Sulit Dicari Pengusaha Aceh yang Jujur

Penulis: Darmansyah

Rabu, 17 Oktober 2012 | 13:31 WIB

Dibaca: 0 kali

Sepenggal kalimat menyentak yang diucapkan Pak Ali Basyah Amin, ketika kami duduk bersebelahan dalam sebuah penerbangan Banda Aceh- Jakarta, tiga dekade lalu, masih meleleh dari memori kami hingga sekarang.

“Anda tahu? Sulit dicari pengusaha Aceh yang jujur.”

Saya tidak tahu kenapa kalimat itu tiba-tiba muncul dalam ekspresi percakapan kami. Berdurasi pendek, lugas dan langsung ke persoalan. Kalimat itu terasa spontan atau nyablak kalau pakai istilah orang Betawi. Ia diucapkan dengan intonasi dan retorik khas Ali Basyah Amin yang nada suaranya ngepop, dan kemudiannya saya garisbawahi sebagai “maklumat” ketimbang sekadar pernyataan.

Kalimat itu, yang saya tahu kemudiannya, berasal dari latar belakang pengalaman beliau ketika bersentuhan dengan saudagar Aceh dari generasi “antara”. Usai generasi Dagang Sepakat atau pun Permai. Yang liat, jujur dan kerja keras.

Mungkin yang dimaksudkan Ali Basyah generasi “pembohong,” eh bukan, generasi pemborong maksudnya. Sebuah generasi separuh instan yang menjadikan tender “jamaah” dan proposal cilet-cilet untuk menelikung bank.

Percakapan kami panjang sebelum Ali Basyah merumuskan kesadaran sejarahnya itu dengan nada jengkel sebagai seorang ilmuwan, yang ketika itu baru mudik ke kampusnya setelah menyabet gelar S-3 di luar negeri. Nada jengkel ketika teori keilmuannya “dikentuti” oleh praktek bisnis petualang.

Ali Basyah Amin yang kini sudah berpulang, kala itu memang baru mudik setelah mendapat gelar doktor dalam bidang keilmuan ekonomi regional. Waktu kami bertemu dalam sebuah perjalanan di kala itu, ia masih belum menduduki jabatan struktural di kampus, dan secara iseng, katanya, mencoba untuk menjadi konsultan investasi amatiran.

Dalam perjalanan hidupnya, Ali Basyah yang orang kampus tulen itu memang pernah menempati posisi jabatan struktural. Puncak karir adalah menjabat dua periode Rektor Universitas Syiah Kuala.

Di masa jeda itulah, menurut ceritanya, ia mendapat tawaran, istilahnya dipakat oleh seorang pengusaha asli Aceh, yang dikatakannya sudah sangat ia kenal, untuk mengerjakan sebuah project proposal investasi perkebunan dan hutan tanaman industri.

Di periode itu investasi perkebunan besar dan hutan tanaman industri menjadi primadona para pengusaha secara nasional karena secara investasi sangat prospektif. Program ini diluncurkan dari kajian yang panjang dan mendapat dukungan dana pinjaman lunak The World Bank yang berkepentingan mendorong pengembangan komoditi pertanian di Indonesia.

Dan si pengusaha, menurut Ali Basyah, menangkap peluang investasi itu untuk mendapatkan dana segar, murah, tapi tentu saja disertai dengan persyaratan ketat. Wajar-wajar saja para pengusaha mengincar dana yang diplotkan penyalurannya melalui Bank BUMN, pada waktu itu Bank Exim dan Bank Bumi Daya.

Ali Basyah mengerjakan proyek itu sebagai konsultan, yang ia namakan amatiran, tanpa didahului sebuah kontrak kerja dan prasyarat lainnya. “Kerjakan saja,” begitu tutur Ali Basyah ketika menanyakan kualifikasi yang dikehendaki oleh si pengusaha dalam rekomendasi proposal investasinya. “Ini sebenarnya kesalahan saya. Harusnya tanya dulu apa yang ia mau dengan rekomendasi proposalnya.”

Tak sulit bagi seorang Ali Basyah mengerjakan proposal yang sebagian formatnya sudah dibakukan oleh Bank Exim. Apalagi sebagai seorang doktor ekonomi lulusan luar negeri, plus perjalanan ketokohannya pasca-Aceh modern, membuatnya tak menemukan hambatan dalam menyiapkan kerja proyek itu.

