close
Nuga Region

“Kalung Bunga” BPS untuk Aceh Miskin

Hingga pagi tadi saya masih menunggu kiriman karangan bunga  untuk “prestasi” Aceh menjuarai provinsi miskin di Sumatera. Kiriman karangan bunga seperti tahun lalu.

Di bulan yang sama. Februari. Tapi tanggalnya beda

Karangan bunga yang dijejerkan secara mencolok di luar pagar kantor gubernur.

Karangan bunga yang memakai kata-kata santun. Kata terima kasih…kata selamat dan banyak kata lainnya yang kalau di urut akan menjadikan tulisan ini panjang sekalii….. dan membosankan.

Dan saya takut Anda akan mengusirnya lewat jempol jemari ke topik lain.

Sembari menunggu datangnya karangan bunga itu saya sempat nelangsa.

Nelangsa agar Aceh nggak jadi juara lagi. Sebab kalau gelar itu kembali diraih bisa menjadikannya sebagai juara “abadi.” Juara abadi itu boleh di bidang olahraga.

Kalau untuk gelar kemiskinan?

Andalah menjawabnya. Jangan saya.

Tentu Anda akan bertanya nama pengirimnya.

Jangan ngakak ya. Sebab saya sendiri sempat menahan kencing saking gelinya membaca nama pengirim karangan bunga itu. Nama yang mengucapkannya.

Ada nama mantan penjilat, muege eungkut, pok seumpom, ulee balang bangkrot dan banyak lagi.

Kalau saya lanjutkan  nama pengirimnya bisa basah “i lewue dalam”  Anda

Jangan mencibir kualitas karangan bunganya dengan stempel “gasin”

Karangan bunga yang berjejer di gedung provinsi itu, cantiklah.

Lebih wuah dari karangan bunga “grand opening” sebuah produk atau karangan bunga ucapan selamat pelantikan pejabat. Tidak sentimentil seperti karangan bunga dukacita. Pokoknya kocaklah. Tapi tidak konyol.

Sambil menunggu kiriman karangan bunga itu marilah kita utik penggalan terbaru kabar kembalinya Aceh menjadi juara provinsi termiskin di Sumatera.

Kabar terbaru dari badan pusat statistik yang akronimnya be-pe-es. Kabar yang dirilis Rabu kemarin. Hari kedua bulan Februari ini. Kabar yang membasuh nalar kita lewat desahan panjang.

Kabar tentang peningkatan angka  kemiskinan di Aceh. Yang meningkat nol koma dua puluh  persen atau enam belas ribu orang dari hitungan Maret hingga September tahun lalu. Sehingga total prosentasenya lima belas koma lima puluh tiga persen

Dan kalau angka ini dipindahkan ke jumlah penduduk  akan menjadi delapan ratus lima puluh ribu orang.

Sebagai orang Aceh Anda pasti tersentak dan langsung akan berucap “astagfirullah.”

Saya tak ingin mengaduk-aduk hati Anda dengan angka dan jumlah ini. Terserah Anda sendirilah yang memberi tafsirannya. Yang ingin saya tuliskan adalah peningkatan orang miskin menambah panjang rekor Aceh menjadi provinsi termiskin

Anda dan saya maupun koordinator fungsi statistik be-pe-es Aceh Dadan Supriadi tentu tak ingin angka ini dipermainkan dalam debat kusir oleh pejabat provinsi plus konco-konconya lewat pembenaran alasan di luar logika.

Saya tahu Dadan Supriadi bukan orang abal-abal dalam melakukan survei. Dalam menghadirkan angka maupun menyimpulkan kata akhir. Bahkan dalam mengkomparasinya mereka sudah memakai standar yang berskala sembilan. Sahih.

Garis kemiskinan di Aceh seperti yang saya baca disumbang  dari  komoditas pangan, terutama beras. Tujuh puluh lima koma enam puluh lima  persen

Memang, kata bacaan be-pe-es  kondisi ini belum sepenuh pulih di tengah pandemi

Lantas bagaimana dengan laju ekonomi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan? Jawabnya, terkontraksi. “Luas panen padi di Aceh menurun hingga sebesar empat puluh persen.

Angka kemiskinan ini masih disumbang oleh tingginya angka pengangguran.

Survei angkatan kerja per  Agustus tahun lalu mencatat sebanyak dua ratus tujuh puluh ribu  penduduk usia kerja menganggur.

Kalau angka pengangguran sebesar ini, anak kemarin saja sudah bisa menyimpulkan berapa kontribusinya dalam mendamaikan mulut-mulut yang menganga.

Dan ketika saya berbicara panjang dengan seorang kawan untuk minta klarifikasi tentang raihan juara Aceh miskin ini  ia langsung mengatakan,”sulit untuk terbantahkan.”

Ia sengaja tak mau mengatakan tak terbantahkan. Ia Santun. Ia anak “nanggroe.” Memulai karir di be-pe-es dan mengakhirinya di lembaga yang sama dengan sikap tawadhuk.

“Semuanya valid,” ngon.

Ia selalu menyapa saya “ngon.” Sejak dulu. Sejak kami berboncengan naik motor merk honda tipe ce-be. Sejak kami sama menjadi ca-ma. Calon mahasiswa di unsyiah. Juga sejak sama-sama kuliah hingga berpisah menjalani profesi masing-masing.

Dalam pembicaraan kami itu ia membuncahkan semua data. Baik macro maupun micro hingga bagaimana memfinalisasinya. Kalau sudah begitu saya tinggal manggut-manggut.

