close
Nuga Tekno

Fomo Kelola

Tulisan awalnya menarik. Bisa menjadi pengetahuan. Tidak seupil-upil. Upilnya penuh dan bersambung menjadi utuh.

Keutuhannya ini yang menyebabkan saya memilih jalan damai. Mengutipnya dan menuliskannya dengan mendekatkan pada cara sederhana. Mudah di mengerti. Yang jangan juga ngawur.

Banyak kutipan tulisan yang ngawur. Saya menghindarinya dengan memilah-milah yang ngawurnya agar terhindar dari persepsi media sosial itu hoax.

Tentu media sosial itu tidak semuanya hoaks. Media sosial juga bisa memotong jarak waktu untuk mempercepat perkembangan pengetahuan dari seluruh panca dunia.

Dulu kan penyebaran informasi hanya melalui mulut ke mulut paling banter dengan surat menyurat.

Itu gak valid lagi dengan era sekarang.bersama  berkembangnya populasi manusia, kemajuan teknologi yang terus mendaki

Era sekarang tukar guling informasi maupun berkomunikasi bisa blass.. lewat media sosial.

Meman gada pro dan kontra dengan capaian teknologi. Misalnya banyak yang gak pro terhadap artificial intelegency. Terlalu gress… Bisa membuat manusia nganggur. Atau apalah… bodoh atau pembodohan

Tapi untuk media sosial manfaat besarnya sangat dirasakan dalam kehidupan individu. Bayangkan mereka yang  yang tinggal jauh dari lingkungan dan keluarganya. Media ini adalah ini bisa lebih efisien.

Namun, media sosial maupun teknologi dapat mencapai pemanfaatan yang buruk, bila digunakan dengan tujuan yang salah.

Media sosial mencakup hal baik dan buruk secara bersamaan, hal ini berkaitan dengan cara individu melihat fenomena yang dipublikasikan.

Secara persentase penggunaan media sosial tertinggi  saat  digenggam tiktok, instagram, dan whatsapp.

Tiktok adalah suatu aplikasi yang berguna untuk memudahkan individu melihat video dari pancanegara.

Tetap ada pro-kontra Sebut saja ketika tiktok digunakan sebagai sarana untuk menipu maupun mencuri identitas seseorang.

Anda kan tahu itu. Atau pernah mengalaminya. Tidak cukup mengandalkan cyber crime, Bukankan tiktok membuka koneksi yang dapat diperoleh oleh pengguna.

Sebagai komparasi kita bisa mengambil contoh kasus pada rokok. Merokok  awalnya merupakan  kebiasaan yang dibentuk dari pola dini.

Individu perokok berat cenderung terjadi karena adanya kebiasaan yang menjadikannya kecanduan nikotin. Kalau diteruskan dengan perbandingan rokok ini bisa panjang.. saya stop aja..

untuk tidak tertinggal.

Selain dari perokok dini, fenomena menggunakan kalimat kasar sebagai bahan bercandaan juga banyak dilakukan untuk terlihat keren.

Banyak hal yang telah keluar dari moral individu dan tetap dilakukan karena berkembangnya media sosial, sehingga definisi terlihat “keren” disimpulkan sebagai hal-hal yang dilakukan banyak orang.

Lantas mari kita lihat fenomena fomo yang kepanjangannya  “fear of missing out.” Fenomena perasaan khawatir dan takut ketinggalan suatu tren yang ada  Takut gak mengikuti momen

Bisa dikerenkan dengan selalu ingin ikut dengan sesuatu yang terkini. Gejala ini mudah  sekali terlihat di media sosial

Gejala kecemasan atau ketidaknyamanan  yang sedang dijalani oleh orang lain, terutama di lingkungan sosial media.

Fenomena ini semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi dan popularitas sosial media, yang memungkinkan seseorang untuk melihat dan membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain.

Kondisi ini seringkali menyebabkan seseorang merasa tertekan, cemas, dan tidak puas dengan hidupnya sendiri. Fomo dapat mempengaruhi orang dari berbagai latar belakang, usia, dan jenis kelamin.

Fenomena menjadi akut di lingkungan generasi milenial dan generasi z. Mereka yang tumbuh dewasa di tengah-tengah kemajuan teknologi dan terbiasa dengan budaya berbagi melalui media sosial.

Dampak negatifnya, seperti saya kutip di banyak tulisan menumpuk di kesehatan mental, seperti meningkatkan tingkat kecemasan, stres, dan depresi.

