close
Nuga News

Gelembung Informasi Tanpa Oksigen

Perang Ukraina kini berada dalam gelembung informasi tanpa oksigen.

Gelembung informasi yang pecah dalam percikan kata-kata tanpa bisa ditangkap makna kebenarannya. Percikan kata-kata dari ruang hampa tanpa oksigen untuk mengalirkan darah pembenarannya

Yang membuat paru-paru kebenaran terengah-engah ketika menghirupnya. Dan katup jantung informasi  perang itu sendiri tak mendapat aliran darah. Karena pembuluhnya tersumbat.

Hari ini saya mengalihkan tontonan dari televisi “al jazeera” kebacaan tentang perang Ukraina  ke “newsweek.” Sebuah media yang telah melintasi zaman dengan investagasi klas sepuluh.

Pengalihan tontonan ini bukan berarti saya tak percaya dengan “al jazzera” yang terus live dengan “breaking news”  yang diselang seling dengan analisis banyak pakar. Banyak analis,

Pengalihan ini hanya untuk mencari sesuatu yang hilang dari tontonan ke dramatis kata-kata. Dramatis kalimat pendek dengan narasi yang saya sulit membantah tentang kenikmatannya.

Ini hanya bisa didapatkan dari “newsweek.” Atau pun “time.” Atau pun dulunya di negeri ini bisa didapatkan dari express, tempo atau pun editor.

“Newsweek” majalah mingguan prestise yang kini sudah beranak pinak ke online. Dari the newsweek magazine ke radio, televisi dan entah apa lagi.

Digital lah.

“Newsweek” seperti juga “time” yang hari itu saya telusuri seperti kehilangan “touch.”

Frustrasi mencari kebenaran dari alasan dan tujuan perang di Ukraina karena settingnya berpindah-pindah karena scriptnya melenceng.

Melenceng akibat skenarionya harus mengalami tulis ulang.

Waktu perpindahannya juga sangat cepat. Ini yang menyebabkan arahnya menjadi rancu. Rancu ketika saya harus membacanya untuk mengambil kesimpulan final.

Padahal, sejak dulu, “newsweek” atau “time”  tak pernah melupakan indepth reporting sebagai pelajaran dasar jurnalisme. Pelajaran dasar tentang arti dan makna crosscheck untuk mendapatkan sajian yang balance.

Tidak hanya  “newsweek” dan time,” yang mengalami transformasi digital ini.

Media lainnya  yang tak kalah prestise: be-be-ce di baca “bbc” yang sering menjadi rujukan penulis maupun pendengar manapun seakan kehilangan arah untuk menulis dan menyiarkan perang ini.

Bbc yang ketika saya masih misspeling  bahasa inggris lewat radio transistor merek cakung dengan antene dari batang kelapa bukan main nikmat siarannya.

Kini bbc sudah ketinggalan kereta. tanyakan dengan anak-anak now tentang media ini. Pasti dijawabnya dengan gelengan.

Perang Rusia-Ukraina yang  memasuki hari keempat belas sulit kita terka arahnya harus kemana, Kiev sudah terkepung. Putin sudah menurunkan tensinya.

Celakanya malah si Zelensky. Ia masih seperti melawak dengan wajah tanpa dosa. Wajah kekanak-kanakan. Yang tergadang bertensi tinggi, datar dan rendah.

Merengek ke barat. Merajuk ke timur, Dan gairah dengan tentang eksistensi tanah air. Tanah airnya yang Ukraina.

Entah mana katanya yang bisa di pegang. Entah mana pernyataannya yang benar.

Saya tak tahu. Mungkin Anda yang paling tahu. Sebab Andakan bisa memihak. Sedangkan saya nggak bisa memihak karena terikat dengan garis hidup. Garis hidup jurnalisme.

Padahal semula saya telah menuliskan perang Ukraina ini adalah keinginan Vladimir Putin  untuk sebuah jaminan hukum agar nato menutup buku keanggotaan untuk negara bekas blok timur

Jangan memberi angin terhadap kegenitan Ukraina untuk jadi anggota nato

Untuk ini Putin menegaskan bahwa Rusia “tidak akan mundur ke mana-mana – tidak akan hanya duduk diam kalau terus diusik integritasnya pemimpin blok.

Apalagi kalau Ukraina diusik.

Ukraina yang sudah punya kesepakatan untuk menghormati kemerdekaan serta kedaulatannya

Bagi Putin Ukraina dan Rusia adalah “satu bangsa”.  Ukraina diciptakan seutuhnya oleh komunis Rusia.

Putin  memandang kolapsnya era soviet sebagai “disintegrasi Rusia yang sarat sejarah”. Dan dia nggak ingin sejarah itu terulang oleh genitnya garis politik Zelensky.

