close
Nuga News

Bukan Gaduh: Hanya Kisruh

Di tengah malam kemarin ada bunyi “treng” di hape saya sebagai penanda contrengan yang singgah di whatsapp. Terbangun. Langsung dibungkam reflek. Abaikan

Alasannya, sepenting apapun contrengan itu tidur tetap menjadi “number one.” Kan tidur sambil mikir akan sulit  menebus tujuh jam  standar bobok

Dan “treng” itupun raib dalam tidur.

Subuhnya, saat  dibuncah alaram tang.. ting.. tong..  si “treng”  tetap terpinggirkan. Shalat lebih prioritas.

Usai semuanya safe baru si “treng” saya sambangi.

Langsung terurai kalimat pendek dalam tiga kata yang  saya tak tahu pangkal ujudnya.

“Ada sedikit gaduh pak.”

Saya mengedipkan mata dan memicingkan otak mencari tafsir kalimat pendek ” ada sedikit gaduh” itu. Nggak ketemu. Sebab tak ada nahu sarafnya. Saya tinggalkan saja. Untuk apa dirusuhkan.

Apalagi nama si pengirim tak ada  di kontak hape saya.

Misterius?

Nggak juga. Kan kasus macam begini  sudah menjadi sarapan gadget.

Walaupun si “treng” udah jelas wujudnya, di sepagi itu saya mengabaikannya. Bersiap untuk olahraga. Mengemas perlengkapan sport dan menghardik sayang sang istri untuk cepat melengkapi di pagi itu. Satu jam jogging.

Saat membetulkan tali sepatu sang istri berceloteh tentang isian whatsapp miliknya. . “Heboh juga ya……,” ujarnya dalam suara datar tentang sesuatu yang ia nguping di bakda zuhur, sehari sebelumnya.

Sesuatu yang tanpa setahu saya ia ghibahkan ke teman lamanya. Teman lama yang bergaduh-gaduh itu.

Saya mendelik dengan ekspresi marah. Marah yang pura-pura. Marah senang karena pangkal pesan whatsapp “ada sedikit gaduh” itu   terhubung lewat  “ghibah” sang istri.

Langkah gontai jogging saya di pagi itu pun jadi santai. Nggak ada lagi yang nyungsep di pinggir memori.

Empat putaran lapangan saya lahap tanpa hembusan ngas.. ngos…. Putaran yang kalau dikilometerkan plus minusnya bisa  di angka delapan. Putaran yang tidak mikir tentang pesan di “jula malam” itu.

Pesan “jula” malam yang sebenarnya nggak pas memakai kata “gaduh.” Saya lebih senang kalau ditukar dengan kata “rusuh.” Kata rusuh kan bisa mendebarkan.

Mendebarkan ketika saya menyambangi sesorang penting di balaikota Banda Aceh lewat pesan whatsapp. Isi pesan berkalimat tanya tentang penyodoran surat pernyataan mundur sepuluh pejabat eselon dua. Pejabat tingkat kepala dinas.

Pesan itu masih saya tambah dengan kalimat bahwa saya memiliki lembarannya di WA. “Hanya bertanya,” tutup saya di ujung kalimat itu.

Selanjutnya, saya menyerahkan jawabannya kepada si pejabat penting itu. “Iya atau tidak saya ingin menuliskannya lagi.”

Rangkaian kalimat itu, menurut saya, adalah “style”  jurnalis yang ingin tahu sesuatu. Kalaupun harus dikomparasi dengan pertanyaan reporter tv sekelas Najwa Sihab, Desi Anwar, Rosi Silalahi atau Aiman Witjaksono kalimat tanya saya itu sangat halus.

Kalau Aiman lebih konfrontatif dan menjebak. Maklumlah, Aiman lebih muda. Sayakan jurnalis gaek yang gaungnya udah di makan era now.

Untuk Anda tahu, sebelum menulis pesan itu saya mikir dan mikir.  Mikir untuk menghindar jebakan fitnah. Saya tahulah, ukuran fitnah di medsos yang bisa membawa ke delik aduan.

Saya nggak mau harus melewati alur pengaduan, integorasi, tersangka dan selanjutnya. Repot merepotkan urusannya

Kemasan pertanyaan itu saya ulang beberapa kali sebelum diterbangkan ke pejabat itu. Setelah betul-betul sipp.. langsung saya klik.

