Harga Emas Global Kembali Terjungkal

Penulis: Darmansyah

Selasa, 29 Desember 2015 | 10:53 WIB

Dibaca: 0 kali

Harga emas global, hari ini, Selasa, 29 Desember 2015, kembali terjungkal akibat dorongan harga minyak setelah sebelum liburan Natal sempat melonjak ke tingkat yang paling menguntungkan.

Runtuhnya harga emas global ini tidak diikuti oleh harga emas domestik yang dikendalikan Pt Aneka Tambang atau Antam. Harga emas Antam tetap stagnan di posisi Rp 545 ribu per gram, yang merupakan harga selama sepekan terakhir.

Perdagangan emas global cenderung bergerak tipis mengingat hari yang pendek menjelang libur Tahun Baru.
Harga emas naik satu persen selama pekan lalu,

Akan tetapi, harga emas tetap berada di jalur pelemahan dalam enam sesi, dan ini melanjutkan penurunan terpanjang selama periode kuartalan sejak pertengahan empat puluh lima tahun terakhir.

Harga emas telah turun hampir sepuluh persen sepanjang ini.

Harga emas di pasar spot turun, sementara itu, harga emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari turun hampir satu persen.

“Tahun ini investor mengalami kerugian di portofolionya,” ujar Dan Heckman Konsultan US Bank Wealth Management seperti dikutip dari laman Reuters, Selasa, 29 Desember 2015.

Ia mengatakan, harga emas cenderung kurang baik secara fundamental dan teknikal.

“Kami melihat belum ada hal baik dapat mendukung harga emas pada 2016. Kami melihat banyak dana keluar dari komoditas terutama ETF dan tidak aksi untuk membeli,” tambah Heckman.

Harga emas dapat naik di tengah kesulitan untuk kembali bangkit seiring aksi pelaku pasar untuk ambil posisi beli.

“Jika melihat penurunan tahun lalu, hal itu didukung dari dolar AS menguat, dan kini dipicu bank sentral Amerika Serikat yang menaikkan suku bunga dengan keyakinan,” kata Analis ING Hamza Khan.

Ia menuturkan, hal itu tergantung dari bank sentral AS kembali menaikkan suku bunganya. Bank sentral AS baru satu kali menaikkan suku bunga pada pertengahan Desember 2015.

Selain itu, harga minyak turun tiga persen usai libur Natal juga menekan bursa saham. Hal itu juga berdampak terhadap harga emas.

Sebelumnya, menjelang Natal, harga emas dunia mengalami kenaikan seiring terjadinya pelemahan dolar Amerika Serikat.

Selain itu, pemulihan harga minyak ikut memberikan sentimen kenaikan harga ini.

Harga emas telah susut sembilan persen sepanjang tahun ini.

Ini menjadi tahun ketiga harga emas melemah sebagian besar karena ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve AS yang naik di bulan ini.

“Kenaikan suku bunga menjadi penentu, ada banyak sentimen negatif. Tapi sekarang hal itu seimbang, di mana harga emas mendukung dalam jangka pendek,” kata analis Warren Kreyszig Julius Baer.

Namun dia menambahkan, saat orang mulai fokus pada kondisi inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi di AS, akan berdampak lagi pada harga emas yang bisa kembali turun.

Kenaikan suku bunga yang tinggi akan membuat permintaan untuk investasi yang tak memberikan bunga kurang diminati seperti emas.

Bahkan, sebagian besar analis memprediksi harga emas akan berada di bawah US$ 1.000 per ounce pada akhir tahun depan karena suku bunga AS ini.

Nilai tukar dolar tergelincir nol koma tiga persen terhadap mata uang utama lainnya.

Dolar turun dalam empat dari lima sesi perdagangan, setelah data perekonomian AS tercatat mixed baru-baru ini.

Di mana, pesanan baru untuk barang modal manufaktur jatuh pada bulan November dari sebelumnya meningkat di bulan sebelumnya.

Sementara data lain seperti sentimen konsumen naik pada bulan Desember dan Pendapatan perorangan masyarakat AS meningkat pada bulan November.

Emas berkorelasi positif dengan minyak sebagai aset yang dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

Pelemahan dolar yang biasanya memberi manfaat emas telah meningkatkan daya tarik logam emas sebagai aset alternatif dan membuat komoditi yang dihargakan dalam dolar lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama, jatuh ke kisaran terendah yang membukukan keuntungan terhadap spekulasi

Kenaikan suku bunga AS yang pertama kali sejak sembilan tahun terakhir telah membuat pasar semakin fokus pada kenaikan suku bunga berikutnya di tahun depan.

The Fed memperkirakan ada empat kenaikan suku bunga pada tahun depan.

Namun, the Fed funds futures saat ini menunjukkan hanya akan ada dua kenaikan suku bunga, satu di bulan Juni dan satu pada bulan Desember di tahun depan.

Bercampurnya laporan ekonomi AS yang dirilis di sepanjang minggu gagal menawarkan petunjuk tentang seberapa cepat bank sentral AS akan menaikkan suku bunga tahun depan.

Harga emas yang dijual PT Aneka Tambang Tbk atau Antam masih betah bertahan di level Rp 545 ribu per gram pada perdagangan Selasa WIB.

Sementara harga pembelian kembali atau dikenal dengan “buyback” emas Antam tercatat turun Rp 2.000 menjadi Rp 468 ribu per gram.

Harga pembelian kembali ini artinya jika And amenjual emas yang dimiliki, maka Antam akan membelinya di harga Rp 468 ribu per gram.

Antam menjual emas dengan ukuran mulai satu gram hingga 500 gram. Hingga menjelang siang WIB, seluruh ukuran emas Antam masih tersedia.

Mengingat tingginya animo masyarakat, transaksi pembelian emas batangan yang datang langsung ke Antam dibatasi hingga maksimal seratus lima puluh nomor antrean per hari.

Komentar