close
Nuga Life

Dampak Pornografi Tidak Selalu Jelek

Anda pasti dampak dari pornografi terhadap kehidupan seksual.

Ya pornografi secara keseluruhan punya dampak plus minus terhadap kehidupan, terutama seks.

Dan apakah Anda termasuk mereka yang senang menikmati materi pornografi?

Mungkin Anda tidak mengiyakan karena masalah ini menjadi rahasia banyak orang yang takut untuk diungkap.

Tapi tahukah Anda bagaimana pengaruh pornografi pada kehidupan seksual seseorang?

Meski lebih banyak efek negatifnya, ternyata ada juga manfaat positif pornografi dalam kehidupan seks.

Para peneliti menyatakan pornografi tidak selalu bikin orang ketagihan. Walau sebagian penggemar pornografi secara teratur menonton atau membaca materi pornografi, tetapi penelitian neuroscience mengungkapkan bahwa hal itu bukanlah “kecanduan” seperti halnya pada alkohol atau narkoba.

Dan mekanismenya  di otak juga berbeda.

sebuah penelitian di Kanada yang menggunakan data nasional menunjukkan, orang dewasa yang menonton “film biru” ternyata mendukung penuh kesetaraan gender dibanding dengan yang tidak menonton film itu.

Selain itu, studi lain menyebutkan bahwa penggemar film porno lebih sedikit yang melukan kekerasan seksual.

Sementara itu dampaknya terhadap hubungan tak memiliki resiko.

Di luar dugaan, penelitian di Jerman menyimpulkan bahwa penggemar pornografi ternyata lebih memilih seks yang aman, misalnya selalu menggunakan kondom.

Mereka juga memiliki pasangan seksual yang lebih sedikit.

Walau begitu, mereka mengaku senang mencoba hal-hal baru di tempat tidur.

Malah pornografi  bisa bermanfaat bagi hubungan setiap pasangan.

Pasangan yang menonton film porno bersama, ternyata merasa lebih puas dengan kehidupan seksualnya.

Lantas muncul pertanyaan, mengapa demikian?

Kemungkinan karena mereka merasa lebih tertarik untuk mencoba berbagai variasi atau kesenangan bersama pasangannya.

Hubungan seks pun lebih bergairah.

Selain memiliki sisi “baik,” pornografi dapat berbahaya.

Salah satu penelitian menunjukkan, pria yang pada dasarnya memiliki sifat kurang peduli pada orang lain, cenderung akan memandang rendah perempuan jika mereka punya hobi menonton film porno.

Kesenangan seseorang pada pornografi juga sering menjadi alasan pertengkaran dengan pasangannya.

Pornografi juga sudah jelas berdampak buruk pada perkembangan anak dan remaja.

Tentang pornografi itu sendiri, ia bukanlah  produk manusia modern.

Pornografi sudah eksis sejak ribuan tahun lalu, bahkan sebelum ditemukannya teknologi video dan kamera foto.

Para ilmuwan bahkan yakin bahwa evolusi memengaruhi manusia memiliki gairah visual.

Berbagai bukti material pornografi dari zaman lampau juga menunjukkan bahwa manusia sejak dahulu sudah tertarik pada hal-hal yang berbau seks.

“Seks selalu menjadi hal yang penting bagi hubungan tiap manusia. Apa yang orang lain lakukan secara seksual selalu memancing rasa ingin tahu,” kata Seth Prosterman, seksolog klinis dan terapis dari San Francisco, Amerika Serikat.

Definisi pornografi sendiri sangat subyektif.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks.

Dari pengertian tersebut, ternyata penggambaran erotis pertama yang diketahui manusia mungkin tidak porno, tetapi lebih dalam pengertian tradisional.

Sekitar puluhan ribu tahun silam, manusia Paleolithic memahat bentuk payudara yang besar dan padat dalam figur wanita hamil pada batu dan kayu.

Para arkeolog menduga figur Venus ini tidak dimaksudkan untuk membangkitkan gairah, tetapi sebagai simbol kesuburan.

Kalau kita maju lebih dekat lagi, manusia purba di Yunani dan Roma menciptakan seni pahat dan seni lukis di dinding untuk menggambarkan homoseksual, threesome, fellatio atau seks oral pada penis, serta cunnilingus atau tindakan menstimulasi organ intim wanita dengan tangan atau lidah.

Di India pada abad kedua, Kama Sutra menjadi buku manual cara melakukan seks.

Kemudian orang-orang dari suku The Moche di Peru telah melukis adegan seksual pada barang-barang tembikar.

Sementara di Barat, kebanyakan material seksual yang disebar lebih banyak bersifat politis daripada pornografi.

Misalnya saja, saat Revolusi Perancis disebarkan pamflet bersifat seksual untuk menyindir anggota kerajaan. Bahkan Marquis de Sade, penulis terkenal dari Perancis yang karyanya terkenal akan unsur brutal dan erotis, lebih banyak berangkat dari unsur filosofis.

Kini, pornografi bisa dengan mudah ditemukan di internet meski angka pasti penjualan materi pornografi ini masih misteri.

Menurut sebuah riset, diperkirakan angka penjualan majalah, alat bantu seks, dan film porno per tahunnya mencapai enam  miliar dollar AS.

Usaha untuk membungkam materi pornografi sendiri masih terus berlangsung sejak era Victoria dan tampaknya belum akan mencapai kata akhir dalam waktu dekat.

Kecuali jika orang mulai berhenti melihat foto atau gambar orang lain dalam kondisi telanjang.