Jalan pintasnya tak harus memotong rantai teknologinya. Bisa dengan lewat  tanda-tanda. Batasi penggunaan media sosial dengan menukar gulingkan dan bikin planning kegiatan positif

Lainnya terserah. Anda temukan sendiri cara-cara lain untuk merasa terhubung dengan orang lain secara positif.

Fenomena fear of missing out dapat secara langsung dikaitkan dalam psikologi sosial, karena pada dasarnya psikologi ialah suatu ilmu yang mempelajari perilaku manusia.

Bukankah  psikologi yang mempelajari interaksi sosial dan pengaruhnya terhadap pemikiran, perilaku, dan emosi individu?

Kajian ilmu ini menyangkut  fenomena sosial, seperti persepsi sosial, sikap, pengaruh sosial, konformitas, stereotip, prasangka, dan konflik antar kelompok.

Banyak teori yang bisa di pakai. Saya bukan orang psikologi. Anda mungkin datang dari kawasan ini. Jelaskan teori dan model yang digunakan untuk menjelaskannya

Mungkin bisa lewat teori kognitif sosial  Teori ini mengemukakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku orang lain, dan faktor internal seperti keyakinan dan harapan individu.

Maka penting dikedepankan self-efficacy. Keyakinan seseorang dalam kemampuannya untuk melakukan suatu tindakan.

Self-efficacy memengaruhi perilaku individu, motivasi, dan kemampuan seseorang untuk mengatasi tantangan dan mengatasi rintangan.

Penting pula dengan apa yang disebut dengan reinforcement atau penguatan untuk memperkuat perilaku yang diinginkan.

Penguatan dapat berupa penguatan positif, yaitu memberikan hadiah atau penghargaan, atau penguatan negatif, yaitu menghilangkan stimulus yang tidak diinginkan.

Secara keseluruhan, teori kognitif sosial Bandura sangat berpengaruh dalam psikologi sosial dan telah diterapkan dalam berbagai konteks, seperti dalam pendidikan, kesehatan, dan psikoterapi.

Teori ini juga memperlihatkan pentingnya peran lingkungan dan interaksi sosial dalam membentuk perilaku manusia.

Saya tidak akan menyalahkan penggunaan media sosial dan informasi. Kuncinya tetap satu kata: jangan berlebihan.

Yang berlebihan itukan mubasir.

Ingat penggunaan media sosial dapat memberikan penguatan positif dalam bentuk likes atau komentar, yang dapat meningkatkan self-efficacy individu dalam hal popularitas dan kepentingan.

Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memahami pengaruh lingkungan dan lingkungan sosial mereka dikaitkan dengan perilaku dan keyakinan mereka

Perkuatlah self-efficacy dan mengurangi kecemasan fomo. Mengatasi kecemasan fomo dapat dilakukan dengan membatasi penggunaan media sosial dan mengurangi paparan informasi yang tidak diperlukan.

Konsep fomo dapat pula  dikaitkan dengan  teori psikodinamika tentang struktur kepribadian manusia, yaitu id, ego, dan superego.

Dalam  konteks fomo id dapat dianggap sebagai representasi dari kebutuhan bawah sadar seseorang untuk mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan.

Ego bertindak sebagai penghubung antara kebutuhan bawah sadar dan realitas luar, sementara superego mewakili nilai-nilai sosial dan moral yang membentuk perilaku seseorang.

Misalnya, keinginan untuk terus-menerus berada di tengah-tengah perhatian orang lain mungkin bertentangan dengan nilai nilai moral atau tuntutan realitas seperti pekerjaan atau tanggung jawab

Bagi saya yang bukan ahli kejiwaan fenomena, teori, dan keterkaitan antara fenomena dan psikologi sosial ialah sesuatu yang terlalu berlebihan dalam aspek apapun akan menimbulkan ketidaksehatan dalam hidup

Baik secara psikis maupun fisik. Fenomena fear of missing out dapat secara langsung dikaitkan dalam psikologi sosial, karena pada dasarnya psikologi ialah suatu ilmu yang mempelajari perilaku manusia.

Fomo dapat menyebabkan ketergantungan terus-menerus dengan media soial media sosial  Fomo dapat menjadi sumber stres dan tekanan sosial.

Obatnya paling mujarab jangan tiru perilaku orang Teknologi terutama media sosial secara tujuannya tidak untuk menghancurkan  Persepsi ia  untuk kepentingan pengalaman tertentu.

Jangan jadikan media sosial sebagai kebutuhan untuk memenuhi hasrat dan keinginan, termasuk keinginan untuk menghindari rasa tidak puas dan kekecewaan.

Jawaban paling blass… temukan keseimbangan antara kebutuhan sosial dan kesehatan mental yang sehat.

Sekian … please….

Tags : slide