Bernie Masih Mendapat Kehormatan

Penulis: Darmansyah

Rabu, 25 Januari 2017 | 15:26 WIB

Dibaca: 0 kali

Bernie Ecclestone yang telah menepi dari posisi Direktur Eksekutif Formula One  masih mendapat kehormatan, terutama yang datang dari penggantinya Chase carey.

“Liberty Media selaku pemilik saham baru, tetap memberikan penghormatan terhadap Ecclestone,” tulis “speedweek,” hari ini, Rabu, 25 Januari 2017.

“Ia  kini diangkat menjadi Presiden Kehormatan F1.”

Carey mengatakan, Ecclestone masih bisa memainkan peran penting di ajang balap jet darat ini.

Ia menyebut jabatan presiden kehormatan tersebut tak bermakna kosong.

“Bernie  bakal bisa berguna bagi saya di kepemimpinan bisnis ini, serta bisa memberikan saran bermanfaat,” ucap Carey.

“Kami ingin memberikan hormat yang rasanya memang pantas diberikan. Tak ada perdebatan, Bernie  bisa memberikan saran penting dan membantu cara kami berbisnis serta kami berharap ia bisa melakukannya.”

Carey pun menyadari bakal sulit bagi Ecclestone yang terbiasa mengoperasikan langsung F1 sesuai dengan keinginannya, untuk tak lagi berada di posisi eksekutif.

“Ia telah melakukan peran itu seumur hidupnya, menjalankannya. Saya tidak menutup kenyataan bahwa akan sulit meletakkan peran itu dan mendapatkan posisi baru yang tak lagi vital,” tutur Carey.

“Namun, saya benar-benar berharap bisa mendapatkan sarannya dan membantu kami.”

Direktur Eksekutif F1 memang posisi terpenting untuk menjalankan ajang tersebut.

“Saya yang menjalankan pertunjukannya saat ini,” pungkas Carey.

Ttersingkirnya Bernie dan diambil alihnya kepemilikan Formula One oleh Liberty Media, menempatkan lomba jet darat itu  di ambang sejarah baru.

Formula One kini akan menghadapi masa-masa perombakan total yang bisa menyelamatkan nyawa mereka.

Dalam satu dekade terakhir, ajang yang kerap disebut pinnacle of motorsport itu memang mengalami masa-masa kemuraman.

Aturan-aturan baru coba diterapkan pengelola untuk menarik minat penonton tanpa hasil menggembirakan.

Misalnya saja format kualifikasi yang coba diubah pada musim lalu.

Alih-alih membuat balapan kian menarik, format baru itu menuai protes dan akhirnya dikembalikan ke aturan awal.

Selain itu, perbedaan kemampuan mesin dari satu tim ke tim lainnya juga menyebabkan semakin jarang pebalap tim kecil yang menjadi juara.

Distribusi uang hadiah yang timpang dan menguntungkan tim-tim besar seperti Ferrari dan Mercedes juga memperparah kondisi.

Nyaris tak ada kejutan berarti yang bisa ditampilkan tim-tim non-unggulan dalam satu dekade terakhir.

Salah satu faktor lain yang membuat Formula One kehilangan peminat adalah kegagalan mereka menjaring anak-anak muda lewat dunia digital.

Ya, di saat keriuhan terjadi di media sosial dan Facebook menjadi salah satu brand paling kuat di dunia, F1 justru jadi olahraga yang paling terlambat untuk memasukinya.

Di bawah Bernie Ecclestone –bos F1 yang telah memimpin selama lebih dari empat puluh tahun– ajang balap itu memang lebih difungsikan untuk menarik perhatian orang-orang kaya dunia.

Karena itu, Ecclestone lebih memilih untuk membuka jejaring dengan pemimpin-pemimpin dunia, meski hal itu berarti membawa F1 ke tempat-tempat bermasalah.

Strategi itu pun diakui Ecclestone sendiri bahwa ia tak berminat melayani anak-anak muda.

“Anak-anak muda tahu soal merek Rolex (jam tangan mewah), tapi apakah mereka mampu membelinya? Tidak,” ujarnya kepada The Guardian, dua tahun lalu.

“Sponsor kami lainnya adalah UBS — sementara anak-anak ini tidak peduli dengan perbankan. Mereka bahkan tak punya uang untuk menabung di bank. Itu hal yang ada dalam pikiran saya.”

“Saya lebih baik mengincar pria berusia 70 tahun yang punya banyak uang,” ucap Ecclestone.

Lembaran sejarah baru F1 akan dimulai di bawah Liberty Media, perusahaan raksasa asal Amerika Serikat. Tak tanggung-tanggung mereka merekrut nama yang memang akrab dengan olahraga dan industri hiburan.

Chase Carey, mantan petinggi eksekutif 21st Century Fox, resmi menggantikan posisi Ecclestone sebagai pemimpin eksekutif. Sementara itu, Sean Bratches, yang pernah menjadi kepala eksekutif media olahraga ESPN akan mengatur sisi komersial, termasuk aspek pemasaran, hak siar, dan juga kerja sama sponsor.

Mantan Direktur Teknik Ferrari dan mantan Kepala Tim Mercedes, Ross Brawn, kebagian mengurusi aspek teknis dan segala sesuatu yang terkait balapan.

Era kepemimpinan Ecclestone pun praktis berakhir ketika dirinya disingkirkan menjadi Presiden Kehormatan.

Di bawah nama-nama pemimpin baru F1, para penggemar akan berharap ajang balapan mobil nomor satu itu kembali ke tempat yang semestinya: mendapat perhatian dunia.

Apalagi Amerika Serikat sendiri terkenal sebagai negara yang paling sukses menggabungkan industri olahraga dan hiburan.

Dikutip dari BBC, Liberty Media juga ingin mengembalikan F1 kepada trah yang sebenarnya yaitu dengan pasar Eropa sebagai penyokong utama.

Mereka pun lebih ingin menghidupkan kembali trek-trek legendaris Eropa ketimbang meraup untung dari negara-negara kaya bermasalah.

Di sektor balapan, Ross Brawn akan punya tanggung-jawab paling penting mendengarkan para pebalap soal cara-cara untuk membuat balapan lebih menarik.

Perubahan tentu tidak mungkin terjadi dalam semalam.

Akan tetapi, satu hal yang bisa disimpulkan, tersingkirnya Ecclestone dan kedatangan Liberty Media membuat Formula 1 kini berada di fase transisi menuju era yang selanjutnya

Komentar