Teror Kematian Sebuah Siang di Gaza City

Penulis: Darmansyah

Senin, 4 Agustus 2014 | 10:33 WIB

Dibaca: 0 kali

Gaza City di sebuah siang. Kala itu bakda zuhur. Sebuah roket baru saja menghantam sebuah bangunan bertingkat di lorong sempit di Jalan Al-Jalla. Warga ramai membicarakannya dan sebagian lainnya bergerak mengais sisa “harta” yang ada di puing bangunan.

Tak ada rasa takut. Mereka kembali lagi beraktifitas. Bahkan ketika ada seruan tentang rencana berikutnya dari militer Israel untuk membombardir sebuah bangunan bertingkat di jantung kota Gaza, penduduk Jalan Al-Jalla keluar rumah untuk menunggu sekaligus menyaksikan datangnya serangan..

Anak-anak berkumpul di balkon-balkon bangunan. Para pemuda berkumpul di persimpangan jalan, sementara beberapa orang lainnya meletakkan batu dan ban bekas untuk menghalangi jalan yang melintasi gedung yang akan menjadi sasaran.

Seorang pria yang hanya mengenakan kaus dalam berperan sebagai polisi lalu lintas, mengarahkan pengguna jalan untuk mengubah arah kendaraan mereka. Mobil-mobil berhenti, mata mereka tak berkedip memandang gedung naas yang sesaat lagi akan hancur.

Beberapa menit sebelumnya, militer Israel menelepon putra Bashir al-Ramlawi, pemilik dari gedung yang akan menjadi sasaran. Bagaimana militer Israel mendapatkan nomor telepon pemuda tersebut, hal itu masih menjadi misteri.

Suara di ujung lain telepon itu memerintahkan pemuda tersebut mengevakuasi keluarganya karena gedung itu akan menjadi sasaran serangan udara.

Seusai menerima telepon itu, pemuda tersebut dengan sedikit panik memanggil sang ayah yang kemudian meminta semua anggota keluarganya yang berjumlah tiga puluh orang untuk meninggalkan gedung itu dan mencari tempat aman.

Para tetangga mungkin melihat keluarga Al-Ramlawi berlarian meninggalkan kediamannya, atau mungkin juga putra Al-Ramlawi menghubungi kawan-kawannya, yang jelas kabar serangan itu menyebar dengan cepat dan dengan segera semua warga di jalan Al-Jalla mengetahui akan datangnya serangan Israel itu.

Warga kemudian menunggu detik-detik jatuhnya bom dari langit Gaza. Tiba-tiba, sebuah ledakan keras terdengar diikuti kepulan asap mirip cendawan. Gedung tempat keluarga Al-Ramlawi sudah diserang. Namun, warga sudah mafhum, serangan ini baru “menu” pembukaan.

Beberapa menit kemudian, sebuah bom jatuh dari langit menghantam gedung tersebut. Sekali lagi asap membubung, menyelubungi jalanan di bawahnya. Bom ketiga kemudian menghantam, dan gedung itu masih berdiri.

Tak seorang pun beranjak. Mereka sudah paham, tiga serangan pertama merupakan peringatan kecil dari drone Israel. Serangan ini adalah peringatan bagi siapa pun yang masih berada terlalu dekat dengan gedung itu dan sekaligus sebagai cara “melunakkan” gedung itu.

Jarum jam terus bergerak di pasca zuhur itu, dan terdengar raungan jet F-16 di langit Gaza. Sekejap kemudian, sebuah rudal melesat di atas kepala warga Jalan Al-Jalla, menghantam gedung itu.

Asap lebih besar membubung, dan gedung itu akhirnya tumbang. Tak ada korban jiwa atau luka. Gedung-gedung di sekitar sasaran juga tak mengalami kerusakan.

Dalam hitungan menit, ketegangan itu hilang dan jalanan dibuka kembali. Mobil-mobil kembali melanjutkan perjalanan melewati puing-puing bangunan. Semua tampak normal, kecuali tentu bagi Al-Ramlawi.

“Saya tak tahu mengapa mereka menyerang kediaman saya, padahal saya tak memiliki kaitan apa pun dengan Hamas atau kelompok lainnya,” kata Al-Ramlawi, nyaris menangis.

Pria itu menambahkan, semua kerabatnya yang tinggal bersama dia sudah pergi mencari tempat aman di Shijaiyah, wilayah timur Gaza. Sekarang, mereka semua tak memiliki tempat tinggal.

Pertempuran yang tengah terjadi di Gaza saat ini, seperti sebuah episode baru dari saga yang dimulai ketika Israel secara unilateral menarik pasukan dari wilayah pada 2005 lalu. Namun kemudian Israel menerapkan blokade pada 2007 setelah Hamas memegang kendali di Gaza.

Konflik yang kali ini terjadi merupakan konflik keempat terbesar yang terjadi antara Palestina dengan Israel di Gaza. Pemerintah Israel secara retorik menyebutkan serangan yang mereka lakukan akan berlangsung dalam skala kecil dan singkat, dengan tujuan merusak Hamas.

Tetapi pada kenyataannya, Israel yang diberikan keuntungan sejak Hamas memerintah di Gaza. Hal ini bisa membuat Israel untuk mempermainkan Fatah -yang dominan di Tepi Barat- melawan Hamas.

Rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah dalam sebuah pemerintahan yang bersatu sepertinya menjadi motivasi bagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk meluncurkan serangan.

Berdasarkan penilaian tersebut, Israel sepertinya memperkirakan mereka bisa terus melakukan operasi di Gaza tanpa menimbulkan korban jiwa lebih banyak. Fakta bahwa Iron Dome saat ini sudah beroperasi penuh dan efektif, makin membuat Israel besar kepala.

“Meskipun Israel terus melakukan serangan udara dan menewaskan hingga lebih 800 warga Palestina, jelas sekali bahwa Hamas seperti telah meningkatkan kemampuan perang di darat. Khususnya dalam perang urban, kemampuan Hamas semakin meningkat,” tulis profesor Sejarah University of California, Santa Barbara Adam Sabra, seperti dikutip Al Jazeera..

“Lebih lagi, kalkulus politik sudah berubah. Dengan sikap Pemerintah Mesir yang tidak bersahabat dan hubungan tidak harmonis dengan Iran, karena mendukung oposisi Suriah, Hamas sepertinya sudah membuat keputusan sendiri. Mereka mendesak gencatan senjata harus disertai dengan diakhirinya blokade permanen dari Israel,” lanjutnya.

Posisi seperti ini ternyata meningkatkan dukungan bagi Hamas dari pihak Palestina dan berjanji untuk menyatukan Palestina di balik agenda yang sama. Presiden Palestina Mahmoud Abbas pun tidak punya pilihan lain untuk mengikuti jalan Hamas dan menyuarakan tuntutan sama.

Meskipun Pemerintah Israel secara hati-hati menyuarakan keberhasilan operasi militernya, bukti menyatakan lain. Seluruh korban dari pihak Israel dalam perang kali ini yang berjumlah besar.

Melihat kondisi yang terjadi saat ini, apakah menunjukkan sebuah titik balik dalam pertempuran yang dijalani oleh Israel dengan Palestina, khususnya Hamas?

dikutip dari laporan “middle” east monitor” dan jariangan televisi “al-jazzera”

Komentar