Ndak ada persoalan. Simple,” cerita Ali Basyah tentang proyek yang nilai kredit yang diajukan mencapai puluhan mliyar rupiah. Waktu itu nilai tukar US dolar masih Rp 1.600. “Besar sekali,” katanya.

Yang jadi masalah, menurutnya, setelah project proposal itu rampung. “Ributnya datang dari catatan yang saya cantumkan sebagai pendapat akhir konsultan di lembaran kolom formulir ke-24 yang disediakan oleh pihak bank dengan bunyi, tidak layak investasi,” kata Ali Basyah ketika itu.

Sang pengusaha tak mau terima pernyataan di catatan itu. Ia meminta supaya mengubahnya menjadi kata “layak investasi”. Dan dalam kisahnya itu Ali Basyah mengatakan, ”Saya tak mau mengubahnya. Itu harga mati. Itu prinsip profesional saya sebagai seorang akademisi.” Untuk mengubahnya harus dimulai lagi dari awal untuk kesamaan alur.

“Tak mungkin. Apalagi si pengusaha tidak “bankable” yang membutuhkan modal awal yang jumlahnya cukup besar. Sewaktu saya tanya apa dia punya cadangan dana tunai sekian milyar, ia menjawab dengan santai tulis saja sembari menyodorkan garansi bank yang tak ada hubungannya dengan proposal investasi. Ya sudah saya nggak mau diskusi. Saya bikin saja tidak layak.”

Usai itu ada debat. “Tapi saya menganggapnya celoteh bodoh,” kata Ali Basyah yang sempat diumpat sebagai tidak mengerti “permainan”. “Saya memang tak mengerti permainan. Tapi kepada si pengusaha saya sempat memberi khotbah tentang arti kejujuran. Sebagai insan ilmu saya harus mengatakan kepada si pengusaha itu dia tak layak mendapatkan kredit.”

Ali Basyah juga mengatakan, “Kalau di luar negeri saya dibayar dua kali dari project proposal itu. Bayaran pertama datang dari order kerja. Dan bayaran kedua dalam bentuk fee bahwa saya telah menyelamatkan dia dari kerugian yang datang dari usaha yang tidak layak.”

Sembari bergurau dengan suaranya yang sangat khas, Ali Basyah mengatakan, ketika pesawat kami hampir landing, “Saya tak pernah dibayar atas pekerjaan project proposal itu.” Dan si pengusaha juga tidak pernah mendapatkan kredit perkebunan besar dan hutan tanaman industri itu karena memang tidak layak.

Cerita tentang project proposal ini, menurut Pak Ali Basyah, ketika kami bertemu saat beliau sudah menjadi rektor, sering dijadikannya sebagai anekdot atau banyolan tentang sudah tergerusnya kejujuran pengusaha Aceh di era itu. Ia sering mengulang-ulang pengalaman konyol itu di banyak kesempatan.

Pekan lalu, ketika saya berjumpa dengan seorang pensiunan pejabat provinsi di sebuah pertemuan, saya mengulang kisah ini. Entah apa yang membawa kami hingga ke kisah ini sulit saya ingat. Tapi, yang pasti, belum selesai mukadimah saya, sang mantan pejabat malah dengan gairah menceritakan versi yang lebih seru dari “maklumat” Ali Basyah yang juga pernah di dengarnya langsung.

Malah si teman membuka front lebih luas dengan menuding kredit itu menjadi bancakan para pengusaha yang dekat dengan kekuasaan Orde Baru kala itu, dan The World Bank sebagai penyandang dana juga ikut membuka peluang untuk “permainan” dari pinjaman yang tidak gratis itu.

Praktek telikung bank untuk investasi seperti dikatakan Ali Basyah Amin di dekade itu, kini relatif sudah usang karena ketatnya pengawasan yang dijalankan Bank Indonesia. Bahkan fungsi pengawasan itu kini sudah ada ditangan sebuah lembaga yang lebih khusus.

Kerisauan kita tentu tidak pada bancakan dana kredit itu, tapi seperti dikatakan dengan perasaan risau oleh Ali Basyah Amin, “Anda tahu? Sulit dicari pengusaha Aceh yang jujur.”

Kini, setelah Ali Basyah telah tiada saya baru tahu memang sulit mencari pengusaha Aceh yang jujur. Pengusaha yang menempatkan kewirausahawan pada ritual kehidupannya dan berusaha sendiri untuk memberi kehidupan bagi orang lain. Sebuah adagium yang belum seluruhnya mampus ketika hari-hari ini kejujuran itu menjadi langka. []

Komentar