Kopi Gayo: Dilema Harga, Monokultur dan Produktifitas

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 22 September 2012 | 21:50 WIB

Dibaca: 304 kali

kopi

Penjemuran biji kopi di Aceh Tengah.

Kegaduhan pasar Pondok Baru, sentra perdagangan kopi arabika di dataran tinggi gayo, selama empat bulan terakhir sepertinya sedang meriang. Sentra yang mempertemukan eksportir, pedagang, tauke hingga muge itu, dan berdenyut dari subuh hingga menjelang malam, kini tercekat bersamaan anjloknya harga kopi arabika di pasar komoditi global.

Sepanjang tahun ini, menurut catatan yang kami telusuri dari stock exchangs comodity yang diterbitkan Reuter, harga kopi arabika yang dicatatkan perdagangan komoditi berjangka London dan New York telah turun ke angka rata-rata 385,4 dolar AS per ton. Harga ini sudah tergelincir jauh dibanding dengan tahun 2011, dimana pasar bursa komoditi mencatatkan harga 597,6 dolar per ton.

Tidak hanya di pasar global, di pasar lokal pun harga kopi arabika produksi Gayo’s Mountain Cofee, begitu jenis kopi dari dataran tinggi Aceh bagian tengah itu dinamai, sudah meluncur bagaikan roller coaster di tingkat paling rendah.

Menurut Bambang Maladi, bekas pengelola koran, yang selama tiga tahun terakhir ikut bermain kopi, kini ada kelesuan perdagangan akibat menurunnya rangsangan harga dan menyebabkan eksportir wait and see. Bambang mengakui, rotasi perdagangan kopi arabika di dataran tinggi gayo memang distel oleh eksportir besar asal Medan.

“Harga untuk semua jenis kopi, ready ekspor, gabah maupun gelondongan selama semester kedua tahun ini sulit di prediksi. Saya sendiri selama empat bulan terakhir mengambil cuti. Rehat dulu sambil mengintip harga. Jebol saya Bang,” keluh Bambang pemain di komoditas gayo kopi arabika dan bermukim di Takengon.

Dikatakan Bambang, harga kopi di sentra-sentra perdagangan gayo kopi arabika di tiga kabupaten dataran tinggi itu, Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, memang sedang demam. “Sedang memasuki bulan-bulan gejolak. Banyak pedagang kelas menengah macam saya ini yang memutuskan untuk menarik diri agar tidak bangkrut,” ujarnya sembari terkekeh.

Ia menyebut kopi jenis gelondongan dengan kualitas terbaik yang biasanya di lepas petani ke muge kini berotasi di harga antara Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kilogram. Padahal tahun lalu masih berputar Rp 9.000 – Rp 10.000. Untuk gabah, yang sudah terkelupas kulit luarnya, paling banter dihargai Rp 24.000 per kilogram. Tahun lalu jenis ini bisa sampai Rp 33 ribu. Sedangkan ready ekspor yang tahun lalu dilepas pedagang Rp 68 ribu, kini paling kuat cuma Rp 43 ribu.

Kejatuhan harga kopi arabika di sentra-sentra perdagangan di seputar gayo ini memang memukul para petani. Jailani misalnya, guru sebuah SD di Kebayakan yang memiliki setengah hektar kebun kopi, ketika kami tanyakan tentang kondisi harga, dengan suara memelas mengatakan, “payah Bang.”

Biasa menjual dalam bentuk gelondongan, Jailani mengeluh sepinya pemingumpul, terutama muge yang biasanya datang dari Bireuen dengan motor GL yang memekik hingga ke pelosok desa. “Saya menghentikan penjualan gelondongan. Kini ada kerjaan baru mengolahnya untuk didikan gabah, dan saya simpan menunggu harganya membaik. Untuk hidup sehari-hari kan masih ada gaji,” ujar lelaki setengah baya itu.

