereka. Berusahalah memiliki waktu lebih banyak lagi bersama mereka. Jika perlu, dekati salah satu dari mereka untuk menyampaikan maksud baik Anda.

 

Komentar