Manggut yang mumet. Kan saya orang jurnalis. Orang jurnalis itu bisa mual dengan angka-angka yang beranak pinak.

Nah, saya sebut saja nama depan teman saya itu. Walau hanya nama pangkalnya. Ham….

Di ujung pembicaraan itu saya pura-pura acuh sambil mengajukan gelitik pertanyaan.

“Bagaimana Ham, kalau nanti para pejabat, dari gubernur dan semua apet awenya bersuara koor menganulir semua hasil data be-pe-es itu.”

“Ngon bicara macam wasit sepakbola aja. Ada kata anulir. Kan ini data yang validitasnya sudah teruji. Standarnya dunia. Diadaptir dari lembaga sehebat word bank, unesco …,”ujarnya mengulum senyum.

Pertanyaan yang saya ajukan ke si Ham ini mengacu pada apa yang saya tulis tahun lalu. Ketika Aceh miskin juga menjadi isu dan dikemplang lewat bantahan berantai. Sejak dari gubernur, ketua bappeda dan pengamat penjilat.

Bantahan ini berbalas pantun.  Seorang rektor harus turun gunung. Tidak hanya meradang. Tapi tunjuk hidung. Mengemas kalimat menyentil lewat perumpamaan. Bagaimana sapu yang kotor menyapu lantai yang kotor.

Meradangnya sang rektor, yang sedang menunggu sebutan mantan. menyebabkan gempa skala sedang di kantor-kantor provinsi. Gempa yang menyebabkan seorang gubernur harus mendamaikan hatinya.

Mendamaikan hati ke audien yang salah simpul. Ke sebuah gerbong wartawan “beneran” yang sedang digencet loko media sosial; Media yang cara mereka mengolah katanya  subhanallah rapi dan akuratnya.

Media yang nggak pernah minta pengakuan. Media yang ditulis sendiri, dibaca sendiri dan ditebar sendiri.

Saya sendiri miris kok gubernur Nova alpa tentang latarnya sebagai orang teknik. Orang yang kalkulasinya akurat dalam rancang bangun. Yang sebenarnya bisa juga mengkalkulasi media di era digital ini.

Untuk Anda tahu pak gubernur,  saya nggak mau menceramahi. Cuma ingin meluruskan. Bahwa  media beneran itu dikesankan sebagai komplotan yang saya nggak akan meneruskan kata selanjutnya…..

Yang bisa meneruskan itu adalah guru para wartawan Prof Dr Effendi Ghazali. Yang ungkapannya berbunyi, wartawan beneran itu malu disebut wartawan.

Saat bertemu gerbong wartawan beneran itu Nova bicara tentang kumparan dari belit yang mengurung Aceh miskin. Sang gubernur mengesankan ingin curhat. Curhat bahwa ia sudah berada dijalan benar. Menunjuk ada pihak yang mengganjal.

Saya nggak mau mengutip seluruh keluhan sang gubernur yang ingin menebus kesalahan.

Dan saya tak ingin mengutip saduran kata-kata “menebus dosa.” Sebab kata-kata terakhir itu bukan milik orang bersyariat.

Nova di perjalanan akhirnya menuju “wobaksot”nya saya dengar dan baca  rajin menyambangi berbagai komunitas.

Rajin juga disambangi.

Wira wiri lah namanya. Wira wira mengumbar janji.  Padahal ia tahu sikap yang baik dari seorang pemimpin itu tawaduk. Tawaduk keikhlasan akan diganti.

Tawaduk seperti guru besar partainya yang ketika akan mengakhiri masa jabatan kepresidenannya memilih jalan diam. Jalan bijak seorang pemimpin

Jalan diam  saat  nrimo  raihan predikat juara provinsi miskin sembari mengekang hasyrat “mbong”.

“Mbong” untuk menjaga jarak dengan bancakan anggaran dan bangga-bangga dengan gebyar yang masya Allah banyak jumlahnya kalau dihitung sejak awal hingga akhir tahun anggaran.

Seperti gebyar yang baru saja dikibarkan oleh bank aceh syariah untuk mengeruk ceruk pasar uang Jakarta. Padahal saya dan Anda juga pasti tahu jejak kualitas bank aceh itu. Jejak konvensional yang ditopang oleh qanun gaduh agar tak doyong.

Anda tentu tahu juga pangkal dan muara “peeng”nya bank milik “geutanyo” itu. Tahu pangkal hitungannya. Dari anggaran yang muara kreditnya mengalir ke aparat sipil daerah atau pemenang proyek infrastruktur.

Bukan proyek berlabel industri dasar atau gurita trading.

Sebagai “aneuk aso lhok” saya tertampar oleh gebyar bank berlabel lokal berpesta di Jakarta. Tertampar oleh kehadiran petinggi provinsi hingga kabupaten dan kota.  Ramai dan semarak.

Bukan sederhana dan sesederhananya ketika bank digital milik Chairul Tanjung masuk pasar saham.

Cuma dua belas orang yang mengisi kursi acaranya. Di tambah dua anouncer plus empat satpam di dua sudutnya. Padahal peeng yang diluncurkannya tak tahulah kita nolnya.

“Jangan ge-er dan sok lah Anda,” bisik ranting otak kiri saya ketika menyapa cel otak kanan. Saya terdiam dan langsung melipat kata untuk disimpan.

Sudahlah……

Tags : slide