Hari Ini Emas Benar-Benar Ambruk

Penulis: Darmansyah

Jumat, 11 November 2016 | 10:19 WIB

Dibaca: 1 kali

Harga emas PT Aneka Tambang Tbk atau Antam hari ini, Jumat pagi WIB, pada pembukaan sesi perdagangan akhir mingguan, benar-benar ambruk hingga mencapai  Rp 8.000 per gram untuk berada di posisi Rp 597 ribu per gram.

Kamis kemarin, harga emas Antam masih  berada di angka Rp 605 ribu per gram

Sementara harga pembelian kembali atau buyback  emas Antam juga turun  tersungkur Rp 7.000 menjadi Rp 530 ribu per gram.

Itu artinya, jika Anda menjual emas yang Anda miliki, maka Antam akan membayar Rp 530 ribu per gram.

Melemahnya harga emas di Kamis pagi ini, menurut  situs “bloomberg,”  masih dipengaruhi respons pasar terhadap terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS.

Harga emas yang mulanya  bergerak tinggi pada perdagangan Kamis,  tidak bisa bertahan dan ditutup turun.

Selain karena Trump, penurunan juga dipicu karena menguatnya dolar dan naiknya spekulasi kenaikan suku bunga AS oleh The Federal Reserve.

Dana Berjangka Fed sekarang berada di probabilitas kenaikan suku bunga  Desember

Penurunan pada hari kemarin adalah naiknya tren dari harga rendah di Oktober.

Seperti diketahui, Donald Trump terpilih menjadi Presiden AS mengalahkan rivalnya Hillary Clinton.

Kemenangan Trump disambut kaget oleh pasar namun membuat harga emas menguat. Pasalnya, pasca Trump terpilih, dolar dan saham kemudian melemah dan investor lari ke aset seperti emas.

Menjelang pembukaan perdagangan sesi Asia hari ini, harga Emas masih tetap di bawah tekanan dan saat ini berada di kisaran USD 1264 per troy ounce karena terimbas penguatan harga saham, imbal hasil obligasi dan menguatnya mata uang dolar.

Logam emas merosot ke posisi terendah tiga minggu ketika Trump terpilih menjadi presiden AS.

Rencana Trump adalah pembangunan infrastruktur dan pemotongan pajak yang dapat meningkatkan defisit anggaran AS sehingga membantu serta mendukung harga emas.

Kemenangannya juga terus dibahas ketika suku bunga AS diperkirakan akan dinaikkan pada bulan Desember.

Trump telah berjanji untuk renegosiasi transaksi perdagangan internasional, yang dapat membuat gelombang proteksionisme.

Pergerakan rally  di pasar saham utama dunia yang terus terjadi semakin membuat kekhawatiran bahwa inflasi akan meningkat di bawah kebijakan fiskal Trump.

Investor sedang berspekulasi terhadap prospek pemotongan pajak yang di janjikan Trump. Pergerakan saham jelas sangat menyukai akan kebijakan ini.

Jika inflasi melonjak di atas target Fed sebanyak dua persen, maka kebijakan tersebut akan membuat bank sentral berjuang untuk menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan harga.

Jika belanja fiskal akan menjadi metode baru maka defisit perdagangan akan bergerak lebih tinggi dan membuat utang nasional juga akan bergerak lebih tinggi.

Bunga hutang yang tinggi dari jumlah utang yang ada berpotensi akan menjadi sangat bermasalah pada masa depan.

Komentar