Geliat Emas dari Dasar Jurang Terendah

Penulis: Darmansyah

Rabu, 22 Juli 2015 | 09:49 WIB

Dibaca: 0 kali

Setelah mencapai dasar jurang terendah enam belas jam lalu, hari ini, Rabu pagi WIB, 22 Juli 2015, harga emas global ditutup lebih tinggi karena ditopang pelemahan dolar Amerika Serikat.

Seperti dikutip “nuga” dari kantor berita Cina, “xinhua,” Rabu menjelang siang, 22 Juli 2015, harga emas di pasar spot naik tipis dan berada pada angka US$ 1.098,58 per ounce.

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang terjun bebas dari level tertinggi tiga bulan akibat aksi ambil untung.

Penguatan dolar AS membawa untung lebih bagi investor non-AS untuk menjual aset dalam mata uang dolar dan melemahnya greenback membuat emas lebih murah bagi konsumen yang menggunakan mata uang lainnya.

Namun para pedagang tetap gelisah karena adanya aksi jual besar-besaran di China dan melemahnya permintaan dari India.

Pada perdagangan kemarin, harga emas turun lebih dari tiga persen. Hal itu merupakan kerugian harian terbesar sejak September dua tahun lalu.

Logam mulia diperdagangkan di level kritis sekitar US$ 1.100 per ounce yang merupakan level support.

Harga emas berjangka untuk pengiriman Agustus juga turun menjadi US$ 1.103,5 per ounce, terlemah sejak Februari lima tahun lalu.

Sehari sebelumnya harga masih dalam tekanan meskipun harga masih bergerak di atas penutupan kemarin. Sentimen kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat memberikan tekanan pada harga emas.

Para pedagang beralih ke aset-aset yang lebih menguntungkan menjelang peluang kenaikan suku bunga The Fed.

Peningkatan suku bunga Fed mendorong investor meninggalkan dari emas dan beralih ke aset-aset dengan imbal hasil, karena logam mulia tidak mengenakan suku bunga.

Ini merupakan kenaikan suku bunga The Fed pertama sejak Juni sembilan tahun lalu, sebelum dimulainya krisis keuangan AS. Analis awalnya memperkirakan suku bunga akan naik pada Juni, namun karena data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan, harapan itu didorong kembali ke September.

Pergerakan emas dan dolar AS biasanya berlawanan arah. Jika dolar AS naik, harga emas akan jatuh karena emas yang diukur dengan dolar menjadi lebih mahal bagi investor.

Gejolak pasar yang tiba-tiba dilatar-belakangi spekulasi atas kenaikan suku bunga di AS dan Inggris, sehingga membuat daya tarik safe haven emas sedikit meredup.

Pasar mengatakan aksi sell-off pada emas setara dengan tiga puluh kali lipat perdagangan normal di bursa Shanghai, dan mengirim harga emas meyentuh level untuk membatasi kerugian yang dapat memicu penjualan otomatis.

Dengan semua masalah sekarang di luar Yunani dan China, tekanan ekonomi di Kanada hingga resesi yang “membingungkan” di Brasil telah membuat emas menjadi perhatian yang besar pada awal perdagangan Senin.

Di AS, tingkat suku bunga ditetapkan oleh Federal Reserve. Federal Reserve AS telah menyarankan agar suku bunga harus naik pada akhir tahun ini, sementara itu Bank of England juga mengisyaratkan bahwa suku bunga Inggris bisa mulai naik sekitar awal 2016.

Nilai dolar AS yang biasanya berhubungan terbalik dengan harga komoditas. Ketika dolar menguat terhadap mata uang utama lainnya maka harga komoditas seperti emas mengalami penurunan.

Ketika dolar melemah, harga komoditas pad aumumnya akan bergerak lebih tinggi. Alasan utama untuk ini adalah karena sebagian besar komoditas yang diperdagangkan secara bebas di pasar internasional menggunakan dolar AS sebagai pembandingnya.

Komentar