Jejak “Entrepreneurship” Aceh
Gampong Aree, Asal Para Saudagar

Penulis: Darmansyah

Kamis, 11 Oktober 2012 | 12:35 WIB

Dibaca: 3 kali

Gampong Aree! Sedikit orang yang bisa menyisakan kenangannya untuk kampung udik yang para saudagarnya pernah mengisi ruang jual beli di pasar Sigli dan melambungkan deretan nama  anak  desa marginal itu ke puncak entrepreuneur tangguh Aceh, Medan bahkan Jakarta di dekade-dekade lalu.

Sebuah dekade ketika remaja Gampong Aree dijangkiti virus “merantau” untuk bisa menjadi ureung (orang). Sebuah istilah yang secara filosofi bermakna: berguna bagi orang lain.

Jalan untuk menjadi ureung yang ditempuh anak Gampong Aree, kala itu, bukan main terjalnya. Melata dari bawah, merangkak naik ke permukaan, yang terkadang jatuh-bangun, kemudian berkibar sebagai pemilik usaha.

Itulah falsafah sederhana yang menjadi nujum jalan sukses bagi anak-anak Gampong Aree di era itu.  Era, ketika mereka meninggalkan negeri asoe dengan modal semangat tidak akan makan gaji.

Sejarah memang mencatat Kampung Aree sebagai “eksportir” saudagar, yang bahasa kerennya entrepreuneur,  dan menyebar bagaikan virus hingga  ke mulai dari pusat Pasar Sigli, Pasar Atjeh di  Koetaradja,  hingga menjelajah ke Medan, Jakarta, bahkan sampai ke Penang dan Singapura.

Catatlah nama usaha beken di zaman perdagangan yang kala itu mengharamkan cara kongkalingkong  seperti CV Puspa, Firma H.M. Tawi & Sons, CV Permata atau pun NV Permai yang menjadi buah tangan anak-anak Gampong Aree.

Zaman  itu perdagangan masih membutuhkan kepercayaan dan korporasi yang rotasinya berada dalam sumbu ekspor, impor dan industri. Perdagangan yang mengandalkan bank devisa dengan sistem pengapalan “terima pelabuhan muat” atau “terima pelabuhan bongkar”.

Yang pasti tak ada tipu menipu atau telikung-menelikung karena yang diperdagangkan adalah komoditi mulai dari karet, pinang, kopra, pala, kopi, lada ataupun kemiri yang uji mutunya  tak bisa ditukangi. “Paling-paling kejahatan yang bisa kita lakukan adalah smokel,” tutur M. Djuned Indocolin pada suatu seminar yang diadakan AEKI Medan pada kami puluhan tahun lalu.

Smokel adalah penyelundupan dengan mengelabui invois dan surat kepabeanan dengan cara menukar jenis komoditi  dalam surat pemberitahuan ekspor. Cara ini lazim dilakukan eksportir kala itu. Umpamanya, menukar komoditi pinang dengan kopi.  ”Kan satuan harga kopi lebih mahal dari pinang. Sehingga yang dicatatkan beanya adalah bea pinang,” kata Djuned pada waktu itu.

Tak ada mark-up harga  untuk belanja barang atau tender siluman dan jual beli proyek lewat percaloan  seperti usaha  jasa konstruksi zaman sekarang yang duitnya dari anggaran pemerintah dan di bancak secara berjamaah.

Gampong Aree bukan kampung sembarangan. Ia  mengisi lembaran kisah sukses dan menjadi buah bibir di kalangan pedagang  di zamannya serta  mencatatkan dengan manis deretan nama perusahaan besar  dalam kongsi anak negerinya seperti CV Puspa, NV Permai, CV Permata dan Firma Tawi & Sons, untuk menyebut sedikit dari berjubelnya perusahaan yang menjadikan mereka sebagai pemilik. Tidak hanya di tataran pedagang besar, anak-anak Kampung Aree juga menguasai perdagangan lokal.

Gampong Aree, sebuah desa yang terjepit di antara Sigli dan Garut. Masuk dalam Kecamatan Peukan Pidie, yang  ujung jalannya mentok ke sebuah bukit, yang  di kemudian harinya dikenal sebagai lokasi Kampus Universitas Jabal Ghafur. Berjarak 5 kilometer dari kota kabupaten, Sigli, ia bisa ditempuh dari dua arah.  Dari arah Banda Aceh setelah melewati Kuta Asan, belok kanan arah jalan tembus ke Medan dan di ujung “tusuk sate”-nya belok lagi ke kanan.

Yang agak mudah mencapai desa ini, jika kita datang dari arah Medan. Belok kiri di traffic light setelah Kantor Bupati Pidie dan lurus terus di jalan bebas hambatan yang baru dibangun. Usai menempuh jarak lima kilometer tanyakan kepada penduduk di pinggir jalan di mana letak Gampong Aree.

“Pedagang Kampung Aree memang tangguh,” begitu  kata pembuka dari Zulkifli Amin (68), anak Pidie yang memilih jalan menyimpang untuk menjadi ureung. Jalan menjadi guru. “Jalan berbeda yang tak lazim dari pakem Pidie atau pakem Kampung Aree,” tuturnya tergelak dan  masih utuh mengingat gampong entrepreuner itu ketika kami berjumpa sembari mengatakan ingin menulis sepenggal kisah tentang kewirausahawan anak negeri ini.

Zulkifli hafal nama saudagar Gampong Aree, mulai dari “toke bangku” hingga “toke ija” sejak dari Beureuneun, Pasar Sigli hingga dan toke sekelas Tawi & Sons karena ia sedikit dari puaknya yang memilih menjadi terpelajar dan rajin bergaul dengan lingkungan saudagar itu.