Jailani sedikit beruntung karena menerima penghasilan ganda. Tapi para petani yang menggantungkan hidupnya hanya dari kebun kopi pasti lebih terpukul dan hidup secara pas-pasan. Kondisi ini dibenarkan oleh sebuah komentar di sebuah blog komunitas Kopi Gayo.

Ketika kami telusuri, penulis blog yang juga petani kopi di Gayo itu dengan gaya sentimentil meminta agar harga tidak lebih anjlok. “Dengan harga sekarang petani masih bisa hidup walaupun dengan pas-pasan. Kalau harga turun lagi jatuh miskinlah kami.”

Tapi sebuah blog yang lain sepertinya menyahuti kejatuhan harga arabika kopi ini dengan kalem. Menulis dengann gaya bertutur ia mengatakan, tidak ada yang ditakutkan dengan kondisi harga saat ini. “Rakyat Gayo sudah imun dengan kondisi ini. Kita pernah hancur-hancuran ketika penyakit virus jamur di akhir tahun tujuh puluhan memusnahkan setengah luas ladang di sini. Tapi toh kita bisa survive. Adios,” tutupnya dengan optimis.

Nada sentimentil dan optimis dari dua penulis blog itu tidak harus diperdebatkan. Yang perlu disikapi justru terkondisinya masyarakat gayo dalam kehidupan monokultur yang rapuh menjadi permainan harga.

Menurut profil perkebunan kopi di Aceh yang dipublikasi oleh sebuah NGO asing bekerjasama dengan Departemen Pertanian usai tsunami lalu, luas areal tanaman kopi arabika di dataran tinggi gayo, meliputi tiga kabupaten, mencapai 94.500 hektar. Aceh Tengah 48.500 hektar, Bener Meriah 39.000 hektar dan Gayo Lues 7.000 hektar.

Secara komposisi per kabupeten yang menggantungkan hidupnya dari tanaman ini.Di Aceh Tengah hampir 90 persen dari jumlah penduduknya 149 ribu jiwa lebih, tergantung dari ranaman kopi. Di Bener Meriah mencapai 75 persen dari jumlah penduduk 111 ribu jiwa. Sedangkan di Gayo Lues cuma 35 persen.

Angka ini menggambarkan sebuah struktur yang tidak menguntungkan karena rentan mengalami degradasi kesejahteraan. “Tapi itulah kami,” kata Bambang Maladi mengiyakan tentang dampak gejolak kehidupan di Gayo.

Perkebunan kopi di Gayo, untuk menyebut tiga kabupaten di sana, sudah beberapa kali mengalami fluktuasi areal sejak pertama kali ditanam, tahun 1918. Kopi pernah ditelantarkan di zaman Jepang, bangkit lagi di awal tahun 1950-an, hancur lagi di masa DI/TII dan baru benar-benar mengalami intensifikasi ketika sebuah program kerjasama dengan Belanda yang dinamai LTA-77 memperbaiki mutu bibit, tanaman dan pasca panen.

Kerjasama Belanda dengan Pemda Aceh ini berhasil memperbaiki sebagian produktifitas tanaman dan menjulangkan mutu dan harga ke pasaran internasional. Sejak itu LTA-77 mencanangkan sebuah nama untuk kopi arabika ini dengan Gayo’s Mountain Coffe.

Tapi secara keseluruhan produksi arabika Gayo ini masih ketinggalan dibanding dengan kebun kopi arabika Blambangan, Jember, yang dikelola sebuah BUMN perkebunan. Secara rata-rata produktifitas tanaman kopi di Gayo berkisar pada 700 kilogram per hektar, sedangkan di Blambangan sudah mencapai 1,5 ton per hektar. Produksi kopi Gayo ini memang lebih tinggi dibanding dengan produksi serupa di Maumere, NTT.

Kini Gayo’s Mountain Coffe sudah bisa disejajarkan dengan produksi serupa dari Brasil maupun Kolombia. Bahkan kopi arabika asal Gayo ini telah menjadi ikon di gerai Starbuck di seluruh dunia. []

Komentar