Site icon nuga.co

Pesan Terkirim Facebook Aman 100 Persen

Facebook akan memberi kenyamanan ekstra bagi penggunanya bersamaan dengan selesainya kerja “besar” mereka  berupa pengamanan pesan yang terkirim.

“Pesan yang dikirimkan lewat Facebook Messenger bakalan tak bisa diintip,tulis laman situs “recode,” Senin, 11 Juli 2016.

Perusahaan jejaring sosial iru memberitahu bawa mereka sudah  menambahkan dua fitur untuk meningkatkan “kerahasiaan” Messenger

Fitur itu adalah  enkripsi end-to-end dan pesan yang bisa menghilang sendiri.

Enkripsi yang bakal diterapkan pada Messenger mirip dengan yang telah disematkan lebih dulu pada WhatsApp.

Pesan hanya akan tersimpan di perangkat pengirim dan penerima, bukan server Messenger.

Bahkan pihak Facebook sendiri tak akan bisa mengintip pesan yang dikirimkan lewat Messenger.

Adapun self-destruct message bisa diatur agar menghilang secara otomatis dalam jangka waktu tertentu yang dikehendaki pengguna, mulai lima detik hingga dua puluh empat jam.

Dalam sebuah posting blog,  Facebook menyebutkan bahwa fitur enkripsi mesti diaktifkan secara manual. Ini karena Messenger bersifat cross device alias bisa diakses dari berbagai perangkat, termasuk smartphone, tablet, dan desktop.

Pesan yang terenkripsi hanya akan ada di perangkat yang dipakai untuk mengirimnya, misalnya smartphone, dan tidak bisa dilihat apabila Messenger dibuka dengan perangkat lain.

Langkah Facebook “mengamankan” percakapan dalam Messenger ini datang di tengah-tengah hangatnya perdebatan soal privasi di antara kalangan penegak hukum dan perusahaan teknologi.

Di satu sisi, pengguna layanan menyukai kerahasiaan yang dimungkinkan oleh fitur-fitur keamanan seperti enkripsi.

Di sisi lain, hal tersebut menyulitkan penegak hukum dalam memantau kriminal yang berkomunikasi lewat layanan pesan instan.

Saat ini Facebook baru mulai menggulirkan fitur enkripsi dan chatting rahasia secara terbatas. Keduanya diharapkan sudah tersedia untuk semua pengguna Messenger dalam waktu dekat.

Dalam siaran resmi lainnya  Facebook juga mengungkapkan telah menguji fitur enkripsi dari ujung ke ujung pada aplikasi pesan instan Messenger untuk mencegah ada pihak yang mengintip percakapan digital.

Pengujian ini dilakukan secara terbatas kepada pengguna Messenger yang kini memiliki lebih dari sembilan ratus juta pengguna.

Fitur itu datang tiga bulan setelah Facebook meluncurkan fitur enkripsi untuk aplikasi WhatsApp yang lebih populer dengan lebih dari satu miliar pengguna.

Fitur enkripsi muncul di tengah perdebatan global soal sejauh mana perusahaan teknologi mau membantu proses penegakan hukum dalam mengintai komunikasi digital.

Sejauh ini, enkripsi dari ujung ke ujung juga ditawarkan oleh platform iMessage dari Apple, Line, Viber, sampai Telegram.

Facebook Messenger menggunakan teknologi enkripsi yang sama seperti WhatsApp, memakai protokol yang dikenal sebagai Signal, hasil pengembangan perusahaan swasta Open Whisper Systems.

Messenger bakal memungkinkan pengguna untuk mengaktifkan fitur enkripsi guna mendapatkan keamanan ekstra, yang bakal mengacak komunikasi. Ini membuat pesan hanya dapat dibaca dari perangkat di ujung percakapan.

Namun, dalam sebuah pernyataan resmi, Facebook mengatakan bahwa pengguna Messenger tidak dapat mengirim video atau melakukan pembayaran dalam percakapan yang dienkripsi.

WhatsApp  secara resmi telah mengenkripsi data teks dan suara yang dikirim melalui aplikasinya.

Dengan kata lain, WhatsApp mengklaim layanannya sudah antisadap.

Fitur enkripsi WhatsApp memang telah dikenalkan sejak November 2014 lalu. Namun enkripsi itu baru untuk pesan teks yang dikirim dalam percakapan.

Sementara upgrade kali ini diberikan untuk mengenkripsi panggilan suara. Dengan demikian, kini aplikasi WhatsApp mengklaim layanannya seratus persen telah dienkripsi.

Lalu ciri-ciri apa yang muncul di aplikasi WhatsApp yang menandakan sudah antisadap atau bisa digunakan untuk mulai “ngobrol” hal-hal yang dianggap sensitif atau rahasia.

Guna meyakinkan penggunanya bahwa WhatsApp sudah antisadap, mereka menampilkan pesan secara otomatis di layar percakapan.

Dalam pesan tersebut, WhatsApp menulis: “Messages you send to this chat and calls are now secured with end-to-end encryption.”

Atau artinya kurang lebih, “Pesan yang dikirim melalui percakapan ini dan penggilan (suara) kini diamankan dengan enkripsi end-to-end.”

Enkripsi adalah proses mengamankan suatu informasi dengan membuat informasi tersebut tidak dapat dibaca tanpa bantuan pengetahuan khusus.

Ini artinya, baik data pesan teks maupun suara akan diacak oleh algoritma WhatsApp, setelah dikirim dan sebelum dibuka, sehingga data yang berjalan di antara pengirim dan penerima sifatnya acak.

Untuk membuka data tersebut, WhatsApp membuat kode enkripsi bekerja sama dengan perusahaan keamanan Open Whisper Systems.

Jika pengguna masih belum percaya, mereka bisa membuktikannya sendiri dengan teman dengan menekan pesan pemberitahuan yang disebar WhatsApp.

Setelah dipencet, akan muncul kotak baru dengan pesan yang sama, hanya ditambah menu di bawahnya, seperti Learn more, Ok, dan Verify.

Klik menu Verify untuk memverifikasi pesan. WhatsApp akan menampilkan QR Code dan sederetan angka acak di bawahnya.

QR Code tersebut jika dipindai oleh ponsel penerima akan memverifikasi bahwa pesan memang telah diacak.

Cara lain, pengirim dan penerima bisa mencocokkan angka acak yang diberikan oleh WhatsApp.

Keduanya harus memiliki angka acak dengan urutan yang sama.

Exit mobile version