Harga Emas Berkibar di Akhir Pekan Ini

Penulis: Darmansyah

Jumat, 23 Februari 2018 | 08:38 WIB

Dibaca: 1 kali

Harga emas dunia hari ini, Jumat, 23 Februari, berkibar setelah dollar Amerika Serikat terpelanting oleh sentimen pasar menyusul  inflasi dan komitmen The Fed  untuk menyesuaikan suku bunga acuan.

Seperti ditulis laman keuangan dan bisnis terkenal “bloomberg,” pagi ini WIB,  harga emas di pasar spot menguat nol koma enam persen per ounce. Namun selama sepekan, masih turun satu koma dua persen.

Harga emas berjangka untuk kontrak pengiriman April juga  mengalami kenaikan tipis, nol koma satu persen per ounce.

Kenaikan harga emas dipengaruhi pelemahan indeks dolar AS terhadap mata uang utama. Di pasar uang, mata uang Yen Jepang terhadap dolar AS menguat.

“Kami melihat mata uang utama lebih tinggi daripada dolar AS,” kata President of World Markets di EverBank, Chris Gaffney.

Harga emas diperkirakan tetap akan menguat karena terimbas hasil rapat Bank Sentral AS atas kenaikan inflasi dan tetap komitmen menaikkan suku bunga acuan.

“FOMC  atauThe Federal Open Market Committee yakin ekonomi AS akan menguat dan target inflasi akan tercapai,” ujar Analis Commerzbank, Carsten Fritsch.

Harga emas menguat didorong respons terhadap hasil risalah rapat bank sentral Amerika Serikat  atau the Federal Reserve  atau The Fed  pada Januari lalu

Dari hasil rapat the Federal Reserve menunjukkan kalau diharapkan adanya kenaikan inflasi.

Risalah hasil rapat the Federal Reserve menunjukkan beberapa pejabat kalau pejabat the Federal Reserve memperkirakan inflasi akan meningkat pada di tahun ini.

Akan tetapi, sejumlah pejabat khawatir kalau ekonomi tumbuh terlalu cepat.Risalah tersebut juga tidak menunjukkan para pejabat yang mendorong lebih dari tiga kenaikan suku bunga .

Harga emas menguat didorong respons terhadap hasil risalah rapat bank sentral Amerika Serikat  atau the Federal Reserve

Dari hasil rapat the Federal Reserve menunjukkan kalau

Risalah hasil rapat the Federal Reserve menunjukkan beberapa pejabat kalau pejabat the Federal Reserve memperkirakan inflasi akan meningkat

Di awal pekan ini, harga emas sempat terhenyak dari puncaknya bersamaan dengan terjadinya penguatan terhadap mata uang milik Amerika Serikat itu.

Harga emas dunia sedikit melemah dipicu kenaikan dolar Amerika  dan pasar saham dunia baru-baru ini di tengah kekhawatiran tentang inflasi,” tulis laman bisnis terkenal duania “bloomberg” waktu itu.

Menurut laman terkenal itu,  harga emas di pasar spot turun nol koma sebelas persen per ounce. Emas berjangka AS untuk kontrak April juga tergelincir lebih setengah  persen

Harga emas naik dua koma empat persen pekan lalu dan menjadi kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari lima bulan.

“Emas berjalan relatif baik di lingkungan berisiko bagi safe haven di emas, ini sedikit dipertanyakan namun banyak yang harus dilakukan dengan pergerakan dolar yang telah pulih,” kata Ahli Strategi Komoditas ABN AMRO Georgette Boele.

Indeks dolar, yang mengukur mata uang AS terhadap sekeranjang mata uang, naik 0,1 persen setelah turun satu koma empat  persen pada minggu lalu.

Investor tampak mengumpulkan emas pada pekan lalu dipicu kekhawatiran tentang inflasi AS.

Di pasar saham, bursa dunia memperpanjang pemulihannya, sementara minyak beringsut lebih tinggi.

“Imbal hasil obligasi sepuluh tahun di seluruh dunia sudah naik, itu membuat harga emas sedikit turun,” kata Walter Pehowich, Wakil Presiden Eksekutif bidang Layanan Investasi di Dillon Gage Metals.

Harga emas diperkirakan akan terus mengalami penguatan pada perdagangan pekan ini seiring dengan tren pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat .

Harga emas menemukan momentum baru pada pekan lalu karena nilai tukar dolar AS tidak mampu menembus angka resistance dan kemudian terdorong ke level terendah dalam tiga tahun.

Menurut beberapa analis, pelemahan dolar AS menjadi tenaga yang paling signifikan bagi harga emas.

Pada penutupan pekan lalu, harga emas berjangka berada di angka US$ 1.355 per ounce, naik tiga persen jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya.

Ini merupakan presentase kenaikan yang terbaik dalam dua tahun.

“Dengan adanya ketidakpastian atau bisa disebut pelemahan nilai tukar dolar AS maka sudah pasti orang akan menyukai emas,” jelas Neil Mellor, analis senior BNY Mellon, dikutip dari Kitco.

Mellor melanjutkan sebenarnya ada sentimen negatif pada dolar AS setelah Kongres AS menyetujui adanya aksi pemotongan pajak perusahaan maupun pribadi.

Dengan adanya pengurangan pajak tersebut besar kemungkinan defisit anggaran pemerintah semakin besar sehingga memberikan beban kepada nilai tukar dolar AS.

“Sekarang bertambah dengan adanya ancaman inflasi naik dan ekonomi melambat,” tambah dia.

Analis FXTM Jameel Ahmad melanjutkan, ke depan fokus pelaku pasar beradadi kebijakan di wilayah Eropa. Ada kemungkinan kebijakan bank sentral yang agresif sehingga berpengaruh kepada harga emas.

Namun ternyata tidak semua analis memberikan pandangan yang positif kepada harga emas. “kenaikan harga emas sudah terlalu tinggi dan kemungkinan sudah overbought,” kata Colin Cieszynski, kepala analis SIA Wealth Management.

Komentar