Tawa “Santos” Raib Di Subulussalam

Penulis: Darmansyah

Jumat, 6 September 2013 | 08:29 WIB

Dibaca: 1 kali

Menjelang azan subuh, Jumat, 6 September 2013, kami disapa dengan suara memelas oleh “Santos” lewat “phone seluler.” Sepagi ini, peserta tim Jelajah Sepeda Kompas-PGN Sabang-Padang asal Bekasi itu mengumbar suara memelas, serak tapi empuk, sembari mengabarkan kelelahannya yang amat sangat, usai menyelesaikan etape enam Tapaktuan-Subulussalam 155 kilometer.

“Kami sudah di Subulussalam sejak Kamis malam. Lelah dan lelah ‘ngon.’ Ini etape paling menantang. Penuh ‘rolling,’ penurunan tajam dan pendakian dengan kemiringan enam puluh derajat. Sebuah tantangan. Kami sudah menyelesaikannya,” kata “Santos” serius.

“Santos” kali ini tidak cekikan atau terbahak. Ia minta tabik untuk melanjutkan tidurnya untuk sekejap usai menunaikan shalat subuh. “Adios ‘rakan,’ Saya ingin merem sekejap untuk mengembalikan kesegaran.
Saya tahu persis bagaimana “Santos” kehabisan enerji karena dikuras oleh kondisi medan pada jelajah Tapaktuan-Subulussalam. Jelajah yang, ketika kami masih ‘remaja’ sebagai anak negeri “ketelatan” pernah “menikmati”nya ketika ‘menggalas” atau berniaga ke Runding atau Lae Butar di Aceh Singkil.

Berbeda dengan waktu tempuh “Santos” yang hanya sebelas jam. Dulu kami menjalani rute Tapaktuan-Subulussalam dua hari dua malam dengan bermalam di Bakongan dan Gelombang.

Ketika itu rute ini masih jalan “sirtu,” pasir dan batu. Artinya permukaan jalan cukup ditimbun dan diratakan dengan pasir dan batu. “Subhanallah prihatin kondisinya. Jalan becek, hutan lebat dan harimau berkeliaran di siang hari.”

Ketika “Santos” gowes di hari Kamis yang terik, trase Tapaktuan Subulussalam sudah “cap jempol.” Jalan ini, dua puluh tahun yang lalu, dibangun kembali lewat duit Amerika Serikat lewat paket “grant,” US-Aid, dengan ruas Tapaktuan-Sidikalang sepanjang 216 kilometer.

Kami lupa berapa dollar yang diberikan oleh Us-Aid. Yang penting, ketika jalan ini dibangun ketika kami sudah menjadi wartawan sebuah majalah berita mingguan paling “top” di Jakarta, dan sempat menyambangi proyek ini.

Kami ingat betul pimpinan proyeknya bernama Ir Sutomo dan berkantor di sebuah bukit kecil di pinggiran Kota Sidikalang, Sumatera Utara.

Ah, tak terlalu penting cerita itu. Yang penting, jalan ini pernah ditelantarkan pembangunannya oleh PT Marjaya milik Teuku Markam, seorang Aceh bekas tentara yang menjadi anak mas Bung Karno dan dikarangkeng tanpa proses hokum selama bertahun-tahun di awal orde baru.

Dulunya Markam memiliki perusahaan besar bernama PT Karkam. Konon, markam membangun usahanya itu menjadi raksasa lewat “smokel” atau penyeludupan di Selat Malaka. Penyeludupan itu direstui oleh Bung Karno karena dananya sebagian disumbang bagi proyek “Ganyang Malaysia.”

Markam dibebaskan Soeharto dengan perjanjian tidak tertulis agar tidak menuntut hartanya yang disita pemerintah. Harta milik Markam ini, sebelumnya telah digabung dengan kekayaan milik Aslam, pemilik PT Aslam, seorang China Kek, untuk mendirikan PT Berdikari.

Untuk “mengobati” sakit hati Markam atas “perampasan” assetnya itu, sekeluar dari tahanan anak Aceh yang ngomongnya “pasaran,” maklum ia hanya menempuh pendidikan yang minim, Soeharto merekomendasikan untuknya mendapatkan berbagai proyek infrastruktur, seperti jalan, irigasi dan ekspor impor.

Hampir seluruh usahanya ini mengalami “amblas” karane topangan manajemennya yang rapuh. Termasuk penyelesaian rute jalan Tapaktuan-Sidikalang, ruas Tapaktuan-Krueng Luas sepanjang 96 kilometer.

