Hari Ini Harga Emas Global Terjungkal

Penulis: Darmansyah

Kamis, 10 September 2015 | 10:08 WIB

Dibaca: 0 kali

Hari ini, Kamis, 10 September 2015 WIB, harga emas global di Comex New York, terjerembab menjelang dilakukannya pertemuan The Federal, Bank Sentral Amerika Serikat, untuk menentukan kebijakan kenaikan suku bunga.

Raksasa media “Wall Street Journal,” dalam edisi khususnya menyambut pertemuan The Fed, Kamis, 10 September 2015, memberitakan harga emas untuk pengiriman Desember yang merupakan kontrak yang paling aktif diperdagangkan turun hingga sembilan belas dollar, atau hampir mendekati dua persen. dan menetap di level US$ 1.102 per ounce di Divisi Comex New York Mercantile Exchange.

Penurunan harga emas ini cukup kencang karena memang mata uang dolar AS mengalami penguatan terhadap mata uang lainnya yang dipicu data tenaga kerja yang membaik.

Angka pengangguran di AS mengalami penurunan dan merupakan level terendah dalam tujuh tahun terakhir.
Selain itu, data lowongan pekerjaan juga menunjukkan kenaikan.

Indeks dolar AS Wall Street Journal yang merupakan harga nilai tukar dolar AS terhadap beberapa mata uang dunia lain dalam perdagangan intraday telah naik.

Emas memang diperdagangkan dengan dolar AS sehingga rentan mengalami penurunan penwaran jika mata uang dolar AS menguat karena keuntungan yang didapat oleh para pelaku pasar yang bertransaksi menggunakan mata uang selain dolar AS akan turun.

Para investor juga sedang berhati-hati memegang logam mulia di tengah sentimen rencana kenaikan suku bunga yang akan dilakukan oleh Bank Sentral Amerika Serikat pada pekan depan.

Sementara konsensus sendiri menyebutkan bahwa para analis memperkirakan kenaikan akan dilakukan pada Desember depan.

“Orang sedang menerka-nerka kebijakan apa yang akan dikeluarkan oleh The Fed,” jelas Presiden OptionSellers.com, Tampa, Florida, James Cordier.

Jika The Fed mengeluarkan pengumuman akan melakukan pengetatan kebijakan moneter di September ini maka kemungkinan ebsar nilai tukar dolar AS akan kembali menguat tinggi sehingga akan menekan harga emas.

Sehari sebelumnya, Rabu pagi WIB, harga emas sempat tersungkur karena topangan indeks dolar Amerika Serikat melemah. Namun harga emas tetap masih berada di dekat level terendah dalam tiga minggu karena ketidakpastiaan atas kenaikan tingkat bunga AS.

Pasar saham di seluruh dunia menguat di tengah harapan langkah-langkah stimulus lebih di China dan data perdagangan Jerman yang kuat.

Sementara harga tembaga dan perak naik setelah Glencore mengumumkan rencana untuk menutup tambang tembaga yang merugi.

Emas telah gagal untuk menarik minat investor yang kuat sebagai safe haven meskipun kelemahan baru-baru di saham karena kekhawatiran atas perekonomian China, menunjukkan bahwa logam sedang berjuang untuk menemukan arah luar kebijakan moneter AS.

Sementara itu surat kabar terbitan Hongkong “ South China Morning Post” hari ini, Kamis, 10 September 2015, menulis, pergerakan emas turun tajam ke harga tiga -minggu terendah pada hari Rabu, karena data baru yang di rilis yaitu US job openings

Pasar saham AS sempat mengalami kerugian ketika obligasi Treasury AS jatuh ke posisi terendah 1-bulan menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve pada minggu depan.

Ketika Federal Reserve mulai meningkatkan suku bunga diskonto maka peningkatan ini akan melemahkan dolar dan menaikkan harga emas dimana ada kemungkinan reli dolar tidak akan berkelanjutan dengan melakukan downside dalam waktu dekat.

Kejatuhan dolar akan menaikkan harga emas.

Tindakan Federal Reserve akan memiliki dampak global yang kuat ketika setiap investor berusaha untuk mengalokasikan investasi modal dengan tingkat pengembalian yang sangat penting.

Kenaikan tarif diskonto, biaya pinjaman meningkat, sedikit proyek yang dapat dikejar dan berkurangnya pengembalian akan mempunyai efek pada penurunan belanja yang akan menyebabkan penurunan permintaan dolar, dan menyebabkan dolar akan melemah terhadap sekeranjang mata uang.

Pada sesi sebelumnya, emas terkoreksi juga dikarenakan pergerakan saham global yang akan mendapatkan support ketika China akan melakukan lebih banyak memberikan stimulus untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.

Kementerian Keuangan China berjanji akan memberikan kebijakan fiskal yang “lebih kuat” untuk mendorong negara perekonomian terbesar kedua di dunia.

Investor cenderung akan mengambil lebih banyak risiko karena didorong oleh janji stimulus pemerintah China sehingga kadang-kadang melempar aset safe haven untuk mendapatkan keuntungan yang lebih.

Usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah Cina dan PBoC telah banyak berhasil menyokong pasar keuangan dan meningkatkan perekonomian.

Komentar