Emas Lokal dan Global Kembali Ambruk

Penulis: Darmansyah

Kamis, 28 Juni 2018 | 10:03 WIB

Dibaca: 0 kali

Harga emas yang dijual  PT Aneka Tambang Tbk atau Antam, hari ini, Kamis, 28 Juni, mengikuti tren global dan turun sebessr Rp 3.000 per gram

Pada Selasa kemarin, sebelum libur Pilkada serentak,  harga emas Antam dibanderol masih Rp 645 ribu per gram.

Selain anljoknya harga jual, harga pembelian kembali atau buyback juga turun sebesar Rp 3.000 menjadi Rp 567 ribu per gram.

Harga buyback ini adalah jika Anda akan menjual emas, Antam akan membelinya di harga Rp 567 ribu per gram.

Pembayaran buyback dengan volume di atas satu kilogram  akan dilakukan maksimal dua hari setelah transaksi dengan mengacu pada harga buyback hari

Antam menjual emas dengan ukuran mulai satu gram hingga 500 gram. Hingga pukul menjelang siang WIB, sebagian besar emas Antam masih tersedia kecuali ukuran satu  gram dandua2 gram.

Sementara itu harga emas global pada hari yang sama, Kamis pagi WIB, juga mengalami penurunan.

Hari ini harga emas masih diperdagangkan di posisi terendah dalam enam bulan.

Hal itu didorong data perumahan yang menunjukkan lebih sedikit konsumen yang berkomitmen membeli rumah pada Mei. Sentimen itu berdasarkan data National Association of Realtors.

Penjualan rumah tertunda di Amerika Serikat  turun setengah persen pada Mei.

Hal ini menandai penurunan lima bulan berturut-turut. Perkiraan konsensus ada kenaikan satu koma satu persen.

Harga emas diperdagangkan di posisi terendah usai data ekonomi tersebut dirilis. Harga emas untuk pengiriman Agustus turun nol koma dua puluh sembilan persen Pada awal sesi, harga emas mencapai titik terendah, sebagian besar terseret oleh dolar AS.

Ekonom NAR Lawrence Yun menggambarkan musim beli rumah pada musim semi tahun ini membuat harapan tidak terpenuhi. Hal itu mengingat aktivitas melambat sehingga pasokan rendah ketimbang kurangnya permintaan.

“Di sebagian besar negara terus menggambarkan pasar mereka sangat kompetitif dan bergerak cepat tetapi tanpa cukup persediaan baru dan yang ada untuk dijual, aktivitas pada dasarnya berhenti,” ujar Yun, seperti dikutip dari laman Kitco, Kamis  pagi WIB.

Ia menuturkan, beberapa calon pembeli pada musim semi ini tetap di luar pasar karena keterbatasan pasokan dan keterjangkauan ekonomi yang sehat.

“Harus membuat pelaku pasar untuk mencari aktif terutama dari tenaga kerja atau pegawai yang cari rumah. Setiap kenaikan inventaris pasti akan membantu mereka menemukan rumah,” ujar dia.

Para ekonom mengamati angka penjualan rumah karena itu indeks dipandang sebagai barometer ke depan untuk pasar perumahan.

Harga minyak melonjak seiring stok minyak mentah Amerika Serikat merosot. Hal itu menambah kekhawatiran pasokan di pasar.

Apalagi sebelumnya pasokan juga sudah dipengaruhi dari situasi tidak pasti mengenai ekspor Libya, gangguan produksi di Kanada dan tuntutan Washington kalau importer berhenti beli minyak mentah Iran pada November.

Kapasitas cadangan yang sedikit, menurut Partner Again Capital Management John Kilduff mengimbangi gangguan produksi lebih lanjut.

Harga minyak mentah berjangka AS pun naik

Managing Member Tyche Capital, Tariq Zahir menuturkan, harga minyak naik tajam dalam dua sesi berturut-turut membuat pelaku pasar memanfaatkan peluang posisi untuk keluar. Apalagi mendekati akhir kuartal.

Berdasarkan data the Energy Information Administration, stok minyak mentah AS turun hampir sepuuh juta  barel pada pekan lalu.

Penurunan itu terbesar sejak September dua tahun lalu. Sedangkan pasokan bensin dan distilat naik kurang dari yang diharapkan.

Di Cushing, Oklahoma, pusat pengiriman minyak untuk kontrak berjangka, stok minyak mentah turun

Dilaporkan hasil imbang di Cushing mencerminkan satu hari gangguan produksi pada pemasok di Kanada. Fasilitas minyak Syncrude setidaknya hingga Juli offline usai pemadaman listrik pada pekan lalu.

“Cushing adalah bohong besar. Anda akan mendapatkan hasil lebih besar dari minggu ini,” kata Direktur Mizuho, Bob Yawger.

Selain itu, penurunan ekspor Kanada membantu menguras pasokan minyak mentah berat di seluruh Amerika Utara. Analis juga khawatir soal risiko gangguan pasokan dari Afrika dan Timur Tengah.

Di Libya, perebutan kekuasaan membuat situasi tak jelas apakah pemerintah dan pemberontak yang diakui internasional akan tangani ekspor minyak

Masa depan ekspor minyak mentah Iran juga diragukan. AS telah mengatakan kepada semua negara untuk hentikan impor minyak Iran mulai November.

Mencoba terobos pasokan terganggu, the Organization of the Petroleum Exporting Countries akan meningkatkan produksi.

Meskipun ada penentangan internasional yang luas terhadap sikap AS terhadap Iran, analis memperkirakan penurunan signifikan dalam ekspor dari produsen terbesar ketiga OPEC tersebut sekitar lebih dari satu juta barel per hari.

Komentar