Barcelona, Enrique dan Sang Pelatih

Penulis: Darmansyah

Kamis, 2 Maret 2017 | 15:47 WIB

Dibaca: 1 kali

Para wartawan yang memenuhi ruang Ricard Maxenchs di Stadion Camp Nou telah berada pada posisinya masing-masing. Mereka menantikan konferensi pers usai Barcelona versus Gijon, di Kamis dinihari WIB itu.

Dalam benaknya mereka telah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan dilayangkan kepada Pelatih Barcelona, Luis Enrique.

Pasalnya kemenangan telak enam gol berbanding satu gol atas Sporting Gijon itu telah mengantar Barcelona kembali ke pemuncak klasemen La Liga–menyalip Real Madrid yang ditahan imbang Las Palmas.

Bertubi-tubi pertanyaan dilayangkan kepada Enrique. Dan, tak ada yang menyangka ketika di akhir jumpa pers Enrique memberikan kabar mengejutkan.

“Saya ingin mengambil kesempatan untuk mengakhiri konferensi pers ini dengan cara yang berbeda…Hari ini saya mengumumkan tak akan lagi menjadi manajer Barcelona musim depan,” tutur Enrique dengan suara serak dan dalam setiap jeda kata kerap melipat bibir.

Enrique kemudian menarik napas sambil melipat bibir kembali. Tatapannya ke arah meja. Sesaat kemudian dia menyatakan keputusannya itu sangat sulit bagi dirinya namun itu telah dipikirkan dengan seksama.

Juru taktik kelahiran Gijon, Spanyol, pada empat puluh enam tahun silam itu akan berakhir kontraknya di Barcelona pada akhir musim ini.

Sebelumnya Enrique diprediksi bakal memperpanjang kembali kontraknya, namun itu telah diputuskan tidak.

Pemberitahuan rencana kepergian Enrique pun membuat manajemen Barcelona mampu berkonsentrasi mencari penggantinya.

Sejauh ini ada lima nama yang masuk bursa pelatih seperti dilansir media-media Spanyol. Namun, Presiden Barcelona, Josep Maria Bartomeu, menegaskan nama itu bakal dirilis pada 1 Juli mendatang.

Bersama dirinya Barcelona selalu meraih trofi baik sebagai pemain–sempat pula menjabat kapten, maupun sebagai pelatih.

Hal paling berkesan dari Enrique bersama Barcelona adalah ketika dirinya memutuskan hengkang dari Real Madrid di akhir musim 1996. Enrique yang sebelumnya masuk barisan inti tengah Madrid pun bertransformasi menjadi kapten Barcelona pada 2002 silam.

Kini, Enrique telah memutuskan dirinya tak akan memperpanjang kontrak di Barca, seperti yang ia siratkan pada November tahun lalu.

Enrique masih bisa memberikan persembahan terakhir bagi Barcelona di akhir musim ini. Tengah pekan ini Barcelona kembali menyalip Madrid dalam perburuan trofi La Liga.

Enrique pun masih bisa mengantar Barcelona menjuarai Piala Raja. Pasalnya Barca telah melenggang ke babak final dan akan menghadapi Alaves pada dua puluh tujuh  Mei nanti. Barcelona pun masih berlaga di Liga Champions.

Namun langkah berat mengadang Barcelona di babak enam belas besar. Pasalnya untuk lolos, Enrique harus melalui misi mustahil menang lima gol di leg kedua atas Paris Saint-Germain.

Enrique mungkin sudah lelah dengan tekanan di Barcelona, tapi masih berpeluang memberi persembahan terakhir bagi tim dengan fokus yang tersisa hingga akhir musim.

Enrique masih bisa membawa Barcelona mengangkangi rival abadinya kembali, Real Madrid. Sama seperti ketika dirinya memutuskan pergi begitu saja dari Santiago Bernabeu ke Barcelona.

Keputusan Luis Enrique untuk mundur dari posisinya sebagai pelatih Barcelona pada akhir musim nanti menyisakan pertanyaan besar soal sosok yang akan menjadi arsitek anyar selanjutnya di Nou Camp.

Presiden Barca, Josep Maria Bartomeu, menyatakan bahwa ia dan manajemen klub akan melaksanakan proses pencarian pelatih berkaliber di belakang layar secara tenang. Ucapannya mengindikasikan bahwa Barcelona tidak akan membocorkan satu pun nama hingga waktu pengumuman pada 1 Juli nanti.

Namun bukan berarti spekulasi akan berhenti bergulir. Beberapa nama pun mulai didengung-dengungkan akan jadi kandidat yang pas untuk Enrique, misalnya saja Jorge Sampaoli yang kini Sevilla, Ernesto Valverde (Athletic Bilbao), hingga Ronald Koeman yang masih jadi pelatih Everton.

Barca sendiri bukan klub yang mudah ditangani. Meski Liga Spanyol terkesan sebagai kompetisi yang hanya diperebutkan dua tim saja –Madrid dan Barcelona– tekanan sebagai pelatih sangat besar dan bahkan membuat Luis Enrique kelelahan.

Berikut adalah beberapa tantangan yang harus dijawab sosok yang menginginkan kursi pelatih Barcelona.

Sejak Johan Cruyff datang dan merevolusi akademi La Massia pada akhir delapan puluhan silam, Barcelona selalu mencari pelatih yang bisa memainkan skema menyerang dan dengan mengandalkan penguasaan bola. Mulai dari Louis van Gaal, Frank Rijkaard, Pep Guadiona, Gerardo Martino, hingga Luis Enrique pun dituntut hal sama.

Tentu ada berbagai cara untuk memainkan sepak bola atraktif, karena gaya empat tiga tiga milik Guardiola dan Enrique sendiri berbeda, yaitu Enrique yang lebih menitikberatkan pada umpan vertikal yang langsung diarahkan pada kotak pertahanan lawan, sementara Guardiola tak masalah jika bola sering bergulir di lini tengah sebagai bentuk pertahanan.

Akan tetapi, syarat utama bahwa pelatih harus meneruskan blue-print gaya permainan La Masia harus terpenuhi.

Dengan status sebagai satu dari tiga klub terkaya di dunia, serta paling sukses dalam dua dekade terakhir, Barcelona selalu dituntut untuk memenangi setiap kompetisi yang mereka ikuti di setiap musim.

Standar yang dipasang oleh Pep Guardiola dan Luis Enrique sebagai pelatih Barcelona pun bukan sembarangan, yaitu mengantarkan trigelar di musim pertama mereka melatih.

Siapapun yang melatih Barcelona di musim depan pasti akan mendapatkan tekanan menyamai prestasi itu jika namanya ingin disejajarkan dengan Enrique atau Guardiola.

Barcelona bukan hanya memiliki pemain bintang, tapi juga salah satu pemain terbaik sepanjang waktu dalam sosok Lionel Messi. Ia punya rasa lapar bermain yang tinggi tapi juga tak mudah untuk ditangani oleh pelatih. Tak heran Enrique sempat berselisih dengannya di bulan-bulan pertamanya melatih Barcelona.

Komentar