Zulkifli pula yang membangun komunitas Pidie dengan semboyan lebih baik jadi toke boh kuyun dan campli dari pada menjadi orang suruhan.

Ide untuk menulis kisah entrepreuneur ini pernah pula muncul sekelebat dalam perjumpaan saya dengan Kausar, anak muda enerjik yang kini terbenam dalam kesibukan sebuah partai lokal. Kausar pernah menyatakan kegusarannya tentang kerja instan anak-anak muda masa kini dalam mendapat uang.

“Kenapa kita tidak menggugah mereka dengan tulisan. Abang bisa untuk itu,” kata anak muda yang dulu pernah membuka toko buku, dan seorang “pemberontak”  ketika beberapa kali sesudahnya kami bersua dalam diskusi pancung-pancung. Entrepreneurship atau kewirausahaan anak Kampung Aree bukan hanya cerita bersambut dari Zulkifli, Kausar, ataupun Sulaiman Hasan.

Kami sendiri pernah merasakan getar semangat saudagar anak Kampung Aree ketika menjadi bagian dari “jengek”, singkatan “jenggo ekonomi”  di pelabuhan Ulee Lheu. “Jenggo”, sebuah istilah yang diambil dari sebuah film cowboy berjudul “Django” yang menampilkan seorang sosok western bertopi ladam,  sepatu bot bertaji, pistol revolver, kuda pacu dan celana jeans kumuh di Texas sana yang membuat aturan sendiri dalam membasmi kejahatan.

Entah kenapa istilah itu hinggap di komunitas pedagang Ulee Lheu, tak siapapun yang tahu asal muasalnya, dan dikaitkan dengan ekonomi di ujung tahun enampuluhan dan awal tujuhpuluhan.

Di komunitas itu saya bersohib dengan Ardat. Ia tulen trah Gampong Aree dan juga seorang jengek yang uring-uringan menghindar bea masuk kain pelekat, gula, pecah belah dan rokok 555 dan Dunhill sebagai dagangan utama yang dibawa ke daratan Aceh dari Sabang.

Sabang sendiri kala  itu sedang naik daun sebagai pelabuhan bebas dan perdagangan bebas yang tak pernah punya peraturan turunan, tapi barang mewahnya masuk dari Singapura.

Pertemanan saya dengan Ardat adalah sebuah potret kultur dari dua daerah yang berbeda. Saya datang dari jamee yang menganggap uang hasil jengek sebagai rezeki menang lotre yang dihabiskan tanpa perhitungan di Rex atau membeli baju Crocodile yang mewahnya minta ampun kala itu.

Ardat hidup seadanya. Makan siang dengan nasi bungkus, bercelana kain kepar lusuh dan kos numpang di sebuah bilik kawannya di Kampung Keuramat. Setelah dua tahun menjalani ritual jengek si Ardat sudah punya toko di shopping centre Pasar Aceh dan menjadi toke kecil menampung barang-barang Jengek seperti tekstil dan pecah belah.

Belum setahun membuka dan menyewa sebuah toko ia sudah membelah dagangannya di dua tempat, di lokasi yang sama. Satu toko  dengan dagangan tekstil sedang lainnya barang-barang pecah belah dan ia mendatangkan kemenakannya dari kampung dengan harapan, seperti dikatakannya ketika kami bertemu, untuk menjadi ureung yang punya usaha.

Di ujung tahun tujuhpuluhan, ketika saya putar haluan menjadi jurnalis dan Sabang ditebas  statusnya karena dianggap sarang penyeludup, Ardat sudah memiliki usaha bahan kebutuhan pokok di Penayong.

Setelah hampir satu dekade tidak ketemu, suatu pagi di sebuah warung nasi soto di Jalan Riau Medan, saya terperangah melihat seorang pengunjung yang turun dari mobil sedan terbaru. Tak pelak ia si Ardat yang berambut keriting sama dengan rambut saya.

Kami bernostalgia tentang kisah yang hilang selama hampir sepuluh tahun. Status saya masih tetap,  koeli di sebuah media yang waktu itu ditempatkan di sebuah kantor biro di Medan. Sedangkan Ardat? Ia jadi seorang leveransir barang-barang kebutuhan empat PTP sejak dari Kisaran, Labuhan Batu hingga ke Siantar.

Ia juga menceritakan sempat jatuh miskin karena ia mengalihkan usahanya ke jasa konstruksi. “Itu bukan lahan saya. Terlalu banyak buntungnya. Pimpro makan daging, toke makan tulang,” katanya dengan gelak berderai.

Di pertemuan itu, bukan untuk yang terakhir, Ardat menyodorkan kartu nama yang mancantumkan alamat rumahnya di Jl. Gajahmada dan kantornya di Glugur. Saya mafhum ia pasti sudah menjadi saudagar sukses. Dan ini terbukti setelah saya ke kantor dan rumahnya, bahkan pernah dibawanya ke Labuhan Batu tempat ia membuka kebun sawit dan karet, yang kala itu orang belum memikirkannya.

Dengan bahasa sederhana si Ardat menolak ketika saya katakan seorang entrepreuneur sukses. “Saya hanya seorang yang berusaha sendiri dan memberikan tempat hidup bagi orang lain.” Ia tidak pernah menyebut dirinya saudagar, pengusaha atau wirausahawan. Ia lebih suka disapa dengan “Toke Ardat”.

“Sederhana,” katanya. Sesederhana keseharian hidupnya, dengan sepatu sandal, celana kain kepar, berbaju triset dan makan di sembarang tempat dan punya pekerja yang disapanya dengan sebutan saudara hingga ratusan orang. Dan tidak pernah dugem dan gonta-ganti mobil. Begitulah anak Gampong Aree. []

Komentar