close
Nuga Sehat

Over Training Itu Tidak Baik Bagi Tubuh

OLahraga, tak terbantahkan, pasti  memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh.

Namun begitu, bukan berarti Anda harus berolahraga berlebihan.

Faktanya, olahraga terlalu keras justru bisa menjadi ancaman bagi kesehatan, lho!

Menurut Dr Neil F. Gordon, seorang peneliti dari Cooper Institute for Aerobics Research, Dallas, Texas,  ada  beberapa tanda yang menunjukan jika Anda mengalami over-training akibat olahraga terlalu keras

Akan terjadi perubahan pola tidur, yang ditandai dengan insomnia

Bisa juga sulitnya penyembuhan luka ringan seperti ketika terkena goresan. Kemudian Anda akan kehilangan berat badan tanpa sebab padahal sedang tidak diet atau melakukan aktivitas fisik yang berat

Kehilangan selera makan, kelesuan/kelelahan, hilangnya libido atau minat pada seks, nyeri otot dan sendi

Pembengkakan kelenjar getah bening, siklus menstruasi tidak teratur atau bahkan tidak mengalami menstruasi lagi dan merasakan haus yang berlebihan ketika malam hari

Lantas, apakah ini berarti bahwa olahraga keras dilarang?

Tentu saja tidak. Olahraga dengan intensitas keras atau tinggi tidak berbahaya selama tidak berlebihan (over-training).

Namun para peneliti mengatakan jika Anda ingin melakukan olahraga dengan intensitas yang keras, Anda harus memastikan jika asupan nutrisi dalam tubuh tercukupi.

Hal ini guna menggantikan nutrisi yang hilang selama olahraga sehingga mencegah sistem kekebalan tubuh menurun.

Jangan lupa untuk mengonsumsi makanan yang banyak mengandung protein, asam amino, karbohidrat, vitamin, mineral, antioksidan, dan probiotik sehingga mempercepat proses pemulihan akibat kelelahan setelah melakukan olahraga.

Peneliti Rusia pernah  menyimpulkan bahwa melakukan olahraga terlalu berat akan mengurangi fungsi kekebalan tubuh.

Hal ini pun didukung oleh beberapa penelitian selama dua dekade terakhir yang menegaskan jika terlalu banyak berolahraga dengan intensitas tinggi akan menyakitkan sistem kekebalan tubuh karena akan menguras imunitas seluler dan humoral.

Hal ini sering disebut sebagai istilah over-training lawan dari olahraga moderat, alias olahraga dengan intesitas sedang.

Idealnya, ketika seseorang melakukan olaharaga ringan, ini memang akan meningkatkan respon kekebalan tubuh. Namun ketika intensitas volume olahraga lebih besar, ini menyebabkan efek depresan sehingga membuat sistem imun jadi menurun.

Dalam kondisi normal, radikal bebas yang dihasilkan dalam tingkat yang rendah akan menetralisir tubuh dan sistem antioksidan.

Namun jika seseorang melakukan over-training, justru akan memicu peningkatan produksi radikal bebas yang melebihi kapasitas sistem pertahanan seluler Anda.

Hal ini membuat radikal bebas menyerang sistem membran sel, yang menyebabkan sel dalam tubuh kehilangan viabilitasnya– kemampuan suatu sel mempertahankan dan memulilhkan kondisinya, sehingga meningkatkan kerusakan tulang dan otot.

Sebuah artikel lainnya dari British Journal of Cancer melaporkan bahwa aktivitas fisik secara teratur dalam intensitas sedang memang mampu meningkatkan respon imun dan berperan dalam pencegahan beberapa jenis kanker tertentu, seperti kanker payudara dan kanker usus besar.

Namun sebaliknya, olahraga berlebihan seperti ultramaraton akan menekan kekebalan selama beberapa jam, seminggu, bahkan lebih, sehingga rentan terhadap risiko infeksi saluran pernapasan atas dan bahkan kemungkinan terkena kanker, terutama kanker kulit.

Pasalnya sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh peneliti Austria menemukan jika pelari maraton lebih rentan untuk memiliki tahi lalat kulit yang tidak normal dan lesi di pundak dibandingkan yang bukan pelari.

Berdasarkan temuan ini, para peneliti menyarankan pelari melakukan olahraga ketika paparan sinar matahari tidak terlalu terik, mengenakan pakaian yang memadai, dan secara teratur menggunakan tabir surya tahan air.