Lantas untuk apa bertanya tentang masalah yang bukan tupoksi Anda?

Begitu mungkin Anda yang jutek melanjutkan tanya.

Kalau ini pertanyaannya mudah kok untuk di jawab. Jurnalis klas peunayong saja bisa sekali sergap meng”kick”nya. “Journalist is never die”

Darah saya kan jurnalis. Dan saya terusik oleh  jurus pejabat membungkam bawahannya model balaikota Banda Aceh ini. Membungkam lewat sodoran surat pernyataan untuk janji eselon yang lebih bawah.

Usai copot mencopot, angkat mengangkat dan lantik melantik ditambah lagi sodor menyodor. Ini kan bisa menimbulkan umpatan zalim bagi yang tercopot. Tentu tidak bagi yang diangkat. Tidak juga bagi yang melantik.

Kata zalim ini memang milik umpatan orang dibawah. Orang yang disenggol. Tak terkecuali mereka yang disenggol oleh es-ka pemberhentian seperti yang dilakukan….

Perangai ini memang khas  milik pejabat negeri ini. Pejabat ataslah. Pejabat yang tidak menempatkan pertimbangan kepangkatan, masa kerja, jenjang karir, eselonering dan prestasi kerja dalam sebuah gumam oke.

Anda nggak percaya?

Tanyakanlah kepada nurani si pejabat itu sendiri. Apakah mereka menempatkan pertimbangan ini seutuh kata sambutannya? Apakah mereka lebih mementingkan kedekatan, suka ngak suka  atau faktor x?

Kalau kita jujur-jujuran saja berapa persenkah pejabat yang mengisi eselonering di pemerintahaan yang benar-benar berangkat dari pertimbangan prestasi.

Saya tak mau menjawabnya. Takut dituduh menggiring opini. Sebaiknya Anda sendirilah yang bertanya dan kemudian menjawabnya. Pasti nggak ada dakwa dakwi dan debat mendebat atau kelebatan kata “pembenaran.”

Kan ajaran dalam aqidah kita katakanlah yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Ketika kembali ke pesan “ada sedikit gaduh pak” di whatsapp saya, yang kemudian saya jadikan “preambul” tulisan ini, sebenarnya nggak gaduh amat. Saya lebih suka memakai kata rusuh.

Rusuh medsos. Rusuh jemari yang pemarah Karena kalau jempol-jempol pemarah itu diam saja soal begituan, siapa yang akan meributkan?

Ingat ya, era sekarang ini, media beneran seperti sudah tidak punya taring. Seperti ompong. Kalau pun ingin menggigit, ternyata tingkat kepercayaannya pun setara dengan media sosial

Yang lebih menyedihkan lagi, kalau kita tidak bisa jujur dengan diri kita sendiri. Sekarang ini, berita semacam ini cepat beredar lewat media sosial, atau lewat grup WA.

Media saling tukar informasi dibanyak personal strata aparat sipil. Bayangkan saja. Ada sepuluh pejabat yang dicopot untuk kemudian digantikan oleh pelaksana tugas. Kalau di personal ini saja kita hitung kan sudah dua puluh.

Hitung saja kalau satu dinas isi personilnya ada tiga puluh. Kalikan saja.

Belum lagi jalaran medsos mengalir kesamping. Kiri-kanan-atas-bawah dan depan belakang. “gaduh”kan… ee.. rusuh kan.

Dan itulah yang terjadi di pemko Banda Aceh yang menjadikannya kata “gaduh” di wahtsapp saya.

Kata gaduh yang yang bisa dipanjang-panjang dengan skenario yang endingnya tak menggembirakan. Ending wobaksot-nya sang pejabat dicopot karena persetujuan es-ka-nya ngadat.

Kalau ngadatnya sampai dua bulan maka otomatis ada yang wobaksot. Bukan “wobak-soh”

Kalau ditambah embel-embel aturan  lain, bahwa si pejabat yang akan soh nggak boleh mengulik dan mengutik pejabat di eselonering tertentu kan tambah gaduh lagi.

Di ujung tulisan ini saya hanya minta tolong jangan lagi banjirkan kasus copot mencopot ini dengan genangan air kotor berbau ka-ka-en

Itu saja, he he he…

Tags : slide