Pembangunan jalan ini kembali berlanjut setelah diambilalih Departemen PU dan diserahkan pengerjaan kepada PT Adi Karya. Selesai menjelang tahun sembilanpuluhan. Dan kemudian rute ini mendapat “tambalan” dana dari BRR, pasca tsunami, seperti yang dilewati oleh jelajah gowes timnya “Santos.”

Kami memang tidak pernah menceritakan ke “Santos” kisah “heroik” pembangunan ruas jalan yang ia lewati. Biarlah ia membacanya lewat media “online.” Dan ketika Tim Jelajah Jelajah Sepeda Sabang-Padang bersama Kompas dan PGN tiba di Subulussam, Aceh Selatan sekitar pukul 20.00 WIB, rute sepanjang 155 kilometer dari Tapaktuan, kami bisa kembali mengenangnya.

Memang, untuk menyelesaikan etape enam ini dibutuhkan tenaga ekstra karena melalui tanjakan yang terjal dan penurunan yang curam. Menurut “Santos,” tim sempat istirahat cukup lama untuk makan siang, sebelum melewati jalur penuh tanjakan.

Perjalanan pada etape kali ini cukup menguras tenaga. Meskipun demikian kepuasan tampak dari wajah para anggota tim karena berhasil melalui etape VI yang sangat melelahkan. Tiga orang peserta laki-laki terpaksa dievakuasi karena masalah kesehatan maupun gangguan pada sepedanya.

Pada etape ini, Tim Jelajah Sepeda Sabang-Padang dilepas oleh Bupati Aceh Selatan Teuku Sama Indra di Tapaktuan pukul 08.30. Dari sini mereka langsung menjajal jalan menanjak di balik perbukitan.

Jelajah Sepeda Sabang-Padang dibagi menjadi 13 etape. Lima etape sebelumnya telah mereka lalui yaitu Sabang-Banda Aceh (56 km), Banda Aceh Calang (154 km), Calang-Meulaboh (90 km), Meulaboh-Blang Pidie (130 km), dan Blang Pidie-Tapaktuan (75 km). Jelajah Sepeda ini dikuti 45 peserta dengan tiga di antaranya peserta perempuan.

Jelajah sepeda eksotik ini diadakan untuk kelima kalinya, harian Kompas dengan menggelar jarak jauh lintas kabupaten, kota bahkan provinsi. Kali ini jelajah menjajal jalur dari Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam sampai Padang, Sumatera Barat.

Gelaran Jelajah Sepeda ditargetkan tak berhenti pada “rutinitas” yang sudah berjalan lima tahun. Pada 2015, bertepatan dengan usia Kompas ke 50 tahun, kegiatan ini dirancang menaklukkan jalur dari Sabang sampai Merauke, Papua.

Ini jelajah yang panjang, yang berat. Bagi peserta yang sudah ikut di jelajah lain, Kompas berupaya memberikan pelayanan saesuai kondisi di lapangan,” kata Budiman. Jarak yang ditempuh di rute Sabang-Padang ini adalah 1.539 kilometer.

Sekitar 46 pesepeda dari beragam wilayah dipertemukan dalam Jelajah Sepeda Kompas. Tak selalu setiap peserta sudah saling kenal. Momen ini adalah momen untuk sharing, saling berbagi. Semoga bisa dilakukan dengan baik dan penuh kebersamaan..

Perjalanan tim Jelajah Sepeda akan berlangsung selama 14 hari,dimulai 31 Agustus 2013 dan dijadwalkan rampung pada 14 September 2013. Gowesan pertama sudah dimulai dari Tugu Nol Kilometer Indonesia di Pulau We, Kota Sabang. Tahun ini, Kompas menggandeng PT Perusahaan Gas Negara untuk menggelar Jelajah Sepeda.

Dimulai pada 2008, Jelajah Sepeda pertama kali digelar dengan menapaki rute Anyer-Panarukan sejauh 1.000 kilometer. Pada 2010, kegiatan serupa kembali digelar, dengan rute Surabaya-Jakarta, menempuh jarak 1.000 kilometer juga.

Berikutnya, Jelajah Sepeda diadakan lagi pada 2011, menempuh rute Jakarta-Palembang sejauh 810 kilometer. Lalu, pada 2012, rute Jelajah Sepeda mengarah ke timur, menempuh jarak 610 kilometer melintasi jalur Bali-Pulau Komodo.

Komentar