Harga Emas Oleng Oleh Penguatan Dollar

Penulis: Darmansyah

Rabu, 21 Maret 2018 | 08:51 WIB

Dibaca: 0 kali

Harga emas di Comex Mercantil Exchange, New York, hari ini, Rabu pagi WIB, 21 Maret, mengalami tekanan hebat bersamaan dengan  penguatan nilai tukar dolar AS.

Penguatan dolar AS ini menjelang pengumuman dari Bank Sentral Amerika Serikat  atau the Federal Reserve  mengenai kebijakan  suku bunga.

Seperti ditulis laman bisnis dan ekonomi “bloomberg,” pagi ini WIB,   The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya pada tahun ini di Maret ini.

Rencana tersebut membuat harga emas turun empat persen dari harga tertinggi yang telah dicapainya pada Januari lalu.

Suku bunga yang tinggi akan berdampak negatif terhadap harga emas.

Kenaikan suku bunga akan meningkatkan imbal hasil obligasi dan mengurangi daya tarik logam mulia.

Kenaikan suku bunga juga mendorong penguatan dolar AS sehingga harga emas akan lebih mahal bagi para innvestor yang bertransaksi menggunakan mata uang di luar dolar AS.

Harga emas di pasar spot turun nol koma tiga persen  per ounce  waktu London.

Sementara dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang dan imbal hasil obligasi AS naik.

Untuk harga emas berjangka AS pengiriman April turun USD 90 atau setengah persen ke level

“Semua bertanya-tanya sampa titik mana penurunan ini akan terjadi,” kata analis U.S. Bank Wealth Management, Rob Haworth.

The Fed diperkirakan akan mengambil keputusan dengan sangat berhati-hati untuk menaikkan suku bunga. Hal ini tentu saja akan membantu harga emas untuk tetap bertahan di level yang ada saat ini.

Kemarin, seperti ditulis “bloomberg,” pekerja menggunakan mesin untuk memberikan nomor seri pada emas batangan di pabrik logam mulia Krastsvetmet, Rusia

Krastsvetmet merupakan salah satu produsen terbesar di dunia dalam industri logam mulia

Pada perdagangan sehari sebelumnya,  harga emas menguat seiring melemahnya pasar ekuitas setelah menyentuh posisi terendah dalam lebih dari dua minggu.

Ekuitas global terjebak dalam momen terburuknya sejak November. Wall Street tergelincir setelah saham Facebook merosot usai ada laporan jika terjadi penyalahgunaan data pengguna yang menimbulkan kekhawatiran pelanggaran privasi yang lebih luas, memicu penjualan saham teknologi.

“Kita melihat sebagian besar lebih memilih membeli emas karena adanya penurunan dalam ekuitas dan fakta bahwa pedagang percaya akan ada kenaikan suku bunga oleh The Fed,” kata Bob Haberkorn, Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures.

Kemarin, harga emas di pasar Spot naik nol koma tiga persen  per ounce. Harga sebelumnya sempat turun ke posisi  dan  terendah sejak awal Maret.

Untuk  harga emas berjangka  pengiriman April berakhir naik nol koma empat persen menjadi

Emas memang sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga, karena logam mulia ini menjadi kurang menarik dibandingkan investasi lain yang memberikan imbal hasil.

Kali ini, ekuitas global terjebak dalam momen terburuknya sejak November. Wall Street tergelincir setelah saham Facebook merosot usai ada laporan jika terjadi penyalahgunaan data pengguna yang menimbulkan kekhawatiran pelanggaran privasi yang lebih luas, memicu penjualan saham teknologi.

“Kita melihat sebagian besar lebih memilih membeli emas karena adanya penurunan dalam ekuitas dan fakta bahwa pedagang percaya akan ada kenaikan suku bunga oleh The Fed,” kata Bob Haberkorn, Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures.

Harga emas sebelumnya telah naik seiring kenaikan suku bunga yang diperkirakan akan kembali terjadi, menurut para pedagang.

Pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal  yang dimulai pada Selasa selama dua hari, diprediksi akan membuat Federal Reserve AS menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya pada tahun ini.

Dengan kenaikan dua puluh lima basis poin dilihat sebagai kesepakatan akhir.

Namun yang menjadi fokus utama adalah kemungkinan Fed melakukan kenaikan suku bunga sebanyak empat kali pada tahun ini.

“Saya pikir pemulihan ekonomi secara keseluruhan cukup baik bagi bank sentral untuk mempertimbangkan langkah terkait normalisasi kebijakan moneter,” kata Mark To, Kepala Peneliti Hong Kong Wing Fung Financial Group.

Komentar