Emas Hari Ini Ambruk ke Posisi Terendah

Penulis: Darmansyah

Jumat, 13 April 2018 | 08:00 WIB

Dibaca: 0 kali

Setelah menikmati kenaikan harga selama tiga hari berturut-turut, hari ini, Jumat, harga emas dunia, terutama di Comex Mercantil Exchange, kembali tersungkur bersamaan dengan ancaman Amerika Serikat menghancurkan Suriah lewat penembakan rudal.

Menurut tulisan terbaru “bloomberg” hari ini, Jumat pagi WIB, harga emas ambruk dari posisi terteingginya, sebelas  minggu.

“Pemicunya ketegangan militer di Suriah dan kekhawatiran berkepanjangan dari perang dagang Amerika Serikat  dan China,” tulis “bloomberg.”

Di pasar spot harga emas  tergelincir lebih dari satu persen   per ounce, atau pasnya satu koma satu persen

Dan untuk harga emas berjangka AS untuk pengiriman Juni terperosok malah terperosok lebih dalam, satu koma tiga  persen .

Indeks dolar AS terhadap beberapa mata uang utama menguat sehingga menekan harga emas dunia.

Harga perak susut nol koma delapan persen  ounce setelah mencapai harga tertinggi hampir dua bulan.

“Ada profit taking atau aksi ambil untung dan sedikit pemulihan di pasar saham,” kata Presiden Pasar Dunia dari EverBank, Chris Gaffney.

“Karena konflik geopolitik Suriah dan perang dagang AS dengan China, saya pikir harga emas bisa sekitar US$ 1.340,” dia menambahkan.

Pergerakan harga emas juga dipengaruhi rencana Inggris bergabung dengan pasukan sekutu, AS, dan Prancis atas kemungkinan aksi militer di Suriah yang bisa membawa konfrontasi langsung antara pasukan Barat dan Rusia.

Aksi militer itu terkait tuduhan penggunaan senjata kimia oleh rezim Bashar Al Assad dalam serangan di Douma, Suriah pada akhir pekan lalu.

Untuk diketahui, Presiden AS Donald Trump dalam akun Twitter-nya memperingatkan Rusia dengan ancaman akan menembakkan rudal ke Suriah.

Dia juga mengecam sikap Moskow yang membela Presiden Suriah Bashar Al Assad.

Ketegangan geopolitik tersebut mengakibatkan harga emas tersungkur.

Ditambah lagi dengan sentimen dari hasil pertemuan The Fed terakhir memungkinkan kenaikan suku bunga acuan AS karena terdorong penguatan ekonomi AS. Hal ini akan semakin menekan harga emas.

Sebelumnya, harga emas menyentuh level tertinggi sejak Januari tahun ini

Hal itu didorong ketegangan geopolitik di Suriah sehingga meningkatkan permintaan aset safe haven.

Memang, harga emas sempat turun usai risalah hasil pertemuan bank sentral Amerika Serikat atau the Federal Reserve.

Risalah tersebut menunjukkan kalau kenaikan suku bunga lebih besar mungkin saja terjadi.

Suku bunga lebih tinggi dapat meningkatkan dolar AS dan menjadi sentimen negatif untuk permintaan emas.

Selain itu, indeks dolar AS naik tipis usai risalah bank sentral AS.

Harga komoditas dan dolar AS sering berbanding terbalik. Pergerakan dolar AS dapat memengaruhi daya tarik komoditas tersebut bagi pemegang mata uang lainnya.

Bursa saham AS dan wall street juga melemah sehingga membantu meningkatkan permintaan investasi untuk emas.

Fokus investor juga bergeser terhadap kemungkinan serangan militer ke Suriah akibat tuduhan serangan senjata kimia oleh pemerintah.

Meningkatnya kecemasan di Timur Tengah dan kemungkinan menarik dukungan dari sekutu Suriah yaitu Iran dan Rusia juga membuat investor lebih memilih aset investasi aman antara lain emas, yen, dan obligasi.

“Baik emas dan minyak saat ini mendapat dukungan dari kekhawatiran meningkat di kalangan investor kalau AS dan sekutunya mungkin segera meluncurkan serangan militer terhadap Suriah,” kata Fawad Razaqzada, Analis Forex.com, seperti dikutip dari laman Marketwatch, .

Ketegangan politik di AS juga pengaruhi harga emas. Presiden AS Donald Trump yang akan menghentikan penasihat khusus AS, Robert Mueller, dan Wakil Jaksa Agung, Rod Rosenstein, memicu kehebohan politik di tengah penyelidikan lebih luas terhadap kampanye presiden. Seiring ada hubungannya dengan Rusia.

Harga emas juga mendapatkan dukungan dari indeks harga konsumen AS turun tipis  pada Maret.

Ini penurunan pertama dalam sepuluh bulan bulan.

Harga bensin juga lebih rendah.

Dengan data ekonomi itu, diharapkan bank sentral AS tidak terlalu agresif menaikkan suku bunga.

Komentar