close
Nuga Sehat

Anda Mengharapkan Bangun Pagi Segar?.

Siapa yang tidak mengharapkan  bangun pagi dengan segar dan bersemangat?

Dan apakah dalam kenyataan  hal itu sering terwujud?

Itulah dua pertanyaan yang sering terlontar kala seseorang bangun pagi dengan  tubuh terasa sakit semua dan pegal.

Anda tahu penyebabnya.?

Ya, penyebabnya tak sekedar posisi tidur yang salah atau bantal yang kurang empuk.

Untuk diketahui, selama kita tidur, tubuh berusaha menekan inflamasi, sehingga terkadang saat bangun inflamasi muncul kembali dan menimbulkan rasa nyeri.

Kesimpulan itu dihasilkan dari penelitian yang dilakukan pada sel manusia dan juga tikus yang menderita penyakit inflamasi artritis rheumatoid.

Pasien yang menderita RA mengalami gejala rasa nyeri pada persendiannya. Rasa sakit itu akan bertambah hebat saat berjalan kaki, dan skala nyerinya bervariasi sepanjang hari.

Tak banyak pasien RA yang mengetahui bahwa irama sirkadian  atau jam biologis yang mengatur kapan tidur dan terbangun,  ikut mengontrol pendulum nyeri.

Dalam penelitian pada tikus diketahui, saat hewan ini terpapar cahaya konstan, cakar mereka membengkak dan memiliki penanda inflamasi di dalam darahnya lebih tinggi.

Pada kegelapan, penanda inflamasi itu menurun.

“Di malam hari, penanda inflamasi turun tetapi secara bertahap akan meningkat lagi di pagi hari,” kata peneliti Julie Gibbs, Ph.D.

Itu sebabnya mengapa di pagi hari rasa nyeri yang semula reda kembali dirasakan.

Berapa pun usia Anda, tidur nyenyak sepanjang malam dengan durasi 7-8 jam sangatlah penting. Kualitas tidur bukan hanya berpengaruh pada performa kita esok hari, tapi juga suasana hati.

Untuk mendapatkan tidur yang berkualitas, bukan cuma durasinya saja yang penting, tapi ada tidaknya gangguan yang membuat kita harus sering terbangun dari tidur.

Menurut penelitian tim dari Johns Hopkins University, orang yang bangun beberapa kali saat tidur malam cenderung akan bangun dengan suasana hati yang tidak baik keesokan harinya.

Kesimpulan tersebut merupakan hasil dari tiga eksperimen yang melibatkan enam puluh dua pria dan wanita sehat yang dibagi dalam tiga malam: pertama terbangun saat tidur, kemudian waktu tidur lebih larut, dan terakhir adalah tidur sepanjang malam tanpa gangguan.

Ketiga kelompok ini memiliki jam tidur delapan jam.

Hasilnya, pada orang yang tidurnya lebih larut dan juga tidur dengan beberapa kali terbangun sama-sama mengalami mood yang kurang baik di pagi harinya.

“Saat tidur terganggu sampai bangun, Anda akan kehilangan kesempatan untuk melanjutkan fase tidur agar mendapatkan tidur gelombang pendek yang sangat penting untuk perbaikan sel-sel,” kata Dr.Patrick Finan, peneliti.

Mereka yang sering terbangun di malam hari antara lain penderita diabetes melitus yang bisa lebih dari dua kali buang air kecil saat malam, orang yang insomnia, atau pun orang yang punya kebiasaan berjalan sambil tidur.

Orang yang sering terbangun saat malam akan memiliki periode singkat dari fase tidur gelombang pendek atau sering disebut tidur dalam.

Pada fase tidur ini aktivitas otak dan otot berkurang drastis sehingga tubuh bisa memulihkan dirinya.

Tanpa mendapatkan kesempatan ini kita akan terbangun dengan energi yang sedikit dan suasana hati lebih buruk.

Apa yang Anda alami adalah suatu kondisi medis yang disebut dengan kelumpuhan tidur.

Selain tidak menyenangkan ketika bangun tidur, banyak orang juga mengalami  kelumpuhan tidur. Ini  biasanya diikuti dengan rasa seperti ditekan pada bagian tubuh tertentu, sesak napas, dan halusinasi yang mengganggu.

Halusinasilah yang kadang membuat Anda melihat sesuatu yang mungkin menyeramkan sehingga kerap dikaitkan dengan kejadian mistis.

“Kelumpuhan tidur biasanya terjadi selama periode rapid eye movement tidur, fase ketika otak aktif, tetapi otot-otot Anda dimatikan,” ujar Dr Shelby Harris, spesialis tidur di Montefiore Medical Center.

Dengan kata lain, kelumpuhan tidur terjadi ketika pikiran Anda sudah terbangun sebelum siklus REM selesai, tetapi otot-otot Anda masih dimatikan.

Menurut Harris, selama tidak ada penyebab khusus untuk kelumpuhan tidur—seperti pada orang yang memiliki gangguan tidur sleep apnea atau narkolepsi, pada mereka yang menderita gangguan bipolar atau mengonsumsi obat tertentu untuk kondisi seperti ADHD—tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.

Harris merekomendasikan untuk menjaga kebiasaan tidur yang sehat karena kurang tidur atau kelelahan dapat menjadi salah satu pemicunya. Selain itu, ia menyarankan untuk mengelola stres agar kondisi ini tidak sering terjadi.

Namun, ia menambahkan, jika memang kondisi tersebut sangat mengganggu, Anda dapat berkonsultasi dengan spesialis tidur untuk mendapatkan resep obat-obatan dan perawatan tertentu.

Bila tidak, cukup menjalani pola hidup sehat, kurangi stres, dan tidur dalam jumlah yang direkomendasikan.