Sebab sudah delapan tahun Putin menderita akibat ulah Ukraina yang “durhaka” ini. Durhaka kepada garis sejarahnya.

Sejarah ketika Stalin datang dengan tentara merahnya menghadang “der uber alles” Adolf Hitler yang membantai ribuan kakek nenek Zelensky yang Yahudi

Putin menekankan bahwa jika Ukraina bergabung dengan nato  di bawah pakta pertahanan utara tersebut mereka akan mencoba balik menduduki Krimea.

Tuntutan Putin lainnya adalah nato tidak akan menempatkan “senjata penyerang dekat perbatasan Rusia”.

Mereka  harus melucuti semua infrastruktur dan pasukan dari negara-negara yang bergabung dengan pakta pertahanan itu sejak blok timur ambruk.

Negara-negara tersebut mencakup negara di kawasan bekas uni  soviet.

Semuanya harus kembali ke kesepakatan perbatasan lima belas tahun lalu. Sebelum empat belas negara blok timur membalurkan dirinya dengan cat warna biru.

Biru nato. Biru blok pertahanan atlantik utara.

Kini Rusia menyerbu ibu kota Ukraina dari beberapa arah setelah Putin memerintahkan penyerbuan.

Dalam pidato televisinya menjelang subuh pada dua puluh empat  Februari lalu, Putin menyatakan Rusia tak dapat merasakan “aman, berkembang dan eksis” karena apa yang ia sebut ancaman konstan dari Ukraina modern.”

Bandara-bandara dan markas militer digempur terlebih dahulu, di dekat kota-kota di seluruh Ukraina.

Kemudian tank-tank dan pasukan dikerahkan masuk Ukraina dari utara, timur dan selatan, dari Rusia dan sekutu mereka, Belarus.

Memang banyak argumen Putin menjadi pertanyaan. Yang pernah mendapat jawaban benderang.

Klaimnya terhadap perlindungan tekanan dan genosida.

Klaim “demiliterisasi” dan “mematahkan nazi” di Ukraina.

Kita juga tahu. Tak pernah ada genosida di Ukraina, negara yang dipimpin oleh presiden, seorang Yahudi.

“Bagaimana mungkin saya seorang nazi,” kata Zelensky ketika menjawab  pernyataan perang Rusia dengan sebutan nazi.

Aksi Putin mengemuka beberapa hari setelah dia menyingkirkan kesepakatan damai dan memerintahkan pasukannya ke dua wilayah separatis di Ukraina guna “mempertahankan perdamaian”.

Presiden Putin sering menuduh Ukraina diambil oleh ekstremis, sejak delapan tahun lalu. Sejak  presiden pro-Rusia Viktor Yanukovych, digulingkan setelah protes besar berbulan-bulan.

Rusia kemudian membalas dengan menguasai wilayah selatan Ukraina, Krimea dan memicu gerakan pemberontak di wilayah timur. Rusia mendukung separatis yang melawan pasukan Ukraina

Rusia telah lama menolak kedekatan Ukraina dengan institusi-institusi Eropa, Termasuk ekonomi Uni Eropa.

Baru-baru ini, Putin mengklaim Ukraina adalah boneka barat dan tidak pernah menjadi sebuah negara yang layak.

Dia mendesak barat memberi jaminan bahwa Ukraina tidak akan bergabung dengan nato, militer Ukraina dilucuti, dan Ukraina menjadi negara netral.

Sebagai bekas negara anggota Uni Soviet, Ukraina punya jalinan sosial dan budaya yang erat dengan Rusia. Bahasa Rusia pun banyak digunakan di Ukraina.

Namun, sejak Rusia menginvasi delapan tahun lalu, hubungan kedua negara menjadi regang.

Saat ini jelas bahwa Rusia ingin menggulingkan pemerintahan yang terpilih secara demokratis.

Presiden Zelensky mengatakan ia telah diperingatkan bahwa “musuh menyasar saya sebagai target nomor satu, keluarga saya target nomor dua.”

Narasi yang dikembangkan bahwa Ukraina dikuasai fasis secara rutin dikembangkan Kremlin

Melalui televisi Putin menyatakan akan “membawa ke pengadilan mereka yang “melakukan kejahatan berdarah terhadap warga sipil.”

Namun Rusia menghadapi perlawanan dari penduduk Ukraina juga.

Pada Januari lalu, Inggris menuding Moskow mencoba memasang pemerintah pro-Moskow di Ukraina, klaim yang ditolak Rusia saat itu.

Salah satu informasi intelijen yang belum dipastikan menyebutkan, Rusia ingin memecah Ukraina menjadi dua bagian.

Dengan mengakui wilayah separatis yang dikuasai Rusia, Putin memberitahu dunia bahwa wilayah itu bukan lagi bagian Ukraina.

Entahlah perang Ukraina.

Perang gelembung tanpa oksigen.

Tags : slide